
Masih di perusaha'an Karan.
''Bagaimana Karan?'' tanya Arlan setelah panggilan nya di putus.
''Ibu bilang, kalau adik pergi dengan teman nya? dan dia juga akan menginap beberapa hari di sana,'' jawab Karan memijat pelipis nya yang mulai nyut nyutan mengingat adik nya baru saja sembuh dan keluar dari rumah sakit.
''Emang kamu nggak bilang teman nya ada di kampus?'' Arlan mendesak Karan agar dia mengetahui keberada'an Sania untuk saat ini.
''Kamu sudah dengar sendiri tadi kan? dan Ibu tetap jawab nya pergi dengan teman nya, dan Ibu juga nggak bisa mencegah kepergian Sania begitu saja Lan, Sania harus berada di fase yang baik baik saja, dan mood nya juga harus bagus agar kesehatan nya cepat pulih, makan dari itu Ibu tak bisa menghalangi Sania pergi tadi,'' jelas Karan yang sudah menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi kebesaran nya.
Arlan terdiam ketika mendengar penuturan dari Karan, kakak dari gadis yang biasa cintai, walau itu sudah sangat terlambat mengatakan nya sich.
''Kamu ke sini hanya untuk menanyakan soal Sania saja, tak ada hal lain lagi,'' tanya Karan yang kini beralih menatap Arlan yang tengah duduk disofa ruangan nya.
''Iya,'' jawab Arlan singkat.
Tiba-tiba handphone Karan bergetar mengingat kan ada yang nelfon dirinya.
-''Ya hallo,'' jawab Karan setelah menggeaer layar handphone nya.
-''Maaf tuan, di sini sudah ada orang yang meng-handle kantor cabang, jadi tuan muda tidak usah lagi mengirimkan seseorang lagi ke sini,'' Ucap sang sekretaris yang mengikuti perintah Sania.
-''Siapa orang itu?'' tanya Karan dengan nada datar nya.
__ADS_1
-''Beliau bilang tuan Arzan yang mengirim nya ke sini, maaf sebelumnya nya tuan muda. Saya hanya ingin memberitahu kan itu saja, kalau begitu saya matikan telfon nya sekarang,'' balas sang sekretaris dan langsung mematikan begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari tuan mudanya di seberang telfon.
Karan mengernyit keningnya menatap ponselnya yang sudah mati, ''Siapa orang ini lancang sekali bersikap seperti padaku,'' gumam Karan kesal dan terus menatap layar ponsel yang sudah hitam.
''Siapa Karan?'' tanya Arlan penasaran, karena melihat wajah teman nya yang menurut dia sedang menahan amarah nya.
''Dia bilang sudah ada orang yang meng-handle kantor cabang, jadi kamu tak perlu pergi ke sana lagi,'' sahut Karan meletakkan ponsel nya di atas meja kerja nya, sedangkan otak nya tengah di peras karena Om nya tidak mengatakan apa apa dengan orang yang di kirim ke kantor cabang nya
''Kenapa lagi sich Karan? kantor cabang sekarang sudah aman kan? terus apa lagi yang kamu pikirkan saat ini,'' cecar Arlan membuat Karan mendengus kesal.
''Lebih baik kamu pergi sekarang, jangan bikin mood bagus aku hilang karena harus mendengar ocehan dari kamu,'' usir Karan pada Arlan, yang menurut dia banyak bicara.
Arlan menarik nafas panjang nya dan menghembus kan dengan kasar, mengingat dia datang ke perusaha'an Karan hajua untuk mencari tau keberada'an Sania saat ini.
Dalam perjalanan pulang nya Arlan terus memikirkan keada'an Sania, sian takut penyakit nya kambuh dan teman nya tidak mengetahui tentang penyakit nya itu. ''Aku harap kamu baik baik saja Sania, aku nggak akan pernah lelah untuk menunggu kamu sampai kamu mau menerima cintaku. Aku tak peduli kamu mengidap penyakit ganas sekalipun, yang aku ingin kan hanya untuk membahagiakan kamu saja di sisa umur mu itu, namun aku selalu berdo'a agar kamu di beri kesembuhan dan hidup bersama ku sampai anak-anak kita pada menikah kelak,'' gumam Arlan lalu memejamkan matanya sejenak, namun lagi lagi dia harus kembali kesal mengingat banyak mobil yang sudah berkali kali membunyikan klakson nya, karena Arlan tengah berada di lampu merah dan sudah berubah menjadi warna hijau.
...****************...
Di butik Pinky tengah di sibukkan dengan pensil warna nya, karena pesanan orang orang semakin menumpuk dan harus selesai bulan depan.
''Kak Pinky makan siang dulu,'' sapa pegawai di sana.
''Iya sebentar lagi, aku masih harus menyelesaikan ini dulu, takut nya malah lupa dan jadinya amburadul kalau sudah salah,'' jawab Pinky tanpa menoleh ke arah pegawai nya. Sang pegawai hanya mengangguk mengerti dan menutup kembali pintu ruangan pemilik butik nya.
__ADS_1
''Mana kak Pinky,'' tanya rekan kerja nya yang mencari cari keberada'an bos nya.
''Kak Pinky bilang nanti, dia harus menyelesaikan gambar nya takut lupa dan jadi amburadul gambar nya,'' jelas nya menirukan kata kata Pinky.
''Ya sudah, lebih baik kita makan duluan saja, takut nya nanti banyak pelanggan yang datang dan kita sedang makan? kan nggak enak jadi nya.''
''Iya benar yang kamu bilang, lebih baik kita makan duluan?'' sambung yang lain Kini Pinky sudah mempunyai empat karyawan karena usaha butik nya? sudah lumayan lebih rame yang datang, itu semua berkat suaminya yang selalu mempromosikan karya karya dia jika sedang berkumpul dengan kolega bisnisnya.
''Akhirnya selesai juga,'' gumam Pinky merapikan kertas yang baru saja di kasih warna sesuai perminta'an para pelanggan nya.
Pinky beranjak dari kurainya setelah merentangkan tangan nya yang lumayan pegel, dari pagi sampai siang dia terus duduk di kursi nya dengan mengerjakan semua pesanan para pelanggan nya.
''Mana makan siang ku,'' tanya Pinky ketika sudah berada di kuat ruangan nya.
Salah satu karyawan nya membawakan makan siang bos nya, tak lupa juga dia sudah mengambil piring dan juga sendok agar bos nya tinggal makan saja. Sikap Pinky tak pernah berubah kepada semua karyawan nya, sifat rendah hatinya sudah mendarah daging? jadi dia tetap memperlakukan semua karyawan nya dengan baik, dan tanpa pilih kasih kepada semua nya.
''Terima kasih ya, sudah di beliin makan siang juga,'' Ucap Pinky mengambil makan siang nya dari salah satu karyawan nya.
''Nggak usah berterima kasih lah bos, itu kan pakek uang bos juga,'' celetuk yang lain.
''Tapi kan kalian yang sudah capek capek beli di warung? panas panasan juga,'' jawab Pinky yang di susul dengan kekehan kecil.
''Ya sudah aku makan di dalam saja, takutnya ada pelanggan datang kan nggak enak di lihat nya,'' tambah Pinky yang langsung di angguki para karyawan nya.
__ADS_1