Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 182 Olahan ikan


__ADS_3

Di rumah keluarga Bu Wati, kini tengah mengadakan syukuran atas bayi laki-laki Karan dan juga Pinky, dan juga berdoa untuk kesehatan dan juga keselamatan Sania yang juga belum pulang ke rumah nya, Bu Wati memilih mengadakan acara ini dengan mengundang beberapa anak yatim yang di undang langsung dari Yayasan yang pernah di datangi oleh puteri nya, Bu Wati meminta kepada anak-anak tersebut untuk ikut mendo'akan Sania.


''Bunda ingin kalian juga ikut mendo'akan kak Sania bersama kami semua, agar kak Sania selalu di beri kesehatan di manapun dia berada,'' ujar Bu Wati dengan lembut dan sesekali tersenyum kepada anak-anak yang ia undang.


Karan hanya mengikuti apa yang di usulkan oleh Bunda nya dan juga istri nya, Karan terlihat men gendong bayi mungil yang bertubuh besar di dalam dekapan nya.


''Semoga Sania cepat pulang ya Bunda? agar kita semua bisa berkumpul kembali seperti dulu, tertawa bareng dan juga mengobrol bareng bareng lagi,'' sela Ibu pengasuh Yayasan yang di undang oleh Bu Wati.


''Terima kasih do'a nya ya Bunda,'' sahut Bu Wati ramah dan memegang telapak tangan orang yang sudah mengasuh beberapa anak kecil yang ada di yauasan nya, walaupun itu di bantu beberapa orang? tapi Bu Wati tidak bisa memikirkan hal itu semua, mengingat mengasuh dua anak saja susah nya sudah begitu, apalagi ini mengasuh anak anak kecil sampai berpeluh anak, dengan sikap dan kepribadian anak yang tidak sama, bahkan tak banyak dari mereka yang sering berantem karena masalah yang sangat sepele, misalkan rebutan mainan dan hal semacam nya ia temui di setiap hari nya, ketika beliau tengah mendatangi Yayasan tersebut.


'Sayang, sebenarnya kamu ada di mana sich. Pulang lah nak? Bunda tidak akan memarahimu walau kamu yang bersalah kepada suami kamu, asal kamu tahu suami kamu begitu sayang dan juga sangat mencintaimui. Dia juga sekarang lagi terbaring lemah di rumah sakit, karena mengalami kecelaka'an,' gumam Bu Wati dalam hati.


''Bunda yang sabar ya, mungkin besok atau lusa kak Sania akan pulang dan akan berkumpul kembali dengan kita semua,'' Ujar seorang anak perempuan yang berusia belasan tahun itu. Membuyarkan lamunan sang Bunda, ya memang semua anak-anak panti memanggil Bu Wati dengan panggilan Bunda. Itu semua atas perminta'an Bu Wati sendiri yang juga di setujui oleh semua nya.


''Iya, Bunda juga berpikir nya seperti itu,'' jawab nya lembut. ''Bunda jangan sedih terus dan Bunda jangan lupa makan, agar Bunda selalu sehat, agar kita bisa main bareng yang lain nya juga,'' tambah nya yang memang lebih dekat dengan Bu Wati.

__ADS_1


Acara berjalan dengan lancar dan bahkan sampai malam tiba, anak-anak yang ikut ke sana tak henti hentinya menyunggingkan senyuman nya yang manis dan tanpa memikirkan hal yang di pikirkan oleh dewasa lain nya. Memang benar ya, masa anak-anak memang lebih mengasyikkan dan juga menyenangkan, di banding dengan kita sudah menjadi dewasa. Setelah dewasa semua masalah berdatangan tanpa pemberitahuan terlebih dulu.


...****************...


Di sisi lain, di sebuah gubuk yang di tempati Sania dan juga nenek nya mengalami mati lampu yang membuat Sania menjerit karena takut gelap, tapi sang nenek dengan segera menyalakan lampu bron yang sengaja ia buat dari kaleng bekas dengan sumbu kompor yang sudah tidak terpakai lagi.


''Sudah jangan takut lagi, ada nenek yang akan menjaga kamu di sini, kamu tidak sendirian oke? dan lebih baik kita makan malam dulu,'' ujar sang nenek yang mencoba menenangkan Sania, tubuh Sania yang bergetar ia peluk dengan lembut dan membawa Sania keluar dari kamar nya yang berukuran tak terlalu lebar, kamar yang hanya cukup untuk di huni satu orang saja.


Nenek Beti membawa Sania ke tempat makan yang hanya di apasi dengan tikar yang sudah usang, tidak ada meja dan juga kursi di rumah nenek Beti, namun suasana seperti ini yang membuat Sania terlihat bahagia dan juga senang tinggal di sini, mungkin bagi orang kaya yang lain nya tidak akan mau tinggal di gubuk seperti ini, karena sudah terbiasa dengan semua kemewahan yang ia miliki selama ini, tapi Sania malah sebalik nya, walau dia tergolong dari orang yang kaya dan juga terpandang karena berasal dari keluarga Sanjaya, Sania tak lantas melupakan kehidupan nya sebelum nya. Makanya Sania tidak pernah pilih pilih tempat asal sudah badan yang menampung nya saja dia sudah sangat bersyukur sekali.


''Tadi nenek pergi ke sungai, dan tangkapan hati ini lumayan banyak. Jadi nenek bikin beberapa masakan dari olahan ikan tersebut,'' sahut nya dan membuka tudung saji. Sekilas memang terlihat sangat enak sekali.


''Kayak nya sangat enak nek,'' tutur nya dengan antusias, Sania menyendok nasi dan menaruh ke piring nya lumayan banyak, karena mungkin akan makan malam dengan olahan ikan.


Sania menyuapkan satu suapan ke dalam mulut nya, satu suapan dia kunyah dengan sangat lama karena merasa tidak enak di perut nya. Dua suapan dia malah berlari keluar rumah karena kamar mandi nya ada di luar rumah. Sania memuntahkan isi perut nya di sana, tadi nya nenek Beti tak begitu khawatir karena berpikiran kalau Sania hanya menelan tulang ikan yang bisa membuat dia muntah, tapi setelah menyadari Sania tak kunjung masuk ke dalam rumah nya nenek Beti terlihat sangat cemas dan segera menghampiri Sania yang masih muntah di luar.

__ADS_1


Huek...Huekkk


Rasa mual yang tak berkesudahan membuat Sania tidak berani masuk ke dalam rumah, takut nya dia malah muntah lagi dan akan berlari keluar rumah lagi, yang hanya membuat tenagan Sania akan tetkuras habis karena berlarian.


''alami nggak apa apa kan, apa kamu masuk angin? mau nenek kerok,'' tanya nya dengan nada yang sangat khawatir.


''Nggak usah nek, mungkin sebentar lagi akan membaik dengan sendirinya, lebih baik nenek makan saja dulu? Sania akan ke kamar mandi untuk membasuh wajah Sania,'' sahut nya dengan nada lirih nya. Sebenarnya Sania tidak baik baik saja, kepalanya kini mulai sakit dan juga pusing, namun ia tahan sampai Sania masuk ke dalam rumah nya.


Sania berjalan dengan berpegangan dinding yang terbuat dari bambu yang di anyam, Sania menguatkan dirinya untuk tetap terus berjalan menuju kamar nya, dia sudah tidak mau kembali ke tempat tadi dia makan bersama nenek Beti.


''Kamu nggak mau makan dulu neng?'' tanyanya ketika Sania melewati nya.


''Tidak sekarang nek, mungkin nanti aku akan makan malam kalau perutku sudah tidak mual,'' sahut nya terus berjalan ke kamar nya, dia membaringkan tubuh nya yang mulai kurus.


''Apa penyakit ku kambuh kembali, bagaimana ini? aku sudah senang karena sudah seminggu ini penyakit ku tidak kambuh, tapi sekarang?'' bisik nya pada diri nya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2