
Sesampainya di rumah sakit, Ayah Arlan bertemu dengan tuan Arzan bersama keluarga nya, Ayah Arlan lalu bergegas menghampiri keluarga dari calon menantunya.
''Assalamu'alaikum, tuan?'' sapa Ayah Arlan dengan sopan.
''Waalaikum salam, bapak ada disini juga?'' jawab Tuan Arzan sekaligus bertanya kepada Ayah Arlan.
''Iya tuan, kami sengaja datang kemari untuk melamar Sania untuk menjadi istri dari putera ku.'' terang nya dengan perasa'an malu dan takut yang bercampur aduk di dalam hatinya.
''Kalau itu, saya tidak berhak untuk menentukan Pak, ini gak dari mbak Wati. Mari masuk ke dalam saja?'' ajak tuan Arzan dan juga Citra, yang notabene nya tante Sania.
Ayah Arlan hanya menatap kepada kedua putera nya, mereka mengangguk dan tak lama kemudian Ayah nya pun mengangguk mengikuti langkah tuan Arzan yang sudah sampai di depan lobby tumah sakit.
Terlihat tuan Arzan memanggil salah satu penjaga dan berbisik kepadanya, entah apa yang mereka bisiki Ayah Arlan hanya menatap dengan heran.
''Lebih baik kita ke ruangan sebelah saja, biar lebih nyaman ngobrolnya,'' ajak Mama Citra mempersilahkan Ayah Arlan dan juga suami nya berjalan lebih dulu.
Mereka pun berada di ruangan yang sudah di sediakan Tuan Arzan sebelum nya, dan tak lama kemudian minuman serta camilan sudah terhidang di atas meja, mungkin ini tadi yang di perintahkan oleh tuan Arzan kepada penjaga.
''Silahkan di minum dulu, seraya menunggu kedatangan kakak ipar,'' Ucap Mama Citra ramah, semua nya mengangguk dan membalas senyuman ramah dari Mama Citra.
Di saat mereka tengah menikmati camilan, terdengar suara ketukan pintu dari luar, mungkin itu Mbak Wati bersama Karan.
Tok tok tok
Mama Citra beranjak dari duduk bergegas membuka pintu ruangan yang sengaja ia sewa sebelum nya.
''Assalamu'alaikum,'' ucap Bu Wati dan Karan, namun di belakang Karan nampak lah Arlan yang sedang mengikuti mereka berdua.
''Waalaikum salam?'' jawab mereka semua dengan serempak.
Arlan berjalan menghampiri sang ayah, kakak dan juga kakak ipar nya.
__ADS_1
''Ayah?'' sapa Arlan mengulurkan tangan nya seraya mencium punggung tangan mereka semua yang berada di sana.
''Mbak? Ayah Arlan datang kemari untuk melamar Sania, jadi saya panggil mbak kesini agar lebih jelas,'' Tuan Arzan memulai obrolan nya.
Karan mengernyit dahinya tak percaya dengan sahabat yang satu ini, ''Apa kamu yakin Arlan!'' tanya Karan dengan datar. Karena Karan tak mau kalau sampai dia menyesal karena sudah menikahi adiknya yang tengah sakit sakitan seperti sekarang.
''Insya Allah, aku yakin Karan,'' jawab Arlan menundukkan kepalanya.
''Mohon maaf sebelum nya Pak, dan mas nya. Bukan maksud kami ingin menolak lamaran dari Arlan? tapi kami sadar, bahkan Arlan tau sendiri bagaimana kondisi puteri saya saat ini, saya takut ada penyesalan di kemudian hari,'' Ucap Bu Wati dengan hati hati, takut nya mereka salah paham dengan setiap perkata'an yang Bu Wati ucapkan.
''Bunda, saya yakin dan sangat yakin akan melamar Sania, bagaimana pun keada'an Sania, Arlan hanya ingin membahagiakan Sania dan juga merawat nya dengan tulus. Kalau seandainya Bunda menolak lamaran dari keluarga ku karena kondisi Sania seperti sekarang, Arlan tak tau lagi harus berbuat apalagi untuk selalu bersama di samping Sania?'' jawab Arlan dengan nada sedih nya, Arlan juga sempat mendongak agar air mata yang sudah memupuk di kelopak matanya tidak terjatuh begitu saja.
''Saya sebagai orang tua dan sebagai kakak nya hanya mengikuti keinginan adik saya, dan saya berharap anda bisa menerima lamaran dari keluarga kami, ya walaupun anda sudah tau keluarga kami tak sederajat dengan keluarga anda ,'' sela kakak tertua Arlan tiba-tiba.
''Bukan, bukan itu maksud dari kami? kami bahkan tidak pernah memikirkan dan mengukur kekayaan orang lain, namun yang kami maksud tadi adalah puteri kami saat ini tengah berjuang melawan penyakit nya, dan bahkan mungkin umaur nya sudah tidak akan lama lagi,'' sahut Bu Wati yang sudah mengeluarkan air mata nya, Mama Citra yang emang berada di samping nya segera merangkul sang kakak ipar, untuk menenangkan nya.
''Bahkan saya cukup senang kalau ada orang yang melamar puteri saya, namun yang saya tanyakan tadi hanyalah takut ada penyesalan dari Arlan di kemudian hari, karena harus mengurus puteri saya yang tak berdaya itu,'' Ucap nya lagi dengan isakan tangis nya.
''Bunda, Arlan mohon Bunda percaya, kalau Arlan benar-benar menyayangi Sania, Arlan janji tidak akan pernah menyesal karena sudah memilih Sania sebagai istri Arlan, Arlan hanya ingin membahagiakan Sania Bunda? Arlan tak punya niat yang lain nya,'' Ucap Arlan sedih, Arlan masih duduk bersimpuh di depan Bu Wati. Sedangkan Bu Wati sudah menyuruh Arlan untuk bangun dari duduk nya, namun tak ia gubris ucapan dari Bu Wati.
Di ambang pintu, Sania melihat semua nya, Sania kini tengah menangis melihat kesungguhan yang ada di diri Arlan, laki-laki yang ia kagumi dengan kebaikan nya, tapi siapa sangka laki-laki itu menyayangi dirinya sampai berbuat begitu di depan Om, tante dan juga kakak nya.
Sania menutup mulut nya dengan telapak tangan nya, Sania tadinya penasaran dengan kedatangan kakak kembar dan juga Roni, namun kedua Om dan tantenya malah tidak menghampiri ke ruangan nya, dan Sania juga melihat sang Bunda dan juga kakak nya pergi entah kemana, dengan di susul Arlan di belakang nya. Jadi Sania meminta Pinky untuk mengambilkan kursi roda untuk nya, agar dia tau mereka sedang apa dengan berkumpul di ruangan yang ia tidak ketahui, ruangan apa itu? pikir Sania.
''Assalamu'alaikum,'' Ucap Pinky dengan tiba-tiba, Pinky sudah tidak tega melihat Arlan dan juga Sania yang kini tengah menangis dibatas kursi roda nya.
''Waalaikum salam,'' jawab mereka hampir bersama'an, dan seketika pandangan semua orang terarah kepada pintu yang memang tak tertutup dengan sempurna.
''Sayang? kenapa kamu kemari,'' Ucap mama Citra yang sudah beranjak dari duduk nya.
''Sania?'' gumam Arlan dengan menghapus sisa sisa air mata nya yang masih terlihat.
__ADS_1
''Mas Arlan? mas Arlan ngapain di kaki Bunda?'' tanya Sania dengan nada sedih nya.
''Sania, kenapa kamu kemari? dan apa ini kenapa selang infus nya kamu buka?'' tanya Arlan yang sudah berada di depan nya.
''Sania tanya, kenapa Mas Arlan lakuin ini semua?'' tukas Sania menatap tajam ke arah Arlan. ''Mas Arlan nggak sungguh sungguh dengan ucapan nya kan?'' tambah Sania yang belum mempercayai ucapan Arlan.
''Sania, aku sungguh-sungguh mencintaimu Sania, aku ingin kamu menjadi istri ku, dan juga Ibu dari anak-anak ku kelak,'' jawab Arlan yang sudah menggenggam tangan Sania, seakan-akan Arlan tidak mau jauh dari Sania.
''Sayang? apa kamu menerima lamaran dari nak Arlan, kelihatan nya dia sangat mencintai mu sayang?'' sela Bu Wati mengembangkan senyuman nya kepada puteri kecil nya itu.
''Tapi Bunda, Sania tidak pantas untuk mas Arlan? Sania sakit Bunda, yang ada Sania hanya membuat mas Arlan merasa repot dengan keada'an ku sekarang,'' sahut Sania menundukkan kepalanya.
''Nak Sania? Arlan tidak akan merasa di repotkan dengan keada'an kamu saat ini, bahkan dia akan merasa senang dengan menikahi kamu dan juga membahagiakan kamu,'' Ujar sang Ayah penuh kelembutan kepada Sania yang tengah menundukkan kepalanya.
''Yang di katakan Arlan benar, dia selalu bercerita tentang kamu sebelum jauh dia mengetahui penyakit yang kamu derita saat ini, tapi Arlan tidak punya keberanian untuk melamar kamu saat itu, dia takut kamu menolak karena keluarga kami tidak sederajat dengan keluarga kalian?'' terang sang kakak dari Arlan menceritakan apa yang pernah ia dengar dari sang adik.
Sania kembali menatap ke arah Arlan yang masih ber linangan air mata. ''Mas? apa itu benar?'' tanya Sania lirih. Arlan tak sanggup menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya pelan.
''Bagaimana, apa kamu menerima sahabat kakak ini menjadi suami kamu?'' tanya Karan lembut. Sejenak Sania menatap kakak nya, lalu Bunda nya, Om dan juga tante nya, semua orang mengangguk pelan melihat tatapan Sania yang seakan-akan meminta persetujuan dari keluarga nya, mungkin tidak semua keluarga nya.
''Baiklah Sania mau?'' jawab Sania mengembangkan senyuman nya ke arah laki-laki yang ada di depan nya. Arly mendongak menatap Sania dengan intens, takut nya dia salah mendengar.
''Maksud kamu?'' tanya Arlan lagi.
''Iya, aku mau jadi istri kamu?'' jawab Sania lagi membuat Arlan mengembangkan senyuman nya. Sedangkan kakak ipar dari Arlan maju dan memberikan sepasang cincin kepada adik ipar nya.
''Mungkin cincin nya hanya biasa, bukan terbuat dari permata, karena acara dadakan jadi kami hanya bisa membeli cincin seperti ini,'' tukas sang kakak ipar, takut Sania tidak mau memakai nya.
''Tidak apa apa kok kak? yang penting belinya dengan kasih sayang Sania akan menerima nya walau itu bukan permata seperti yang kakak maksud,'' jawab Sania tersenyum manis.
''Terima kasih,'' balas kakak ipar Arlan seraya tersenyum ke arah calon adik ipar nya yang menilai barang dari harga nya, pantas saja Arlan begitu tergila gila dengan gadis di depan nya ini, bahkan hatinya terbuat dari berlian sehingga tidak membanding bandingkan antara kaya dan juga miskin, sesaat Ayah Arlan meneteskan air mata nya mengingat Ibu Arlan yang sudah tiada sejak Arlan masih sangat kecil.
__ADS_1