
Di jam 12 malam bang Ipul berpamitan pada Karan, sedangkan Bu Wati sudah kembali ke kamar nya tadi setelah Karan keluar dari dapur.
Malam kian larut Karan pun tak bisa memejamkan matanya mengingat hinaan demi hinaan yang di lontarkan oleh Kirana tadi.
''Kirana? aku kira kamu beda dari papa mu yang menilai orang dari segi materiil, tapi kini aku tau sifat Kirana sekarang, dia memandang rendah orang miskin seperti aku. Tapi aku janji aku akan melupakan mu Kirana, tapi aku akan terus mengingat semua yang kalian katakan untuk ku.'' gumam nya dan membuang barang-barang yang pernah di kasih Kirana dulu ketika masih anak anak.
''Aku tak membutuh kan barang barang ini lagi,'' Karan mengambil korek api dan membakar semua barang yang sudah ia buang.
Sejak saat itulah Karan menjadi dingin terhadap semua wanita, kecuali kepada keluarga besar dan teman teman kerjanya saja, Karan bisa bersikap hangat.
Hari hari Karan di warnai dengan canda tawa bersama keluarga besar nya, ya Karan bersama Sania dan juga Ibu nya kalau hari weekend slalu menginap di rumah keluarga Sanjaya, atau mereka juga menginap di rumah si kembar saudara sepupu nya. Kini Karan sudah melupakan gadis yang bernama Kirana.
...Singkat cerita...
Setelah lulus sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) Karan di kirim ke luar negeri untuk melanjutkan studi nya di sana, kakek Sanjaya menggempur Karan agar menjadi laki-laki yang tegas dan menjadi orang sukses, seperti yang pernah biarkan ceritakan pada kakek nya. Sedangkan Pinky memilih untuk meneruskan studi nya di Ibu kota, Pinky memilih bidang yang ia sangat sukai dan biasanya gemari, yakni ingin menjadi desainer yang terkenal dan sukses.
Pinky selalu melihat lihat galeri handphone nya ketika masih bersama dengan Karan. ''Karan? apa mungkin kamu kangen sama aku, seperti yang terus kangen sama kamu dan ingin secepatnya bertemu dengan kamu, semoga kamu menjadi laki-laki yang kakek Sanjaya ingin kan,'' ucap Pinky dengan lirih.
Flashback on
''Pinky, aku akan sekolah di luar negeri atas perminta'an kakek Sanjaya, do'akan aku supaya aku menjadi orang yang sukses kelak,'' ujar Karan yang emang sengaja menghampiri Pinky disekolah nya, karena sejak mereka berdua lulus SMP Karan dan juga Pinky beda sekolah, mereka tak lagi bersama namun Karan cukup bersyukur, karena Pinky menerima Karan apa ada nya, Pinky belum tau kalau Karan adalah cucu dari pengusaha sukses dan orang terkaya di kota nya.
__ADS_1
''Iya Karan? kamu di sana sehat sehat ya, jangan lupa jaga kesehatan dan jaga pola makan kamu, dan satu lagi? kamu jangan pernah lupakan pertemanan ini,'' jawab Pinky mengingat kan Karan, Karan mengangguk pasti mendengar permintaan dari sang teman.
''Pasti, aku janji nggak akan melupakan kamu Pinky, selama ini kamulah yang selalu menyemangati ku, dan selalu menghibur di kala aku sedang sedih, dan selalu ngasih suport di kala aku lagi down, aku tak akan pernah melupakan semua kebaikan kamu, tapi maaf saja kalau di sana aku jarang menghubungi kamu, takutnya kamu malah salah paham dan tak percaya lagi sama aku, Pinky karena aku ingin segera menyelesaikan studi ku di sana, agar kita bisa bersenda gurau seperti kemarin kemarin nya?!'' jawab Karan menampilkan senyum tetmanis nya untuk sang teman sekaligus sahabat berbagi suka dan duka.
Flashback off
...****************...
Sania kini tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga periang, Sania juga selalu mendatangi butik yang baru di buka oleh Pinky, ya memang bukan butik yang besar sich, namun koleksi baju bajunya begitu bagus dan juga elegan.
''Kak Pinky, semakin hari butik kakak semakin banyak koleksi baju baju nya,'' Ujar Sania menatap takjub pada butik Pinky sahabat kakak nya.
''Alhamdulillah Sania, ini sebagian besar hasil karya ku lho,'' jawab nya mengembangkan senyum manis nya.
''Sudah lah, ayo duduk?'' ajak Pinky yang di angguki Sania, dia pun mengikuti langkah Pinky dari belakang nya untuk menuju ke ruangan nya.
Sania dan juga Pinky terlihat sangat akrab sejak mereka sekolah menengah pertama dulu, namun kini Sania sudah menuntut ilmu di salah satu universitas yang ada di ibu kota, Sania memang akan di kirim ke negeri tempat kakak nya sekarang menempuh studi nya. Namun Sania tidak mau karena dia tidak tega melihat Ibu nya tinggal sendiri di rumah nya.
''Sania mau minum apa?'' tanya Pinky setelah sampai di dalam ruangan nya.
''Jus saja lah kak, tapi nggak ngerepotin kan?'' jawab Sania pelan.
__ADS_1
''Nggak lah, kan nggak usah bikin, tinggal ambil doang?'' kekeh nya dan berjalan menuju kulkas yang emang sengaja di letakkan di dalam ruangan nya.
''Memangnya kak? sekarang serba instan, kayak mie instan yang tinggal di rebus ulek ulek jadi dech makanan favorit,'' celetuk Sania dengan kekehan nya.
''Kamu bisa saja dech, oia kamu kok ke sini,'' tanya Pinky dan melihat jam yang melingkar di tangan kiri nya.
''Emangnya nggak boleh nich mampir ke sini kak, ya sudah kalau githu Sania pulang saja dech,'' balas Sania beranjak dari duduk nya, Sania pura-pura ngambek dan akan pergi dari ruangan Pinky.
''Nggak, bukannya gitu Sania? tapi bukan nya jam segini kamu selalu sibuk kalau aku ajak keluar untuk sekedar makan atau hangout,'' jawab Pinky mencegah kepergian Sania adik dari sahabat nya.
''Kamu marah ya sama aku, aku minta maaf ya, bukan nya mau ngusir tapi heran saja melihat kamu yang tiba-tiba datang ke sini, nggak ada angin ataupun hujan, kamu malah datang nyamperin aku ke butik, iya kan??'' lanjut nya.
''Hahaha,'' Sania malah terkekeh membalas ucapan dari Pinky. Pinky yang kesal hanya bisa men tuwir kepala Sania.
Sania memonyongkan bibirnya, namun Pinky tak menghiraukan lagi, Pinky sudah tau kalau Sania cuma pura-pura doang.
''Sudah nggak usah pura-pura ngambek, cepat minum jus nya, dan katakan mau apa ke sini,'' Ujar Pinky menaruh minuman dingin ke tangan nya.
''Sania mau... mau,''
''Mau apa sich Sania? kayak orang mau meryd saja gugup nya kebangetan,'' potong Pinky.
__ADS_1
''Kak Pinky kebiasaan dech? selalu memotong ucapan Sania, mengkaaal kan jadinya,'' gerutu Sania yang selalu di potong kalau sedang berkata.
''Hahaha.... lagian kamu gugup githu, gagu apa gugup nich?'' ledek Pinky