
Siang nya setelah mengantarkan semua keluarga nya, Bu Wati mengajak Sania dan juga Arlan untuk pulang ke rumah nya. Mereka bertiga kini tengah berada di dalam mobil menuju rumah besar Sania dan juga Karan sang kakak.
''Bunda, setelah ini Sania akan ikut Mas Arlan ke apartement nya, kita akan tinggal di sana,'' Ucap Sania dengan hati hati, Sania merubah posisi diduk nya menjadi menghadap ke belakang.
''Iya nak, Bunda hanya bisa mengatakan jangan lupakan sholat mu dan juga jaga kesehatan mu juga, kalau ada apa apa segera hubungi Bunda, walaupun kamu sudah bersuami, tapi Bunda masih Ibu mu sayang?'' jawab Bu Wati yang di angguki Sania, puteri kecil Bu Wati yang selalu setia menemani kemana saja beliau pergi, tapi kini dia sudah menikah dan juga akan tinggal bersama suami nya di apartement.
''Sebagai Ibu aku hanya bisa mengingat kan sedikit kepadamu nak?'' Bu Wati menjeda omongan nya.
''Jadilah istri yang penurut pada suami mu, dan tetap lah taat akan agama. Dan jangan lupa kewajiban sebagai seorang istri,'' pesan Bu Wati yang langsung di angguki Sania.
''Bunda tenang saja, kalau Arlan bekerja? Arlan akan mengantarkan Sania ke rumah Bunda kok, kasian kalau harus di apartement sendirian,'' sela Arlan.
''Bener banget itu nak Arlan, kamu harus mengantarkan puteri Bunda ke rumah, biar Bunda yang menemani dia jikalau kamu sedang bekerja,'' sahut sang Bunda dengan senang.
''Arlan janji Bunda?'' gumam Arlan melirik ke arah sang istri yang kini tengah menatap nya, dengan penuh tanda tanya.
''Terus kerjaan di kantor cabang bagaimana Mas, di sana kan masih banyak yang harus Sania kerjakan dan juga belum selesai juga,'' Ucap Sania tiba tiba.
''Masalah itu sudah di tangani oleh Om Adzan dan juga Om Fabian. Jadi kamu jangan khawatir lagi oke?'' jawab Arlan membalas senyuman istri nya.
''Och syukurlah kalau begitu, jadi Bunda bisa tenang kalau puteri Bunda dan juga menantu Bunda akhirnya kerja di dekat sini,'' ujar Bu Wati bahagia, senyuman nya mengembang di bibir merah nya.
''Iya Bunda, Arlan juga senang ketika di beritahu semalam sama Om Arzan, beliau mengatakan kalau di kantor cabang sudah ada penggantinya, dan itu juga orang kepercaya'an Om Arzan sendiri,'' balas nya, Arlan menatap Ibu mertua nya melalui kaca spion di atas kemudi nya.
Setelah sampai di depan rumah Arlan membuka seatbelt nya dan langsung keluar dari mobil nya, dia berjalan memutari mobil nya untuk membuka pintu mobil istri dan juga sang mertua.
''Terima kasih nak Arlan?'' Ucap Bu Wati lembut.
''Sama sama Bunda, Bunda seharus nya nggak sungkan dengan perlakuan Arlan, karena Bunda juga orang tua Arlan sekarang,'' balas Arlan lembut.
__ADS_1
Sedangkan Sania sudah berada di dalam pelukan suami nya ketika sudah berada di luar mobil nya. ''Kalian istirahat lah dulu, dan kamu jangan lupa banyakin istirahat juga sayang, kamu juga harus rutin minum obat nya,'' sang Bunda mengingat kan puteri kecil nya.
''Bunda nggak usah khawatir lagi, kalau sampai Sania tidak patuh sama Arlan, Arlan akan cubit pipi istri Arlan,'' canda Arlan seraya melangkah kan kakinya masuk ke dalam rumah nya.
Bu Wati sendiri langsung masuk ke dalam kamar nya yang berada di lantai bawah, sedangkan Sania dan juga Arlan saling menatap satu sama lain nya, ''Kayak nya Bunda sangat lelah hari ini sayang, lebih baik kita ke kamar kamu sekarang?'' ajak Arlan melangkah menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar Sania.
''Mas Arlan,''
''Hmm,''
''Kamar kita Mas,'' Ujar Sania tak Terima suami nya mengatakan hanya kamar nya.
''Iya sayang?'' jawab nya merangkul Sania dan di bawa masuk ke dalam kamar nya.
Setelah masuk ke dalam kamar nya, Sania segera mengambil koper yang ada di belakang lemari pakaian nya. Sania mulai merapikan baju baju yang akan iya bawa ke apartement suami nya, Sania akan menetap di apartement seperti yang di katakan oleh suami nya beberapa hari yang lalu.
''Tapi aset aset Sania-, ''
''Sudah, kamu jangan berpikir yang aneh aneh dech, kamu itu sudah menjadi istri ku, dan seluruh tubuh mu sudah menjadi milikku sekarang, jadi apa salah nya, aku mengetahui aset aset yang kamu katakan barusan?'' potong Arlan membuat Sania merasa sangat malu, karena ucapan suami nya yang mengatakan seluruh tubuh nya adalah milik nya.
Bahkan mungkin sebentar lagi Arlan akan meminta haknya sebagai suami dari Sania, tapi apakah Sania sudah siap memberikan hak suami nya malam ini, sedangkan dia sendiri masih malu mengobrol banyak, apalagi berciuman dan memberikan hak nya nanti malam, pikir Sania dalam hati.
''Kamu sedang ngelamunin apa sich sayang, gitu banget wajah nya,'' tanya Arlan tiba tiba membuyarkan lamunan nya. ''Mikirin apa sich sayang? apa kamu lupa uang di katakan Bunda saat di rumah kakek, kalau kamu nggak boleh terlalu banyak mikirin sesuatu yang akan membuat kamu down,'' tambah Aelan mengingat kan sang istri.
''Mas, apa Mas Arlan akan meminta hak nya secepat itu pada Sania,'' tanya Sania yang kini merasa lega, karena kata kata yang ada di otak nya sudah di tanyakan langsung oleh nya.
''Jadi kamu mikirin masalah itu, kalau kamu belum siap, aku tak akan meminta nya untuk saat ini, tapi sunggu aku tak bisa menahan dalam waktu yang sangat lama,'' gumam Arlan dengan nada lirih nya, membuat Sania cekikikan melihat sang suami yang bertingkah seperti anak kecil tersebut.
''Sania kan cuma bertanya saja Mas,'' jawab nya tanpa merasa bersalah kepada Arlan.
__ADS_1
''Sudahlah, lebih baik kita istirahat sekarang, nanti malah kemaleman lagi pergi ke apartement nya,'' tukas Arlan yang sudah kesal dengan istri yang tak merasa bersalah kepada nya.
Arlan membaringkan tubuh nya memunggungi Sania, dan di sanalah Sania merasa bersalah karena sudah mentertawakan nya, Sania mencoba berbaring dengan menatap langit langit kamar nya, air mata nya sudah membanjiri kedua pipi nya.
''Mas Arlan, maafin Sania yang belum bisa menjadi seorang istri yang sempurna bagi mu,'' Ucap Sania lirih, Sania juga mengganti posisi tidur nya menjadi memunggungi suami nya, tubuh nya bergetar dengan tangisan yang semakin menjadi jadi, namun tanpa ada nya suara dari bibir nya.
Arlan yang faham kalau istri kecil nya tengah menangis mengubah posisi nya, Arlan memeluk Sania dengan erat seraya menenggelamkan wajah nya ke curuk leher sang istri.
''Sudah jangan menangis lagi, aku hanya bercanda kok? jangan di ambil hati ya,'' bisik Arlan tepat di telinga Sania, Sania yang mendapatkan perlakuan sepeti itu meremang karena hembusan nafas dari suami nya.
''Kita istirahat sekarang, nanti kita akan ke apartement,'' lanjut Arlan mendusel dusel kan kepalanya ke leher Sania yang tidak mengenakan hijab nya, karena permintaan suami nya kalau di dalam kamar harus membuka hijab nya.
''Mas Arlan nggak marah sama pertanya'an Sania tadi?'' tanya Sania masih merasa bersalah kepada suami nya.
''Sudah lah sayang? Mas nggak bisa marah sama kamu, jadi kamu tenang saja,'' Arlan memejamkan mata nya di curuk leher sang istri, sedangkan tangan nya masih melingkar di perut Sania, Sania mengambil tangan Arlan dengan lembut seraya menciumi tangan suaminya yang sudah merawat nya dia hari ini.
''Terima kasih Mas, kamu sudah sabar merawat ku selama dua hari ini,'' gumam Sania pelan, namun gumaman Sania masih terdengar jelas di telinga Arlan, karena dia masih belum terlalu nyenyak dalam tidur nya.
...****************...
Malam nya
Setelah selesai sholat maghrib, Sania dan Arlan berpamitan kepada Bunda nya, karena Karan dan Pinky masih belum pulang dari menghadiri pesta kolega dari Karan.
Sang Bunda mencoba untuk tetap tegar di hadapan kedua pengantin baru tersebut, Bu Wati menahan agar air mata nya tidak jatuh begitu saja di hadapan puteri kecil nya.
''Bunda, Sania dan Mas Arlan pamit untuk tinggal di apartement, Bunda sehat sehat ya, jangan lupa makan yang teratur, Sania dan Mas Arlan janji akan sering menengok Bunda di sini,'' kata Sania memeluk sang Bunda, Arlan sendiri masih setia menunggu istri nya berpelukan dengan mertuanya.
''Iya sayang, kamu hati hati di sana ya, jangan bandel dan rutin minum obatnya,'' pesan sang Bunda.
__ADS_1