
''Iya Ma, mereka sangat hebat, meski mereka dari keluarga yang tak mampu tapi mereka bisa masuk sekolah elit seperti sekolah adek sekarang,'' Ujar Riana pada mbak Citra sang Mama.
''Mereka?'' mbak Citra nampak mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang anak. ''Maksud adek dengan mereka itu siapa? Mama nggak ngeh,'' tanya mbak Citra penasaran.
''Ya mereka Ma? anak laki-laki yang bernama Karan itu punya seorang adek, dan adeknya juga mendapatkan beasiswa, berrti kan mereka hebat hebat,'' jawab Riana beranjak dari tempat duduk nya, dan menghampiri sang Papa yang duduk sendirian di sofa panjang.
''Papa sibuk ngapain sich?'' tanya Riana dan melirik ke arah ponsel sang Papa walau hanya sekilas.
''Ich, anak Papa kepo nie ya sekarang?'' gumam Mas Arzan dan mencubit pipi tembem puteri-nya.
''Lagian Papa sibuk sendiri, Riana sama kak Rian lagi menghibur Mama, ech Papa malah sibuk dengan Gadget nya,'' celetuk Riana yang langsung cemberut.
Mbak Citra melanjutkan ceritanya bersama si kakak, sedangkan si adek sedang berdebat dengan sang Papa.
''Kak, misalkan Karan itu ternyata saudara kakak, kakak akan bersikap bagaimana sama dia, secara dia dari keluarga orang yang tak mampu, ini misalkan ya kak?'' tanya mbak Citra pada anak laki-laki nya.
''Kalau Karan benar saudara kakak, ya harus kakak akui dong Ma, harta tak akan di bawa mati, tapi saudara akan selalu ada di kala kita sedang kesusahan dan dalam kesulitan pun Ma, biarlah kakek yang menjadi orang yang ter egois, kakak ingin menjadi seperti Papa yang sayang sama keluarga nya, tanpa memilih apa orang itu kaya atau orang itu miskin,'' jelasnya panjang lebar. Mbak Citra tersenyum mendengar nya, 'Memang benar sayang, harta tidak akan kita bawa mati, hanya amal dan juga ibadah kita saja yang akan di bawa kita kelak kalau sudah tiada,' gumam mbak Citra pelan.
''Ma? kakak akan mencari tau siapa sebenarnya Karan itu, atau Mama ingin bertemu dengan dia besok,'' Ucap Andrian pada Mama nya.
Mbak Citra menggeleng pelan. ''Nggak kak, Mama takut kecewa dengan semua ini. Memang wajah dia sangat mirip dengan kakak nya Mama, tapi kan kakak nya Mama ada di desa, bukan di kota seperti Karan sayang,'' lirih nya.
''Ma? kalau dengan melihat Karan Mama bisa tersenyum dan menghilangkan rasa sedih Mama selama ini, adek nggak apa apa kok Ma, adek akan bahagia kalau Mama juga bahagia,'' kata Riana bijak.
__ADS_1
''Makasih sayang? kalian berdua memang anak anak Mama yang paling baik,'' mbak Citra memeluk Andrian, ''Sini sayang?'' panggil mbak Citra memanggil anak gadisnya yang sedang bersama Papa nya.
Riana berlari dan menghambur ke pelukan Mama nya juga, ''Papa nggak di peluk nich ceritanya,'' ujar Mas Arzan ngambek.
''Sini Mas,'' panggil mbak Citra pada suaminya.
''Papa sini,'' panggil Andrian dan juga Andriana.
Mas Arzan beranjak dari tempat duduk nya dan menghampiri keluarga kecilnya, Mas Arzan mencium kening Mbak Citra, dan mencium pipi kedua anak nya, yang tersenyum bahagia dalam pelukan nya.
''Kakak sama adek tidur ya, sudah malam nich? besok kan harus pergi sekolah,'' gumam mbak Citra pada si kakak.
''Oke, tapi Mama janji ya sama kakak, kalau Mama nggak bakalan sedih lagi seperti tadi,'' kata Andrian mengingat kan Mama nya.
mbak Citra mengangguk, ''Mama janji tidak akan sedih kok sayang, Mama sangat bersyukur sudah di beri kalian di dalam hidup Mama,'' jawabnya mengumbar senyum pada kedua anaknya.
''Ya sudah kalau gitu, kakak dan adek pamit mau ke kamar, sekalian mau istirahat juga.''
''Iya, selamat malam anak anak Mama,'' mbak Citra mencium pipi putera dan juga puteri nya.
Andrian dan Andriana menghampiri Papa nya dan mencium pipi sang Papa, ''good night Mama and Papa?'' ucap keduanya kompak, dan menghilang setelah pintu kamar sang Mama di tutup oleh kedua bocah itu.
''Kak, gimana nich? apa besok Mama suruh ke sekolah saja, biar Mama bertemu lagi dengan kak Karan itu,'' tanya Riana pada kakaknya di perjalanan menuju ke kamar nya.
__ADS_1
''Adek? kan Mama sudah bilang nggak usah, mungkin Mama lagi nggak enak badan atau mood nya juga lagi nggak bagus,'' jawab Andrian merangkul Riana.
''Sudah kamu masuk sanah, besok masuk pagi,'' Andrian mengingat kan sang adek agar cepat tidur dan agar cepat bangun besok pagi.
''Siap komandan?'' sahut Riana tertawa dan masuk ke dalam kamarnya, Andrian hanya menggeleng pelan dengan kelakuan adek kembarnya.
Andrian juga menuju ke kamarnya dan membaringkan tubuh nya di kasur king size nya, ya karena semenjak mereka umur 10 tahun, Andrian dan Andriana memilih untuk tidur di kamar sendiri sendiri, ketimbang tidur di 1 kamar. Andrian sendiri tak langsung memejamkan matanya, dia menatap langit langit kamarnya yang berwarna biru tersebut.
''Mama, apa mungkin Karan itu saudara sepupu Andrian,'' Gumam Andrian di sela sela lamunan nya.
Akhirnya Andrian menutup matanya, dia mulai menjelajah ke alam mimpi nya yang begitu indah, sampai sampai Andrian terbuai dengan mimpi nya.
Di dalam mimpi Andrian melihat sang Mama begithu bahagia dengan seorang laki-laki yang tak ia kenal, sang Mama memeluk laki-laki tersebut dengan begitu erat, Andrian ingin menyapa Mama nya namun sang Mama hanya mengacuhkan nya, malah Mama nya meninggalkan Andrian begitu saja di tempat yang begitu indah. Andrian memanggil manggil sang Mama yang terus saja melangkah pergi bersama laki-laki yang ia rangkul.
''Mama, Mama, Mama...!'' teriak Andrian yang langsung terbangun dari tidurnya.
''Astaghfirullah hal adzim? cuma mimpi, tapi siapa laki-laki yang bersama Mama itu, keliahatan nya sangat bahagia sekali dengan laki-laki itu,'' Gumam Andrian mengusap ngusap wajahnya.
Andrian melihat benda bulat yang tergantung di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Andrian turun dari ranjang nya dan berjalan menuju ke kamar mandi, Andrian mengambil air wudhu guna melakukan sholat sunnah di sepertiga malamnya, dan di lanjut dengan sholat hajat, agar semua yang ia inginkan di kabulkan oleh yang maha Kuasa.
Andrian membentang kan sajadah yang di belikan sang Mama ketika Andrian masih berusia dini, di mana waktu itu Andrian dan juga Andriana baru di ajarkan sang Mama untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim yang baik dan taat dalam agama yang di anutnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1