Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 181 Sadar


__ADS_3

Sedangkan di Desa, kini Sania tidak pernah merasakan sakit kepala lagi sejak tinggal serumah dengan sang nenek, penyakit dia juga tidak pernah kambuh lagi selama beberapa hari ini, walaupun tanpa mengkonsumsi obat obatan nya, Sania kemarin sengaja membuang obat nya sebelum sampai ke kuburan sang Ayah, pikiran Sania waktu itu hanya ingin hidup dengan tenang dan juga bahagia di sisa sisa hidup nya. Namun tidak untuk hari ini, Sania merasa sangat bahagia sekali setelah tinggal bersama dengan sang nenek di sana.


''Nenek, ayo kita pulang sekarang?'' ajak Sania menghampiri sang nenek yang ada di Pondok tengah kebun nya.


''Iya, sebentar lagi neng?'' sahut nya yang masih membereskan barang barang yang ia bawa tadi pagi.


''Nenek harus nya lebih banyak istirahat lagi di rumah, biar ini Sania yang selesaiin,'' kata Sania mengambil keranjang yang sudah ada di punggung sang nenek.


''Kalau nenek hanya diam saja di rumah, nenek bakalan sakit karena tidak bergerak sama sekali, karena keringat yang ada di dalam tubuh tidak keluar?'' jawab nya beranjak dari duduk nya.


''Tapi setelah di pikir pikir, apa yang di katakan nenenk itu benar juga, sejak Sania tinggal bersama nenek? Sania tidak lagi merasakan sakit di sekujur tubuh seperti dulu ketika di rumah, selalu mengonsumsi obat obatan setiap hari nya,'' kata Sania lagi menceritakan tentang hidup nya yang dulu di rumah nya, di sana Sania hanya makan tidur dan pergi keluar dengan Bunda nya, dengan menaiki mobil dan berada di ruangan yang selalu ber AC juga, jadi Sania tidak pernah berkeringat seperti sekarang ini, yang terkena sinar matahari langsung.


''Kalau di rumah kamu kan selalu makan makanan yang enak dan selalu para pelayan yang yang melayani para orang kaya, tapi yang nenek herankan? kenapa kamu malah mau tinggal bersama nenek yang hidup hanya dengan penghasilan dari kebun ini,'' gumam nya terus melangkah kan kaki nya menuju rumah kecil yang berada tak jauh dari kebun tadi.


''Sebenarnya Sania lebih bahagia dengan kehidupan yang sekarang nek? walaupun hidup hanya serba kekurangan seperti ini tapi Sania sudah merasa senang, apalagi tinggal bersama dengan nenek yang pandai memasak. Sania jadi kepengen belajar masak?'' sahut nya merangkul tubuh sang nenek dengan penuh kasih sayang.


''Apa kamu tidak merindukan suami kamu dan juga keluarga mu yang lain?'' tanya nenek itu menghentikan langkah nya dan menatap ke wajah cantik Sania yang mulai menghitam karena terkena sinar matahari langsung beberapa hari ini.

__ADS_1


''Sebenara nya Sania hanya kangen sama Bunda saja nek? kalau dengan yang lain nya Sania tidak merasakan hal yang seperti itu, apalagi dengan suami saya yang sudah aku anggap tidak ada, dan perasa'an Sania juga sudah di pendam rapat rapat agar tidak terlalu sakit ketika nanti bertemu dengan istri baru nya,'' terang nya lalu mengulas senyum di bibir nya.


'Sebenarnya Sania sangat kangen dengan mas Arlan? tapi Sania juga tidak mau terlalu kecewa dengan suami saya nek? biarlah mas Arlan hidup bahagia dengan wanita yang bisa memberi nya keturunan,' Ucap Sania dalam hati.


''Sudah ach jangan bahas itu lagi, lebih baik kita pulang dan cepat beristirahat di rumah,'' ajak Sania mengalihkan obrolan nya yang akan membahas tentang keluarga nya lagi.


''Nanti mau masak apa untuk makan malam nya neng?''


''Apa saja dech nek? yang penting bisa mengenyangkan dan menyehatkan tubuh Sania, agar besok lebih semangat lagi pergi ke kebun nya,'' Ujar Sania dengan perasa'an yang bisa di ungkap kan dengan kata kata, karena saking bahagia nya bersama sang nenek.


Kehidupan Sania tidak seperti dulu yang selalu makan dengan makanan yang mewah, dia hanya makan dengan lauk seadanya bahkan kalau tangkapan nya dapat, Sania dan juga nenek nya makan ikan dan beberapa sayur lain nya.


Di rumah sakit Arlan sudah sadar sejak sejam yang lalu, dia meminta kepada Ayah nya untuk mendatangi dokter yang menangani nya, Arlan ingin segera mencari istri kecil nya yang sudah hampir seminggu ini tidak ia lihat.


''Kamu mau kemana Arlan? apa kamu sudah gila sehingga mau keluar untuk mencari istri kamu seorang diri, di luar sana sudah banyak orang yang sedang mencari istri kamu, jadi kamu di sini harus tenang dan juga jaga kesehatan kamu dari sekarang,'' Ucap sang Ayah dengan tegas, karena Arlan terus meronta ingin mencari Sania istri kecil nya.


''Ayah, Arlan mohon? Arlan ingin bertemu dengan istri Arlan Yah, Arlan sudah sangat rindu dengan istri Arlan? dan Arlan takut terjadi sesuatu sama dia?'' sahut nya dengan nada lirih seraya memeluk sang AyahAyah.

__ADS_1


''Kamu harus sehat terlebih dulu, setelah itu kita cari istri kamu sama sama, mungkin dia saat ini masih bersembunyi karena terus memikirkan omongan Rika di rumah sakit tempo lalu,'' sela sang Ayah di tengah tengah memeluk putera nya.


''Ayah sudah tau tentang itu?'' tanya Arlan terkejut dengan ucapan Ayah nya.


''Semua orang sudah mengetahui kepergian Sania karena perempuan itu, mungkin Sania menganggap semua yang di ucapkan oleh Rika benar, makanya dia memilih untuk melepaskan kamu hanya untuk seorang momongan,'' jawab nya panjang lebar, mengingat perkata'an yang sempat di lintarkan oleh Rika dan juga pertanya'an Sania kepada dokter yang menangani penyakit nya pun semua mengarah ke sana.


''Ayah, Arlan tak terlalu memikirkan masalah momongan, kalau Arlan mau memiliki momongan, Arlan tinggal mengadopsi anak yang ada di panti asuhan, atau Arlan bisa mengasuh ponakan ponakan Arlan dan menganggap nya sebagai anak sendiri,'' kata Arlan dengan wajah sedih nya.


''Arlan hanya takut terjadi sesuatu dengan istri Arlan Ayah, istri Arlan belum sehat benar, dia masih mengeluhkan rasa sakit nya ketika bersama dengan Arlan, Arlan akan merasa sangat bersalah kalau sampai Sania kenapa napa,'' tambah nya lagi.


''Sudah, kamu tenang saja, sekarang lebih baik kamu beristirahat, Ayah akan menghubungi tuan Karan?'' kata Ayah nya dan ingin melangkah pergi dari ruangan Arlan.


''Untuk apa Ayah menghubungi Karan, sudahlah Ayah? jangan menambah beban masalah ini kepada orang lain terus,''


''Tuan Karan tadi bilang kalau kamu sudah sadar akan memindahkan kamu ke rumah sakit yang ada di kota, makanya--''


''Arlan nggak mau pindah rumah sakit Ayah, Arlan akan tetap di sini dan setelah itu akan pergi mencari istri Arlan, entah dia sekarang berada di mana, dan makan apa Arlan tidak tau. bahkan dia tidur di mana Arlan juga nggak tau Ayah,'' kini air mata yang sudah sejak tadi di tahan lolos begitu saja, ketika mengingat istri kecil nya yang belum juga pulang sampai sekarang, mengingat ini sudah hari ke 7 Sania pergi dari rumah nya.

__ADS_1


'Aku akan terus mencari kamu sayang, aku nggak peduli dengan yang lain nya, kamu tetap istri ku walau sebagian orang mengatakan kamu mandul dan hanya bisa membuat ku susah dengan merawat mu yang sakit, aku ikhlas melakukan itu semua kapada kamu sayang? jadi cepat pulang ke rumah sekarang, aku tak kan bisa hidup tanpa adanya kamu di sisi ku,' Ucap Arlan dalam hati.


Ayah Arlan yang mengetahui perasa'an putera nya, kepada menantunya sangat dalam. Ayah nya juga sempat menanyakan perihal momongan kepada putera yang ada di depan nya saat ini, ada rasa bersalah yang bersemayam di dalam hati nya, kini dia mengerti sekarang, tanpa anak pun Arlan bisa bahagia dan dia juga tak harus egois yang selalu meributkan masalah momongan lagi, apalagi mendengar perkata'an Arlan yang ingin mengasuh ponakan ponakan seperti anak nya sendiri membuat sang Ayahmenitikkan air mata nya, namun dia buru buru menghapus nya agar putera nya tidak memikirkan hal yang macam macam tentang nya.


__ADS_2