Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 73 Kemarahan Sania


__ADS_3

Karan melepaskan tangan Pinky, Pinky pun segera turun dari mobil Karan dan menutup nya kembali, setelah itu Pinky melangkah pergi tanpa melihat ke arah Karan yang masih menatap nya.


''Kenapa sikap Pinky seperti itu sekarang? apa aku salah ngomong ya,'' pikir nya dan menyalakan mesin mobil nya, Karan memutuskan untuk kembali ke restoran karena Ibu dan Sania masih berada di restoran juga.


''Lebih baik aku kembali ke restoran dulu, setelah itu aku akan pergi ke rumah kakek dan tante Citra. Sudah lama aku nggak bertemu dengan tante, apa si bontot sudah gede ya,'' Gumam Karan di sepanjang jalanan Jakarta.


Di sisi lain Sania dan Bu Wati sedang bercerita tentang keseruannya bersama Pinky hari ini, ''Ibu tau nggak, tadi aku makan di cafe dan aku menyuruh kak Pinky yang membayar nya? so... Sania lupa bawa uang cash,'' Ucap Sania yang selalu menceritakan keseharian nya bersama Pinky, walau begitu Sania juga ada yang harus di tutupi sama Ibu nya, yakni masalah kebenaran tentang Identitas aslinya.


''Ngomongin aku ya,'' seru Karan tiba-tiba membuat Sania dan Bu Wati menghentikan obrolan nya.


''Kak Karan kebiasaan dech! kayak jailangkung sana sich,'' jawab Sania memegang dadanya yang memburu karena saking kagetnya.


''Enak saja ngatain orang jailangkung, lho thu cucu nya mak Lampir,'' protes Karan yang tak mau di katain jailangkung. 'Kan nggak lucu juga, masa orang ganteng kayak gue harus di panggil jailangkung, dasar cucu nini Lampir,' Gumam Karan dalam hati nya.


''Dek ambilin makanan dong? laper nich, lagian Ibu jalan jalan mulu kerjaan nya,'' Ujar Karan mendudukkan di tempat yang tadi ia duduki.


''Wani piro?!'' seru Sania membuat Karan beranjak dari duduk nya dan berjalan ke dapur sendiri.


''Rupanya sekarang kak Karan mulai pelit Bu,'' gerutu Sania yang sudah di tinggal pergi oleh sang kakak.


''Lagian kamu sich dek? kakak kamu thu capek, ech malah di suruh nganter Pinky? giliran kamu yang di suruh malah minta bayaran,'' sahut Bu Wati yang sukses membuat Sania membelalakkan matanya karena sang Ibu malah membela kakak nya.


''Ibu? Sania juga anak Ibu lho, masak cuma kak Karan saja yang di bela sich? sedangkan aku nggak pernah di bela,'' protes Sania dan pura pura ngambek.

__ADS_1


''Siapa yang membela sich sayang, maksud Ibu kamu harus sportif, tadi kamu nyuruh kakak kamu dan dia mau di suruh kamu tanpa menolak, sedang kan giliran kakak kamu nyuruh malah kamu yang nggak mau dan minta bayaran juga.'' Ucap Bu Wati memperjelas ucapan nya pada puteri bungsunya.


''Sudah sudah nggak usah berdebat lagi, aku sudah makanan sendiri kok? dan setelah selesai makan kita akan pergi ke rumah kakek, Karan sudah kangen sama tante Cinta dan juga Mikaela, pasti dia sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik seperti mama nya,'' Ucap Karan yang baru saja datang dan langsung melerai perdebatan panas antara sang Ibu dengan Sania adik nya.


''Kita pulang saja dulu kak, Sania mau mandi dan ganti baju juga,'' sahut Sania dengan nada manjanya.


''Iya iya kita ke rumah dulu, kan hadiah untuk tante Cinta dan Mikaela ada di rumah?'' balas Karan sembari menyuapkan makanan nya ke dalam mulut nya


''Hadiah buat Sania ada kan kak?'' tanya Sania bergelayut manja.


''Lupa!'' jawab Karan singkat.


''Kak Karan githu sama adik nya sendiri, sedangkan Mikaela dapat hadiah? Sania malah di lupain,'' Sania melepaskan rangkulan nya oada sang kakak karena kecewa mungkin.


''Nggak usah!'' jawab Sania ketus dengan melipat kedua tangan nya yang di letakkan di depan dada nya.


''Githu saja marah! malu sama Mikaela kalau kamu kayak gini?'' seru Karan dan terus menyuapkan makanan nya.


Setelah beberapa menit akhirnya makanan yang ia makan akhirnya sudah habis tak tersisa, kini hanya tinggal piring, sendok dan garpu nya saja.


''Kak...? kak Pinky bagaimana, dia kan nggak bawa mobil ke kampus nya?'' tanya Sania mengingat Pinky tadi di antar oleh kakak nya.


''Tenang saja, mobil nya sudah ada di kampus nya kok? orang Om Arzan sudah mengantarkan mobil Pinky ke sana?!'' jelas Karan.

__ADS_1


''Kok cepat banget sich kak? bukannya kak Karan juga baru sampai di sini ya,'' tanya Sania yang sangat penasaran.


''Ya cepat lah, kan anak buah Om Arzan emang ter the best kalau masalah di suruh suruh, apalagi kalau di suruh cari suami buat kamu dek?'' Ucap Karan asal.


''Ish...'' dengus Sania mendengar ucapan dari sang kakak.


''Sania mau buka usaha dulu, bukannya buru buru menikah? lagian kakak saja belum nikah! masa ia Sania harus nikah di usia muda seperti sekarang ini,'' Ucap Sania panjang lebar membuat Bu Wati mengerutkan keningnya.


''Sudah, kalau kalian terus berdebat di sini yang nada semua tamu bakalan pergi dari restoran ini? coba kalian tengok ke belakang kalian, semua para tamu menatap kalian berdua, mungkin mereka pikir kalian sedang bertengkar atau bahkan mungkin mereka berpikir kalau kalian adalah pasangan yang sedang kasmaran, terus bertengkar karena nggak di kasih uang bulanan,'' Ucap Bu Wati membuat Karan dan Sania melingo melihat sangat Ibu yang menampakkan wajah santai nya.


''Ibu...!'' pekik Karan dan juga Sania yang hampir bersamaan, dan itu semua tak lepas dari pandangan para tamu yang datang ke restoran nya.


''Maaf, maaf, maaf sudah bikin kalian tak nyaman dengan tingkah kamu berdua,'' Ujar Sania pada para tamu yang datang ke restoran nya, untuk makan atau sekedar ngopi doang.


''Para tamu yang mengerti langsung mengangguk kan kepala nya ke arah Sania.


''Ini semua gara gara kak Karan dan juga Ibu, membuat semuanya pada melihat ke arah kita, sani kan malu tau kak?'' bisik Sania pada sangat kakak.


''Kok malah di limoqh kan ke aku sich dek? kan Ibu juga,'' seru Karan yang Terima di salah kan.


''Ich... kak Karan budek atau apa sich? pulang dari luar negeri bukan nya tambah pintar malah makin oon saja!'' sarkas Sania mengusap hidung nya yang mulai gatal.


''Aku nggak budek kok, apalagi tuli? tapi aku hanya pura pura tuli dan cuma mengetes kesabaran kamu saja, untuk menghadapi sikap konyol ku yang akan terjadi setiap hari, bahkan mungkin setiap jam yang akan menjaili kamu,'' jawab Karan pelan di sertai seringaian menakutkan.

__ADS_1


''Jangan macam macam ya kak, atau aku aduin semuanya pada kakek, biar nyahok lho!'' Balasnya yang sudah tak bisa menahan amarah nya, dia pun mulai beranjak dari tempat duduk nya, sedang Karan terkekeh melihat sang adik yang sudah pergi.


__ADS_2