Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 112 Kekhawatiran tuan Arzan


__ADS_3

Keluarga tuan Arzan kini tengah menikmati liburan nya di desa, di mana di sana terdapat sebuah danau yang sangat indah, Rian dan Roni sudah menyiapkan pancingan nya, sedangkan tuan Arzan membantu sang istri, Riana dan juga Sania ikut membantu tuan Arzan dan tante Citra.


''Kenapa kita harus pergi ke sini sich Ma? kita kan bisa pergi ke pantai dan jalan jalan di sana, dan di sana juga sudah terdapat warung warung yang menyediakan keperluan kita tanpa harus membawa sendiri dari rumah, iya kan?'' sela Riana ketika Papa nya mendirikan meja yang sengaja ia bawa dari rumah nya.


''Di sini bagus kok kak Ri, coba kak Riana lihat ke barat sana, kakak beradik itu sudah mulai memancing di danau itu,'' sambung Sania yang menaruh barang barang bawaan nya di samping Om dan tantenya.


''Ich... Sania nyebelin dech! bukannya ngebela aku malah ngebela Mama sama Papa secara tak langsung gitu sich?'' balas nya menggembungkan pipi chubby nya.


''Sudah? lebih baik kita nikmati saja dulu pemandangan di sini nggak kalah asiknya tau,'' sambung Mama Citra tersenyum pada sang puteri dan juga ponakan cantiknya.


''Lebih baik kalian pergi ke tempat kakak kamu sanah, memancing lebih asik tau,'' Ucap Mama Citra mengusir secara haluy ponakan beserta puteri nya.


''Sudah lah kak? besok besok kita kan bisa pergi ke pantai nya, lagian kalau ke pantai panas kak, kalau di sini kan adem banget? apalagi angin nya sejuk kan,'' Sania mencoba membujuk sang kakak agar tidak mempermasalahkan lagi jalan jalan hari ini.


Sania dan Riana akhirnya menghampiri Rian dan juga Roni, yang sedang asik memancing, kini pancingan Roni bergerak. Umpan yang ia pasang sudah di makan ikan, dengan secara perlahan namun pasti, Roni menarik benang agar ikannya terlihat ke permukaan? dan benar saja ikan yang memakan umpan nya sangat besar, dia tampak bahagia sekali karena ikan yang ia dapat kan sangat besar.


''Yeeyy... ikannya besar banget, kita bakar saja yuk?'' Sania terlihat sangat senang, Riana yang melihat kecerian di wajah adik sepupunya ikut merasa senang.


''Iya kak? kita bakar enak nich, kan tadi Papa bawa panggangan,'' sambung Roni yang langsung di angguki oleh Riana dan juga Rian.


Rian meninggalkan pancingan nya, untuk mengambil pisau di meja yang sudah siap di dekat mobil.


''Ada apa kak?'' tanya sang Mama pada putera nya.


''Rian mau ambil pisau Ma, mau bersihkan ikan habis itu kita bakar ikan bagaimana?'' jawab Rian menunjuk ke arah ikan yang kini tengah berada di tangan nya.


''Lumayan lah buat makan kita berdua, iya kan Ma?'' Ujar tuan Arzan menggoda putera nya.

__ADS_1


''Enak saja, ini hasil tangkapan Roni Pa? bukan tangkapan Rian,'' jawab Rian melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


''Ya sudah, lebih baik Papa siapin panggangan nya Mama mau nyiapin bumbu bumbu nya dulu oke?'' sela Mama Citra pada sang suami, tuan Arzan merengut di saat istri nya menyuruh nya menyiapkan panggangan.


''Kak pancingan kak Rian bergerak tuh? cepat tarik,'' seru Roni pada Sania, Sania yang terkejut langsung mengambil pancingan, dan benar saja umpan yang biasa pasang di kail nya mendapatkan ikan yang lebih besar dari punya Roni barusan.


''Dek? bantuin aku nggak kuat nich, berat banget!'' seru Sania sambil memegang pancingan nya agar tidak di bawa kabur.


Roni dengan cepat menghampiri Sania yang tengah memegang pancingan tersebut, Roni membantu dengan jaring setelah ikan nya muncul di permuka'an.


''Wah... besar banget dek? kamu hebat banget sich kalau soal mancing memancing,'' teriak Riana yang lompat lompat kegirangan.


Roni membawa ikan yang ia dapatkan barusan kepada sang kakak yang sedang membersihkan ikan hasil tangkapan nya.


''Ada lagi?'' tanya Rian menatap ke arah Roni yang tengah memegang jaring yang berisi ikan besar.


''Ini tangkapan kak Sania kak, dia lebih hebat di banding Roni dan tentunya kak Rian juga gitu?'' ledek Roni seraya terkekeh melihat expresi sang kakak yang kini tengah mengerutkan kening nya.


''Nggak apa apa kok, cuma kaget saja dengernya. Lagian siapa yang nangkap ni ikan kan kita akan makan bareng-bareng,'' sahut Rian membalas ucapan adiknya barusan. Akhirnya mereka berdua terkekeh membuat tuan Arzan dan juga Mama Citra menoleh keasal tawa'an.


Sania dan juga Riana sedang bercanda tawa di pinggir danau yang rindang dengan pemandangan yang indah dan juga sejuk. Sampai akhirnya mereka berdua di panggil tuan Arzan untuk mereka makan bersama karena ikan bakar nyansudah matang.


''Ayok sini makan! ikannya sudah mateng,'' teriak tuan Arzan yang langsung di angguki keduanya.


Sania dan Riana melangkah menuju ke mobil di mana di sana sudah berkumpul semua nya.


''Kayaknya enak nich Tan?'' seru Sania mencomot ikan bakar nya.

__ADS_1


''Ayo makan, ikan nya banyak kok,'' suruh sang tante dan meyendokkan nasi kepiring Sania dan juga yang lainnya.


''Sania nyesel nggak ikutan bantuin bakar ikan nya?'' Ucapnya lirih.


''Sudah, yang penting kita makan, masalah belajar memasak kan bisa si rumah kapan kapan?'' celetuk Rian yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari semua orang di sana.


''Apa sich, kenapa kalian pada lihatin gue sich? nggak asik ach,'' gerutu Rian karena tatapan sang Papa lah yang membuat dia merinding.


''Jadi pengen belajar masak nich?'' gumam Sania dengan nada liriknya, dia menyuapkan makanan nya ke dalam mulut namun tatapan nya memandang lurus ke depan, seakan-akan dia melihat sesuatu di bawah pohon besar itu.


'Kenapa harus sekarang sich sakit kepalaku ini menyerang, ini momen langka yang bisa aku dapatkan sekarang, karena Om Arzan sangat sibuk dia menyempatkan libur dari kantor nya hanya demi aku dan semua nya,' Ucap Sania dalam hatinya.


Tiba-tiba dari hidung Sania mengeluarkan darah segar yang mengalir begitu saja, Sania buru buru mengambil tisu dan mengusapkan ke hidungnya, tingkah Sania tak luput dari pandangan Riana dan juga tuan Arzan, sedang kan sangat istri lebih memilih pura pura nggak melihat semua nya, atau dia akan menangis meratapi penyakit yang di derita Sania saat ini.


Sania tiba-tiba pingsan setelah mengusap darah di hidungnya. Membuat semua orang panik dan khawatir akan terjadi sesuatu pada Sania.


''Ayo cepat buka mobilnya, kita harus secepatnya membawa Sania ke rumah sakit,'' teriak tuan Arzan yang kini tengah menggendong tubuh lemah Sania.


''Pa? dia nggak bakalan apa apa kan Pa, Riana takut terjadi sesuatu pada Sania Pa?'' Ucap Riana dengan tangisanya yang sudah tak bisa di bendung kembali.


''Sudah kalian lebih baik berdo'a untuk kesembuhan Sania, dia hanya membutuhkan sambungan do'a saat ini,'' jawab tuan Arzan memasukkan tubuh Sania kedalam mobil yang di mana di sana sangat istri sudah menunggunya di dalam, kepala Sania di taruh di atas paha tantenya yang saat ini sedang menahan tangis agar Sania tidak merasa sedih.


''Ayo Mas cepat kita pergi ke rumah sakit sekarang, biar anak anak yang membereskan ini semua,'' gumam Citra menatap kepada anak anak nya yang berdiri di luar mobil.


''Ma, Riana mau ikut? Riana mohon Ma?'' sela Riana menangkuokan kedua tangan nya ke depan dadanya, tuan Arzan mengangguk dan Riana pun memasuki mobilnya, tuan Arzan sesekali melihat kebelakang dan ke sampingnya, semua orang yang ia sayangi tengah bersedih melihat ponakan dan juga saudara sepupu nya yang sedang sakit parah. Tuan Arzan memilih memfokuskan lurus kedepan agar terhindar dari kecelakaan juga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2