Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 51


__ADS_3

Dengan membawa mobil besar keluarga besar Sanjaya mendatangi desa di mana pak Candra di makam kan. Mereka semua sudah sepakat untuk berziarah ke makam nya pagi ini.


''Kalian sudah siap belum?'' tanya kak Citra pada semua nya.


''Sudah...??'' teriak nya kompak.


''Senang lihat mereka semua pada sehat dan tumbuh dengan cepat,'' gumam kakek Sanjaya.


''Iya Pa, andai mereka semua bisa tinggal di rumah ini semua nya, pasti setiap hari akan selalu ramai seperti ini,'' balas kenyang di angguki oleh kakek Sanjaya.


''Iya, kenapa Karan sekeluarga nggak tinggal di sini saja, kalau Citra pasti nggak bakalan maulah tinggal bareng Papa,'' tutur kakek Sanjaya pelan.


''Sudah lah Pa? Karan dan Ibu nya kini tinggal di rumah yang kita belikan, awalnya mereka tinggal di rumah kontrakan yang kecil dan jauh dari sekolah nya, makanya aku dan mas Arzan mencarikan rumah untuk mereka yang dekat dari sekolah mereka berdua.'' sambung mas Fabian, ya mungkin dia mendengar obrolan kami berdua yang lumayan pelan itu.


''Iya, terima kasih karena sudah menemukan cucu kakek yang lain nya,'' Ucap kakek Sanjaya menepuk punggung tangan mas Fabian.


''Nggak usah gitu Pa? mereka juga keluarga Fabian, sudah seharusnya kita menolong atau membantu saudara kita sendiri,'' jawab nya dengan bijak.


''Ayo Pa berangkat, mobilnya sudah siap di depan,'' seru kak Citra yang emang dari tadi sudah menunggu di depan, kak Citra dan mbak Wati emang menunggu di teras rumah seraya mengobrol santai sesama perempuan.

__ADS_1


Aku dan Mas Fabian pun berjalan menuju pintu utama yang menjulang tinggi tersebut, mas Fabian mengambil alih mendorong kursi roda yang Papa duduki saat ini.


Setelah sampai di dekat mobil mas Fabian membopong Papa untuk masuk ke dalam mobil, Karan dengan gesit membantu mereka dari dalam.


''Kakek duduk di sini ya, sama kita kita dan maaf kalau nanti agak berisik ya kek?'' Ucap nya sopan.


''Nggak apa apa kok nak? justru kakek senang dengan berisik nya kalian semua, kakek harap akan selalu melihat kecerian kalian semua ya,'' jawab nya memeluk Karan, cucu yang baru ia temukan tersebut.


''Maafkan kakek cucu ku, karena keegoisan kakek, kalian berdua tak mempunyai ayah lagi,'' gumam kakek Sanjaya pada Karan.


''Jangan seperti itu kakek, mungkin ini sudah takdir Allah yang mengharuskan Karan dan juga Sania menjadi yatim saat ini, tapi Karan percaya kalau ayah sekarang sedang berada di surganya Allah,'' sahut Karan tersenyum lebar.


''Sudahlah, kakek itu sudah berlalu, yang lalu biarlah berlalu? kita jalani sekarang dengan senyuman. Kakek lupakan saja tentang yang dulu dulu karena ayah sudah bahagia di surganya Allah,'' sambung Sania.


Perjalanan hari ini sangatlah jauh, butuh waktu 4-5 jam baru sampai di desa mbak Wati, tepat jam 12 siang kami semua tiba di makam Almarhum kak Candra. Karan dan juga Sania lengsuu berlari menuju ke pusara sangat ayah, dia memeluk batu nisan yang bertuliskan Muhammad Candra. Air mata kak Citra dan Papa sudah tak bisa di bendung lagi, kak Citra duduk bersimpuh di pusara kakak nya, yang selama ini ia cari? namun kunjung di temui, karena kenyataan nya sangat kakak sudah tidur untuk selama nya menghadap sang pencipta, si kembar terlihat memeluk kak Citra yang sudah menangis sesenggukan, begitu juga dengan Papa, dia menangis dalam diam. Putera kebanggaan nya kini sudah terbaring dan tertimbun tanah, bahkan sudah bertahun tahun lamanya.


''Papa yang kuat ya, kakak sudah bahagia di sana,'' ucapku mencoba menghibur Papa, badan nya sudah bergetar karena tangisan nya.


''Iya Papa nggak apa apa kok? Papa kuat,'' sahut nya menepuk punggung tangan ku.

__ADS_1


''Papa mau turun, Papa ingin mengelus nisan kakak mu,'' pinta kakek Sanjaya.


Mas Fabian dengan sigap menuntun Papa menuju pusara kak Candra, ia duduk dan mengusap usap batu nisan yang bertuliskan nama putera nya.


''Maafkan Papa Candra, Papa salah dan Papa juga sudah buat kamu seperti ini, kalau Papa tidak egois pasti kamu sekarang sedang berkumpul dengan kita semua di sini,'' Ucap nya dengan lirih.


''Sudah Pak, mungkin ini sudah takdir yang Allah berikan pada kami semua, tolong ikhlas kan kepergian mas Candra, agar mas Candra juga tenang,'' sambung mbak Wati mengingat kan mertuanya.


Dengan segera Papa menghapus air matanya yang sudah menganak sungai, berbeda dengan kak Citra? kini dia sedang duduk bersimpuh tanpa alas apapun, dia menangis seraya melantunkan ayat ayat suci Al-Quran, di antara nya surah Yasin, dan surah Al-Waqi'ah. Aku menatap satu persatu keluarga ku yang kini sedang sibuk, masing-masing dari mereka sedang membaca Al-Quran yang mereka bawa masing-masing dari rumah.


********


Hari semakin siang dan terik matahari begitu menyengat sekali, tak menyurutkan Karan, untuk berteduh di bawah pohon rindang yang di tempati lain nya di sana, ya memang tak jauh dari makam sang ayah terdapat pohon besar yang rimbun.


Aku masih duduk di samping pusara ayah yang sudah tertidur sangat lama di rumah barunya, yakni kuburan (makam)


Aku mengeluarkan keluarga kesah ku di pusara Ayah yang sudah beberapa bulan ini tak ia datangi.


''Ayah? semoga ayah bahagia di sana ya, Karan dan Sania juga sudah bahagia dengan keluarga baru Karan yang lainnya, adik adik ayah sangat baik dan begitu perhatian pada semua nya, Karan salut sekali pada semua nya. Terutama Om Arzan yang begitu baik, tapi Om Arzan begitu dingin pada orang yang baru ia kenal, tapi Om Arzan begitu hangat di saat berkumpul dengan keluarga nya dan juga si kembar. Ayah Karan hanya ingin minta do'a saja dan minta restu ayah juga, agar Karan menjadi pebisnis yang sukses dalam menjalani bisnis yang Papa tinggal kan buat Karan dan juga Sania, Karan ingin menjadi orang yang lebih sukses dari Pak Lukman, orang yang dulu sering ngehina Karan, bahwa Karan bisa menjadi kayak dia?'' Ucap nya panjang lebar di samping pusara sang ayah tercinta

__ADS_1


__ADS_2