Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 174 Kepergian Sania


__ADS_3

Arlan mengambil kunci mobil nya dan tak lupa menyambar jaket yang di sampirkan di sandaran kursi nya.


Arlan segera pergi dari apartemen nya, dia sengaja tidak menghubungi keluarga istri nya lagi, takut nya Bunda nya khawatir dengan kepergian sang istri.


''Sebenarnya kamu pergi kemana sich sayang? aku sangat khawatir sama kamu sekarang,'' gumam Arlan di dalam mobil nya, dia menyusuri jalanan yang di padati dengan berbagai macam kendara'an yang berlalu lalang.


Kini Arlan menuju ke rumah sakit hanya untuk bertanya kepada salah satu dokter nya, siapa tau sang dokter masih stanby di sana.


''Selamat malam tuan Arlan?'' sapa Pak satpam yang bertugas berjaga pada malam ini, mereka yang bertugas sangat mengenal dengan Arlan dan juga Sania, karena mereka berdua begitu baik kepada mereka semua.


''Apa dokter Karin ada di dalam?'' tanya Arlan dengan ramah.


''Ada tuan, dokter Karin belum pulang, karena mobil nya juga masih ada,'' jawab nya tak kalah sopan dari Arlan.


''Terima kasih Pak, kalau gitu saya masuk dulu,'' pamit nya seraya melangkah kan kakinya menuju ke ruangan dokter Karin yang tadi menangani istri kecil nya.


Arlan memgetuk pintu ruangan dokter Karin dari luar.


Tok tok tok


''Masuk,'' kata dokter Karin menyuruh masuk kepada seorang yang mengetuk pintu ruangan nya, dokter Karin mengira dia adalah suster yang mengantarkan pesanan nya ke ruangan nya.


''Apa saya mengganggu waktu dokter Karin?'' tanya Arlan ketika sudah masuk ke ruangan sang dokter.

__ADS_1


''Tidak sama sekali Tuan, saya juga masih berkemas?'' jawab nya menghentikan tangan nya yang tengah membereskan meja kerja nya. ''Ada apa Tuan Arlan malam malam datang menemui saya?'' tanya nya dengan nada ramah dan menatap ke arah Arlan yang tengah khawatir.


''Apa tadi siang istri ku datang ke sini Dokter?'' tanya Arlan memulai obrolan nya.


''Iya, tadi Nona Sania datang kemari dan belum sempat melakukan pemeriksa'an? Nona Sania malah pergi begitu saja,'' jawab nya singkat, namun dokter Karin malah merasa heran dengan kedatangan Arlan malam malam seperti ini, lagi pula Sania juga sudah pergi tadi siang, pikir dokter Karin.


''Apa sebelum nya istri saya mengatakan sesuatu Dokter?'' tanya Arlan dengan nada lirih.


''Tidak ada Tuan, tapi saya sempat melihat raut wajah Nona Sania terlihat sangat sedih ketika masuk ke dalam ruangan saya,'' terang dokter Karin kepada Arlan.


''Sedih kenapa Dokter,'' tanya nya lagi dengan sedikit khawatir, takut nya sang istri malah bertemu dengan seseorang dan membuat dia menjadi sedih.


''Saya juga nggak tau Tuan, namun Nona Sania sempat bertanya masalah kesuburan nya tadi siang, saya juga cukup kaget mendengar pertanya'an Nona Sania?'' lanjut dokter Karin tanpa ada yang di tutup tutupi lagi dengan Arlan.


''Apa terjadi sesuatu Tuan dengan Nona Sania?'' tanya dokter Karin memberanikan diri untuk mengetahui Arlan suami dari pasien nya datang ke ruangan nya, apalagi ini sudah malam dan bukan jam untuk berkonsul apalagi jam untuk periksa.


''Terima kasih Dokter? saya permisi,'' pamit Arlan karena ini sudah malam dan Dokter Karin juga sudah ingin pulang ke rumah nya.


''Sama-sama tuan?'' jawab Dokter Karin menganggukkan kepalanya pelan.


Arlan merogoh saku celana nya untuk mengambil ponsel, dia mencari nomor Pinky kakak ipar nya? siapa tau tadi Sania sempat mengobrol masalah kehamilan atau hal semacam nya.


-''Ya hallo, ada apa Arlan?'' tanya Pinky di seberang mengangkat panggilan suami adik ipar nya.

__ADS_1


-''Kak Pinky, Sania tadi sempat berkata masalah kehamilan nggak?'' tanya Arlan tanpa menjawab pertanya'an dari kakak ipar nya.


-''Iya, tadi sempat bilang kapan dia bisa hamil, tapi Bunda sudah mengatasi apa yang di katakan nya kok, memang ada masalah dengan semua itu,'' Ucap Pinky dengan raut bingung nya.


-''Sania ngomong apa saja sama Bunda kak?'' tanya Arlan lagi.


-''Setauku Sania hanya mengatakan, kenapa aku lama banget hamil nya, dan Bunda bilang mungkin suatu hati kamu akan segera hamil sayang? tetap bersabar dengan semua ujian yang di berikan Allah kepada mu, hanya kesabaran lah yang akan berbuah manis,'' jawab Pinky dengan menirukan kata kata dari mertua nya yang tadi di dengar nya.


-''Memang nya ada apa Arlan?'' tanya Pinky tiba-tiba, karena perasa'an mulai tidak enak dengan semua pertanya'an dari Arlan saat ini.


-''Sania belum pulang kak? aku sudah mencarinya tapi belum di temukan, dan sekarang aku berada di rumah sakit untuk menemui dokter Karin untuk bertanya Sania, tapi dia mengatakan kalau Sania sudah pulang dari tadi, dan dia juga belum sempat melakukan pemeriksa'an sama sekali. Tapi dokter Karin mengatakan kalau Sania sempat menanyakan masalah kesuburan kepada dokter Karin? Arlan takut terjadi sesuatu sama dia kak?'' ucap nya sedih, kesedihan nya sudah tidak bisa di bendung lagi.


-''Apa dokter Karin bilang sesuatu sama kamu Arlan,'' tanya Pinky yang mulai khawatir.


''Ada apa?'' tanya Karan ketika dia keluar dari kamar mandi nya. Pinky hanya menaruh telunjuk nya ke bibir tipis nya, agar suaminya tidak lagi bertanya.


-''Dia juga bilang, kalau Sania terlihat sedih ketika masuk ke dalam ruangan nya,''


-''Arlan? coba kamu lihat CCTV yang ada di rumah sakit, siapa tau Sania bertemu dengan seseorang sebelum dia masuk ke dalam ruangan dokter Karin, soalnya tadi dari sini dia tidak sedih sama sekali, bahkan dia bilang sama Bunda kalau dia akan menemui seorang anak yang terkena kanker yang berulang tahun, dia juga tadi bercanda dengan si gembul,'' jelas Pinky.


-''Kalau gitu aku matikan dulu telah nya, nanti aku akan hubungi lagi kak?'' kata Arlan memutuskan telfon nya dan melangkah pergi menuju ruangan operator.


''Tian Arlan?'' sapa satpam yang berjaga untuk memantay beberapa CCTV di rumah sakit itu.

__ADS_1


''Pak, boleh saya lihat CCTV tadi siang, tepat nya di lorong ruangan dokter Karin,'' sahut Arlan yang langsung mendapatkan anggukan dari satpam tersebut.


Arlan menatap sekitar nya ketika rekaman CCTV yang di perlihatkn oleh sang satpam.


__ADS_2