
''Maafin tante ya sayang? bukan maksud tante mau bilang kayak githu,'' sahut Cinta memeluk ponakan laki-laki nya, dia pun meneteskan air mata nya kembali, mengingat kesulitan kesulitan yang di alami oleh ponakan dan juga kakak ipar nya selama ini, Karan mendengarkan kepalanya, menatap wajah sang tante yang kini tengah menangis seraya memeluk diri nya, Karan berinisiatif menghapus air mata sang tante dengan tangan nya yang lumayan sedikit kasar. Karan tersadar kalau tangan nya kasar. Cinta memegang tangan Karan yang sudah di tarik dari pipinya, Cinta begitu syok melihat tangan ponakan nya, kini air mata nya membanjiri kedua pipi nya kembali setelah melihat kedua tangan Karan.
'Maafkan tante Karan, tante benar-benar nggak tau penderitaan yang kamu alami sekarang ini, maafkan tante?' batin nya menciumi tangan karya yang sedikit kasar tersebut.
''Maaf tante, tangan Karan kasar begini. Pasti pipi tante sakit kan?'' lirih nya, seraya tersenyum.
''Jadi? mulai sekarang Riana manggil kak Karan kakak dong?'' Ucap Riana senang.
Kak Citra mengangguk sembari berkata. ''Iya, dia emang kakak kalian, dan sudah seharus nya kalian manggil kakak lah'' jawab kak Citra pada kedua anak anak nya.
''Yey... Mikaela punya kakak banyak sekarang, tambah seru nich kalau main?'' celoteh Mikaela menghampiri Karan dan sang Mama, Mikaela melepaskan tangan Mama nya melepaskan pelukan nya dari tubuh Karan.
''Mama udahan peluk kak Karan nya, sekarang giliran Mikaela yang peluk kak Karan dan kak Sania,'' tempat Mikaela dengan mimik wajah nya seimut mungkin, dan tak lupa pula bibir nya yang monyong kayak bebek. Mikaela memeluk kedua nya dengan erat, seraya mencium kedua pipi Karan dan pipi Sania secara bergantian.
Melihat tingkah laku Mikaela yang di perlihatkan untuk kedua kakak nya membuat semua orang yang berada di sana terkekeh geli, namun itu berlaku hanya sesaat saja. Karena Mikaela tiba-tiba memperlihatkan wajah sedih nya.
''Kamu kenapa sayang?'' tanya Fabian sang Papa.
''Mikaela sedih Pa? Mikaela punya banyak kakak, tapi yang membuat Mikaela sedih adalah? karena Mikaela tak punya adik Pa,'' lirih nya, dan berlari memeluk Papa nya, yang berada tak jauh dari nya.
''Kan sebentar lagi, kamu bakalan punya adek, Mikaela lupa ya? kalau tante Citra sekarang sedang hamil, jadi tak akan lama lagi kalian semua bakalan punya adik,'' jelas Mas Arzan, mengelus pundak Mikaela lembut.
Mikaela menghapus air mata nya dan mengurai pelukan nya pada sang Papa, Mikaela pun beralih menghampiri Bu Wati yang sedang mengobrol ringan dengan Mama dan juga tante nya.
__ADS_1
Mikaela duduk di pangkuan Bu Wati, bibir Mikaela masih cemberut ketika duduk di pangkuan tante nya.
''Bu, kak Karan dan ka Sania boleh nggak ikut Mikaela ke rumah Mikaela, biar Mikaela nggak kesepian di rumah, sebenarnya Mikaela kesepian banget di rumah besar sana, Mikaela adalah anak tunggal, Mama sich nggak cepat cepat bikinin Mikaela adik. Teman teman Mikaela semua nya sudah pada punya adik di sekolahan? katanya di bikinin sama Mama nya,'' cerita Mikaela polos. Bu Wati yang mendengar nya hanya bisa tersenyum dan menggeleng pelan menanggapi ucapan Mikaela barusan.
''Mikaela harus sabar ya, jangan lupa berdo'a pada Allah, agar segera di kasih sama Allah yang maha Kuasa. Yang di katakan mereka salah sayang? bukan nya di bikinin, masak ia kita bikin seorang adik githu saja. Emangnya bikin kue cuma di bejek bejek langsung jadi githu,'' jelas Bu Wati pada Mikaela.
''Terus kalau nggak bikin, bagaimana bakalan jadi tante?'' tanya Mikaela lagi.
''Gini ya Mikaela sayang? seorang anak itu adalah titipan Allah SWT, jadi kita harus benar benar menjaga anak itu dengan baik, karena kita sudah mendapatkan amanah dari nya,'' jelas Bu Wati yang di angguki Mikaela.
''Mikaela mau bersabar tante, dan Mikaela juga akan rajin berdo'a pada Allah, agar Mikaela di karuniai seorang adik,'' jawab Mikaela mencium pipi Bu Wati tante nya.
''Sudah siang nich? yuck kita makan?'' ajak mas Arzan mengalihkan pembicara'an nya.
''Nggak usah mbak? kita makan di luar saja, ayo?'' cegah kak Citra yang memegang tangan Bu Wati.
''Iya mbak, ayo kita berangkat sekarang saja, apa masih mau ganti baju dulu, atau langsung cus berangkat?'' Ujar Cinta dengan senyum manisnya. Fabian tak pernah melihat istri nya seceria sekarang, namun hari ini dia begitu bahagia dan begitu senang, dan senyuman nya tanpa di buat buat lagi, senyuman nya asli menggambarkan rasa bahagia nya yang selama ini hilang.
Cinta bertanya kayak githu karena sang kakak ipar memakai daster rumahan.
Bu Wati melihat ke bawah, dan ternyata benar dia hanya memakai baju daster yang sudah jelek, dan ada beberapa bagian ada yang koyak, karena daster yang ia pakai sekarang, adalah pemberian suami nya saat almarhum menerima gaji pertama-nya.
''Maaf kak? bukan maksud Cinta untuk membuat kakak jadi sedih gini,'' Ucap Cinta sedih.
__ADS_1
''Nggak apa apa kok dek? mbak cuma nggak sadar saja masih pakek baju ini di depan kalian semua nya,'' jawab Bu Wati memegang tangan Cinta.
''Tante, Ibu sangat sayang sama baju yang Ibu pakai sekarang, karena kata Ibu, baju ini pemberian Ayah dengan gaji pertama nya,'' terang Karan.
'Ya Allah? kak Candra hanya bisa membelikan baju ini untuk istri nya, sungguh malang nasib kakak ku saat itu? maafin Citra kak?' lirih Citra mendongakkan kepala nya agar air matanya tidak terjatuh.
''Ya sudah, mbak ganti baju dulu ya,'' kata Bu Wati mengembangkan senyuman nya.
Bu Wati beranjak dari duduk nya, berjalan menuju ke kamar yang ukuran nya tak terlalu lebar.
''Apa mereka tidak akan malu, membawa ku makan di luar,'' gumam Bu Wati saat sudah berada di dalam kamar nya.
Bu Wati mengambil baju gamis nya yang berwarna tosca, baju itu bukan baru lagi. Tapi masih layak untuk di pakai keluar rumah nya. Bu Wati memakai hijabnya yang berwarna senada dengan gamis nya.
Baju tersebut ia beli ketika ia masih sendiri, namun setelah menikah ia tak pernah lagi beli baju baru lagi, asalkan cukup untuk membeli beras dan kebutuhan keluarga nya dia sudah sangat bahagia sekali.
Sedangkan Karan hanya memakai kaos oblong yang selalu ia pakai ketika mau berangkat ke tempat kerjanya.
Kak Citra tersenyum miris melihat anggota keluarga nya yang hidup serba kekurangan selama ini, Begitu juga dengan Cinta. Dia menutup mulut nya dengan tangan satu nya, sedangkan tangan yang kiri memegang erat tangan kak Citra.
.
.
__ADS_1
.