Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 156 Candaan di pagi hari


__ADS_3

Matahari mulai menampakan sinar nya, Arlan yang tertidur pulas merasa keganggu dengan silaunya sinar matahari yang masuk ke dalam kamar nya melalui celah celah jendela kamar nya.


Sekilas Arlan meraba sisi tempat tidur nya, meraba raba kasur yang semalam di tempati oleh sang istri, Arlan membuka mata nya ketika di brasa tempat tidur istri nya kosong.


Dengan tergesa-gesa dia segera mencari keberada'an Sania, di ketuk nya pintu kamar mandi namun tak ada juga sahutan dari yang punya nama.


''Sania, apa kamu di dalam sayang?'' panggil Arlan sambil mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.


Arlan memutar knop pintu di depan nya, namun yang ia cari tidak ada di sana. Kemudian Arlan keluar dari kamar nya mencari di setiap kamar yang ada di sebalah nya. Namun tetap tidak ada, bahkan di dapur pun Sania tidak nampak sama sekali. Arlan yang frustasi dengan keberada'an istri nya pun menjambak rambut nya secara kasar, namun tak lama setelah itu pintu apartemen di ketuk seseorang dari luar.


Dengan langkah lesu Arlan melangkah kan kakinya menuju ke pintu di mana pintu tersebut ada yang ngetuk.


''Siapa sich pagi pagi gini yang datang!'' gerutu Arlan kesal, namun setelah membuka pintu apartemen nya Arlan langsung memburu istri kecil nya.


''Sayang, kamu pergi kemana pagi pagi gini,'' bisik Arlan dengan nada rendah nya.


''Kamu kenapa sich Mas, apa Sania mengganggu tidur Mas Arlan?'' tanya Sania kepada suami nya yang bersikap seperti anak kecil yang tengah menunggu kedatangan ibunya.


''Kamu tau nggak, dari tadi aku mencari mu kemana mana, tapi kamu tidak ada?'' jawab nya lirih, namun Arlan masih setia memeluk istri kecil nya seakan-akan tak mau melepaskan pelukan tersebut.


''Mas, lepasin dulu pelukan nya,'' kata Sania mencoba melepaskan pelukan suami nya.


''Kenapa? kamu nggak suka kalau Mas peluk seperti ini,'' tanya Arlan sedih.


''Bukan nya gitu, Sania mau masak? nanti keburu siang ke rumah sakit nya,'' tutur nya lembut seraya mengusap bahu kekar suami nya. Sania nampak mengangkat barang belanja'an nya ke atas.


''Barusan bilang apa?'' tanya Arlan takutnya dia salah dengar kalau istri nya bilang akan ke rumah sakit, apa penyakit dia kambuh, pikir Arlan.

__ADS_1


''Sania mau masak Mas?'' Sania menekan kan kata masak kepada suami di depan nya.


"Bukan yang itu sayang?" balas Arlan tak menyetujui jawaban dari istri nya.


''Kata yang mana lagi Mas,'' seru Sania yang sudah pegal karena terus saja berdiri dari tadi.


''Kamu sakit?'' tanya Arlan tiba-tiba.


''Sania sehat sehat saja kok?'' jawab nya sembari mengernyit kan dahinya dengan pertanya'an yang di lemparkan oleh suami tampan nya itu.


''Terus kenapa, kamu malah bilang kalau ingin pergi ke rumah sakit,'' tanya Arlan sekali lagi.


''Mas Arlan lupa, kalau hari ini Sania harus cek up kerumah sakit?'' jawab Sania dengan lembut seraya melangkah masuk ke dalam apartemen suaminya. Karena pelukan Arlan yang sudah terlepas dari tubuh kurus nya.


''Kok aku lupa sich sayang?'' kata Arlan mengusap wajah nya dengan kasar ketika melupakan hari di mana sang istri harus cek up kesehatan nya.


''Lagian kamu juga bikin Mas khawatir, pagi pagi sudah ngilang begitu saja dari kamar, di cari malah nggak ada di mana mana?'' gerutu Arlan yang masih menatap istri kecil nya yang tengah membersihkan sayur untuk dia masak.


''Sania ingin bangunin Mas Arlan kasihan, soalnya tidur nya sangat pulas? jadi Sania jalan kaki ke jalan depan, sekalian olahraga juga?'' balas Sania dengan senyum yang mengembang di kedua bibir nya.


''Jalan depan?'' Arlan mengingat ngingat di mana adab tukang sayur di depan apartemen nya. ''Jalan depan yang di ujung sana!'' pekik Arlan setelah mengingat sang istri jalan kaki menuju jalan yang di ujung sebelum masuk ke apartemen nya.


Sania hanya mengangguk pelan sedangkan kedua jarinya di angkat ke atas seraya berkata. ''Peace,'' gumam nya dengan senyuman semanis mungkin, agar sang suami tidak marah kepada nya hanya karena dia yang berjalan menuju ke arah jalan yang ada di ujung apartemen nya.


''Lain kali kamu nggak boleh jalan sendirian sayang, kalau kamu mau apa apa kamu harus bangunin Mas kalau Mas sedang tidur, kalaupun Mas tidak ada di tempat kamu nggak boleh pergi sendirian lagi, Mas takut terjadi sesuatu sama kamu sayang?'' ujar Arlan dengan khawatir nya.


''Iya Mas, maaf?'' jawab Sania seraya memberikan sebuah kopi hitam kepada suami tampan nya yang sedang berdiri di samping nya.

__ADS_1


''Jangan marah lagi, minum kopi dulu setelah itu mandi dan kita akan ke rumah sakit? atau Mas Arlan akan pergi ke kantor hari ini, kalau Mas Arlan ingin ke kantor Sania bisa pergi sendiri kok?'' kata Sania menatap suaminya yang tengah menyesap kopi hitam nya.


''Mas hari ini free, jadi Mas akan jadi supir istri cantik Mas seharian ini,'' balas Arlan membalas senyuman istri kecil nya.


''Terima kasih?'' Ucap Sania tak lupa mencium pipi kanan suami nya, Arlan yang mendapat kan serangan mendadak hanya terpaku melihat sikap istri nya yang sudah berani mencuri ciuman nya.


Sania mengabaikan tatapan dari suami nya dia melanjutkan masak nya, mengirisi bawang dan mengulek beberapa bumbu bumbu lain nya yang akan ia gunakan untuk masakan nya. Sedangkan Arlan hanya tersenyum melihat istri nya yang cekatan dalam memasak, sebentar Arlan tak harus kaget melihat Sania yang pintar memasak, karena waktu di restoran dulu Sania juga sering memasak langsung di dapur restoran nya, jadi maklum sajalah Bunda tukang masak, dan otomatis puteri nya juga handal dalam masak memasak.


''Mas, pulang dari rumah sakit kita belanja dulu ya,'' Ujar Sania menghentikan tangan nya yang sedang mengulek sambel.


''Baiklah, tapi ingat jangan sampe terlalu lelah,'' pesan Arlan yang segera di setujui oleh Sania.


''Ya sudah sana mandi, masakan nya sebentar lagi mateng lho,'' seru Sania mengusir suami nya dari dapur.


''Tega banget ngusir suami sendiri pergi,'' rengek nya seraya memanyunkan bibir nya.


''Bukan nya ngusir gitu, tapi bau Mas Arlan acem, nggak betah dekat dekat?'' jawab Sania menutup hidung nya dengan hijab yang ia kenakan.


''Dasar gadis nakal,'' sahut Arlan menciumi istri kecil nya.


''Mas, hentikan? nanti masakan Sania malah gosong lagi,'' seru Sania yang terus mendorong tubuh kekar suami nya, karena Arlan terus saja menciumi Sania.


''Biarin saja gosong, kita masih bisa makan di luar kok,'' jawab nya dengan santai, sedangkan tangan nya mematikan kompor nya tanpa sepengetahuan Sania istri kecil nya. Sania yang mendengar hanya mencebikkan bibir nya karena mulai kesal dengan suami nya.


Sania mengambil serbet dan langsung melemparkan ke arah Arlan, namun yang di lempar dengan serbet segera menghindar berlari menuju kamar nya.


''Untung cinta, kalau nggak sudah aku cincang buat makanan buaya,'' gumam Sania membalikkan tubuh nya, dan melihat kalau kompor nya sudah di matikan oleh suami jail nya, Sania menggeleng gelengkan kepala nya pelan seraya mengembangkan senyum manis di kedua bibir nya.

__ADS_1


__ADS_2