Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 85 Pertengkaran Kirana


__ADS_3

Para orang tua hanya bisa pasrah melihat anak nya di perlakukan seperti itu, tapi tuan Arzan tak sesadis sang mertua yang akan membalasnya dengan nyawa orang tersebut.


''Tuan? saya mohon ampuni puteri ku. Biarkan saya saja yang menghukum nya tuan,'' mohon Mama Silvia dengan deraian air matanya.


Silvia sedih melihat Mama nya memohon untuk nya, dan kini dia tengah menyesali perbuatannya hanya demi untuk menjadi teman Gayatri, Silvia rela di suruh apapun oleh nya, namun hari ini, detik ini dia menyesali sekian perbuatan nya, yang hanya akan merugikan diri sendiri


''Pa!!'' teriak Gayatri lagi. ''Pa, Gayatri tak pernah melukai ponakan tuan ini, mungkin tuan ini salah paham sama Gayatri!'' teriak Gayatri lagi, tanpa merasa bersalah sedikit pun.


''Diamlah Gayatri!'' sarkas sang Papa melihat puteri nya yang masih begitu keras kepala.


''Tapi Pa?'' lagi lagi dan lagi Gayatri menjawab teriakan Papa nya, sehingga Papa nya geram dan menghampiri puteri nya dan langsung menampar nya dengan sangat keras.


Plaaaakkk... Bunyi tamparan begitu menggema di ruangan tersebut. Gayatri meringis kesakitan atas sikap Papa nya, Papa nya tak pernah sekalipun menampar Gayatri, baru sekali ini saja karena baginya dia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Karena perusahaan Papa nya Gayatri tak kan bisa berjalan tanpa suntikan dana dari CG grub yang kini di pegang oleh Karan.


''Sekarang saya akan memperkenalkan ponakan saya yang sudah kalian celakai!'' Ucap nya menatap anak buah nya agar menghidupkan layar yang menampakkan wajah ponakan tuan Arzan yang kemarin di lukai oleh Gayatri dan juga Silvia.


''Dia bukan ponakan tuan! dia hanya sampah yang kebetulan berkuliah di kampus Gayatri,'' Ujar Gayatri yang tak mau diam sama sekali.


''Ya, sampah inilah ponakan saya, anak dari Candra Sanjaya dan dia juga cucu dari Sanjaya, pemilik perusahaan CG Grub dan juga restoran,'' jelas tuan Arzan pada semua nya, Gayatri melotot tak percaya kalau Sania adalah cucu dari Sanjaya.


Begitu juga dengan Silvia, dia menutup mulut nya karena masih tak percaya, karena yang mereka celakai adalah cucu dari orang besar.


''Sekarang kalian sudah tau kan? apa salah mu saat ini,'' pekik tuan Arzan marah, namun dia tak mungkin menyiksa seorang gadis yang sudah berbuat salah pada ponakan nya.


''Lebih baik kalian cepat bawa anak anak ku dari sini, sebelum saya berubah fikiran!'' Ucap tuan Arzan dingin dan dia pun melangkah pergi menuju ke mobil nya bersama dengan asisten pribadi nya.


''Tuan? kenapa tuan melepaskan mereka begitu saja, tanpa menyiksa terlebih dahulu,'' tanya sang asisten.

__ADS_1


''Orang tuanya yang akan menyiksa mereka, kita tunggu saja dulu kabar nya?'' jawab tuan Arzan menarik sudut bibir nya.


Tuan Arzan memutuskan untuk pulang ke rumahnya, untuk segera bertemu dengan anak bungsu dan juga istri nya.


...****************...


Sedangkan di tempat lain, Kirana sedang bertengkar sama Papa nya, karena menurut dia mau sampai kapan harus hidup miskin.


''Pa! Kirana sudah nggak sanggup hidup miskin, semua orang meninggalkan kita di saat kita miskin seperti ini!'' pekik Kirana marah, karena mereka selama beberapa tahun ini masih saja miskin.


''Kirana! ini semua salah mu, bukan salah Papa. Perusahaan Papa juga bangkrut karena kamu yang angkuh dan sombong itu! kamu sendiri yang menghancurkan Kirana!'' jawab Pak Lukman tak terima dengan ucapan puteri nya.


''Kita sekarang hanya bisa seperti ini saja Kirana, kita bisa menyambung hidup karena warung didepan itu,'' lanjut pak Lukman menjelaskan pada puteri angkuh nya.


''Iya, tapi Kirana capek Pah? Kirana capek di hina terus sama orang orang di sana, telinga Kirana panas dengernya,'' sarkas Kirana meninggalkan Papa nya yang masih terdiam di tempat nya.


''Kirana! mau kemana kamu!'' teriak pak Lukman namun teriakan dari Papa nya tak menghentikan langkah nya untuk pergi dari rumah gubuk nya. Kirana selalu bilang kalau yang di tempatinya adalah gubuk bukan rumah.


''Kak Ibel sudah lama nunggu Kirana?'' tanya Kirana yang kini tengah berdiri di depan teman nya.


''Ya lumayan lah, kamu sangat lama sampai nya. Kamu bilang butuh pekerjaan? tapi kamu datang nya malah lama lagi,'' jawab Ibel santai, yang kini tengah menatap wajah dan juga baju Kirana yang kucel dan sudah tak terlihat corak gambar nya.


''Lebih baik kamu sekarang ikut aku dulu, kita ke salon dan aku akan membelikan kamu baju yang sangat bagus buat kamu pakai malam ini,'' tambah nya membuat Kirana merasa senang.


''Beneran kak Ibel? kak Ibel nggak bercanda kan?'' tanya Kirana memastikan kalau teman barunya tidak lah menge prank dia.


''Beneran lah, mana mungkin gue bohong sama kamu, sekarang kamu adalah teman ku. Jadi sudah sewajarnya bukan? teman membahagiakan teman walau hanya bisa satu kali dua kali saja sich,'' jawab Ibel membuat Kirana semakin yakin kalau Ibel adalah teman terbaik nya.

__ADS_1


'Ternyata aku nggak salah pilih untuk berteman dengan dia, dia gampang banget gue bohongin. Aku nggak akan beneran tulus berteman dengan kamu Ibel? aku hanya akan morotin uang kamu saja,' Ucap kira Kirana dalam hati sembari mengangkat sudut bibir tipis nya.


'Selangkah lagi Kirana, aku akan berhasil membuat diriku kaya, karena kamu adalah aset ku saat ini. Mau minta apapun akan aku turuti, tapi nanti? uang itu akan mengalir deras melalui kamu?' Ibel juga bergumam dalam hatinya, merencanakan rencana apa yang bagus untuk mengelabui Kirana.


''Sudah lah ayo berangkat sekarang? entar malah kemaleman lagi dan salon nya otomatis tutup dong,'' ajak Ibel membukakan pintu mobil untuk Kirana.


''Terima kasih kak?'' Ucap Kirana tersenyum, ketika melihat Ibel membukakan pintu mobil untuk nya.


''Sama-sama Kirana,'' jawab Ibel memutar tubuh nya untuk duduk di belakang kemudi mobil nya.


Mobil Ibelin melaju dengan kecepatan sedang, agar Kirana bisa melihat lihat di sekitar pinggiran kota.


''Kota ini semakin bagus saja ya kak?'' tanya Kirana memulai obrolan nya.


''Iya, emang nya kamu kemana saja kok baru sadar sekarang? kalau kota ini sangat bagus dan juga indah di saat malam hari?'' jawab Ibel sekilas menatap Kirana yang terus menerus mengembangkan senyum nya.


''Kemarin aku sibuk jualan bantuin Papa kak Bel? tapi selama beberapa tahun aku bantuin Papa, nggak ada kemajuan sama sekali membuat aku bosan dan males untuk membantunya kembali,'' sambung Kirana memperlihatkan mimik sedih nya.


''Kamu harus sabar? dan sebentar lagi kamu bakalan menjadi orang sukses, yang artinya kamu bakalan pegang uang yang sangat banyak?'' seru Ibel memanas manasi Kirana, agar dia mau ikut bekerja di tempat nya.


''Bener itu kak? aku sudah bosan hidup miskin selama beberapa tahun ini, aku ingin kembali seperti dulu. Di saat menginginkan sesuatu selalu ada, nggak kayak sekarang harus nunggu lama! sampai-sampai aku bosan untuk menunggu terus karena itu semua tak pernah tercapai aku beli,'' cerita Kirana sedih. Kirana memang orang kaya dulu nya jadi ketika perusahaan Papa nya bangkrut, Kirana mengalami stres dan harus menjalani perawatan agar dirinya bisa kembali sehat seperti dulu, sampai akhirnya rumah beserta barang barang berharga lain nya di jual oleh sang Papa untuk berobat Kirana, puteri satu satu nya, namun setelah Kirana benar-benar sembuh dia malh di kejutkan dengan kehidupan miskin yang menanti nya.


Ketika kita sedang berada di atas? kita bisa membeli ini itu sesuka hati kita. Tapi kita jangan lupa untuk menoleh ke bawah, karena tak selama nya kita berada di atas terus. Ada kalanya kita di atas, dan ada kalanya kita di bawah. Hidup di dunia ini bagai roda yang berputar, karena harta, tahta dan kekuasaan hanya titipan semata, ketika Allah ingin mengambil nya, maka Allah akan mengambil semua barang yang di titipkan pada orang tersebut.


Maka kita harus belajar untuk ikhlas menerima, dan sabar dalam menjalani kehidupan di tahun yang akan datang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2