
Keluarga besar Sanjaya melihat Sania yang tengah menyantap makanan nya dengan di temani cogan di samping nya? membuat semua keluarga bahagia. Semoga kebahagiaan ini tak kan pernah hilang dari keluarga besar Sanjaya ini, terutama sang kakek yang begitu bahagia menatap cucunya yang kini sudah memakai baju syar'i karena penyakit ganas nya yang ia derita.
'Candra, coba lihat puteri kecil mu sekarang? betapa cantik nya dia dengan berpakaian seperti itu, aku harap kamu bantu do'a agar puteri kecil kamu bisa sembuh dari penyakit nya, dan menjalani rutinitas sebagaimana mestinya,' Gumam kakek Sanjaya dalam hati.
Selesai makan malam, sebagian keluarga besar Sanjaya sudah pamit undur diri, karena hari sudah semakin larut.
Begitu juga dengan Arlan, setelah berbasa basi dengan Bu Wati Arlan pun berpamitan, namun Karan malah menahan kepergian Arlan dan membawa nya ke ruang kerjanya.
''Lho jangan pulang dulu, ikut aku sebentar,'' ajak Karan membawa Arlan ken ruang kerja nya, di mana di sana sudah ada tuan Arzan, tuan Fabian dan juga Alex, asisten pribadi Karan itu sendiri.
Arlan masih bingung dengan Karan, kenapa dia membawa nya kene uang kerja dengan begitu banyak orang di dalam nya, 'Ada apa ini? apa mungkin dia sudah tau perihal aku mencintai Sania,' Arlan menerka-nerka.
''Ada apa Karan?'' tanya Arlan di sela sela kebingungan nya.
''Duduklah Arlan, aku tau kamu bingung dengan semua ini, namun aku tak tau harus meminta tolong sama siapa lagi selain sama kamu?'' sahut Karan menyuruh Arlan untuk duduk berkumpul dengan yang lain nya.
''Arlan, kami akan meminta pertolongan mu,'' sela tuan Arzan saat Arlan sudah duduk di sebelah Alex.
''Minta tolong? maksudnya tuan,'' tanya Arlan yang semakin kebingungan dengan ucapan sang tuan dari Ayah nya.
''Kantor cabang kami sedang di terpa masalah, dan aku minta tolong kamu untuk mengurus cabang tersebut, karena di sini sudah tak ada orang lagi yang bisa meng-handle kantor itu, Alex juga sedang mengurus cabang kantor kami yang sedang bermasalah juga, kayak nya ini ulah dari lawan bisnis Ayah yang akan menghancurkan perusaha'an perusaha'an kami, termasuk perusaha'an cabang dengan nama Sania,'' kata tuan Arzan menjelaskan.
__ADS_1
''Kenapa mereka menyerang kantor cabang Tuan, kenapa tidak langsung kantor pusat?'' tanya Arlan yang mulai tak mengerti, dan kenapa harus dia yang di tunjuk untuk mengurus kantor cabang, dan apa tadi? Sania, kantor itu milik Sania, pikir Arlan kini batin nya berkecamuk.
''Lawan kita sudah tau, kalau pemilik itu kini tengah sakit parah, dan mereka pikir kalau kita akan lebih fokus pada Sania, maka dari itu kita nggak bisa fokus dalam bekerja, begitulah mungkin pikiran lawan dari perusaha'an saat ini.''
''Tapi aku nggak mengerti kenapa hrus aku tuan,'' tanya nya masih tidak mengerti.
''Rencana nya Sania bulan depan yang akan mengurus perusaha'an itu, tapi kami pikir Sania tidak akan bisa dengan kondisi nya yang tidak boleh kecape'an dan tidak boleh memikirkan terlalu berat, itu akan membuat dia down,'' kini Karan yang menjelaskan perihal adik nya.
''Lebih baik kamu pikir pikir saja dulu, kami semua nggak maksa kok?'' sela tuan Fabian ketika melihat Arlan kebingungan mengambil keputusan.
Arlan mengangguk dan berpamitan kepada semua nya setelah meminta maaf, ''Maaf kan saya, bukan nya saya menolak? tapi saya butuh waktu untuk memikirkan tawaran kalian semua,'' jawab Arlan lembut, seraya melangkah pergi dari ruang kerja Karan.
Sania bersembunyi pada saat Arlan lewat di samping nya, ''Aku harus pergi sendiri ke sana besok,'' Gumam Sania ketika melihat Arlan sudah pergi.
Sania kembali ke kamar nya, dia membaringkan tubuh lelah nya, dia melepas hijab nya ketika sedang di dalam kamar nya, dia menaruh hijab di samping tubuh nya, agar di saat ada orang yang masuk ke kamar nya dia segera memakai kembali hijab nya.
Sania tidak bisa memejamkan matanya sampai dini hari, dia memutuskan untuk bermunajat kepada Allah SWT, dia mencurahkan semua isi hatinya kepada sang Khalik, dan setelah selesai Sania kini terlelap masih lengkap menggunakan mukenah nya, dia juga hanya beralaskan karpet dan juga sajadah.
Pagi kini sudah menyapa, Bu Wati yang masuk ke kamar Sania di buat bangunin puteri kecil nya. Betapa kaget nya ketika Bu Wati melihat Sania tidur di lantai, ''Sayang? bangun sayang,'' kata Bu Wati mengusap pipi Sania yang masih memejamkan mata nya.
''Bunda? Sania masih ngantuk,'' jawab Sania membuka mata nya karena terganggu dengan usapan tangan Bunda nya.
__ADS_1
''Bunda kenapa menangis?'' tanya Sania bingung melihat Bunda nya tengah terisak.
''Bunda kira kamu pingsan tadi, makanya Bunda langsung menghambur ke kamu tadi,'' sahut Bunda nya sedih.
''Maafkan Sania Bunda, Sania nggak bermaksud untuk bikin Bunda sedih seperti ini,'' sesal Sania yang di angguki sangat Bunda.
''Sudah nggak apa apa kok, Bunda sudah maafkan juga, sekarang bangun sudah pagi,'' balas Bu Wati ketika melihat puteri kecil nya beranjak dari sang Bunda.
''Bunda,'' panggil Sania ketika Bunda nya mau pergi.
''Iya sayang? ada apa,'' tanya Bu Wati lembut.
''Bun, Sania boleh pergi ke kantor cabang ya,'' ujar Sania takut takut. Takut nggak di ijinin, takut di omelin juga? karena dia sendiri baru sembuh dari sakit nya.
''Kamu yakin akan pergi ke sana?'' tanya sang Bunda yang langsung di angguki oleh nya, ''Kamu kan baru sembuh, Bunda khawatir takut nya kamu malah kenapa napa di sana,'' tambah sang Bunda, namun kali ini dengan nada sedih nya.
''Ini nich, yang Sania takutin kalau semua keluarga tau tentang penyakit Sania, apa apa selalu nggak boleh, apa apa selalu di larang!'' kesal Sania menuju ke kamar mandi tanpa menghiraukan Bunda nya yang masih diam mematung.
''Sayang, bukan Bunda nggak bolehin? Bunda cuma khawu saja,'' seru Bu Wati dari luar kamar mandi, namun Sania tidak membalas ucapan sang Bunda, Sania menulikan telinga nya tak mau mendengar.
Di dalam kamar mandi Sania menangisi takdir nya yang berbanding terbalik dengan keinginan nya, Sania menghapus air matanya dan menyirami tubuh nya dengan air dingin, pagi ini dia sudah merasa berdosa karena sudah melawan ucapan dari Bunda nya.
__ADS_1