
''Itu kan cowok yang aku taksir Gayatri?'' rengek Silvia yang langsung mendapatkan tatapan tak suka nya.
''Kita harus bagaimana sekarang? semua cowok yang kita taksir selalu direbut oleh gadis kampung itu, apa sich yang kurang dari kita Gayatri, kita tu sudah cantik dan seksi seperti ini, kaya apalagi? sedangkan dia hanya gadis miskin yang kebetulan saja diterima di kampus kita,'' seru Silvia menggeratkangigi nya sehingga berbunyi gemelutuk.
''Sudah lah, kita bahas besok masalah ini, aku ingin memberikan pelajaran sedikit pada gadis kampung yang tak tau diri itu,'' jawab Gayatri tak kalah kesalnya dari Silvia.
Acara pun kini di mulai dengan nyanyian selamat ulang tahun, dan lanjutkan dengan tiup lilin, serta keluarga besar Gita memberikan selamat pada Gita yang sekarang berulang tahun.
Gita memegang tangan Sania untuk di kenalkan dengan keluarga besar nya, Sania sendiri tidak mau dirinya di kenalkan dengan keluarga besar Gita, namun Gita bersi keras untuk mengenalkan teman baiknya di kampus tempat ia mengenyam pendidikan.
''Ma, Pa? kenalin ini Sania,'' ujar Gita ketika sudah ada di hadapan papa dan juga mamanya.
''Sania ya,'' sapa mama Gita ramah. Sania juga menjawab sapaan dari mama teman nya dengan ramah juga, tak kalah ramah dari mama Gita.
''Iya tante?'' Sania mengulurkan tangan nya dan menciun punggung tangan mama Gita.
''Wach...? ternyata kamu cantik juga ya, selama ini Gita selalu menceritakan tentang kamu yang pekerjaan keras dan juga sangat pintar dalam segala hal?'' puji mama Gita.
''Ach jangan memuji ku seperti itu tante, Gita saja yang melebih lebihkan, sebenarnya yang pintar itu adalah Gita,'' jawab Sania yang selalu mengembang kan senyum nya.
Lama mereka mengobrol bareng di tempat yang tersedia di dalam restoran tersebut, sampai akhirnya datang lah seorang perempuan yang berpenampilan elegan membuat semua mata terperangah menatap nya, karena wanita itu begitu cantik, bahkan nyaris sempurna tanpa satu celaan sedikit pun. Tapi nyatanya semua nya salah, dia tidak memiliki tatakrama yang baik, bahkan hampir mendekati tak punya rasa kemanusiaan sama sekali.
__ADS_1
Wanita cantik itu tak lain adalah saudara sepupu Gita, sebut saja dia Arletta. ''Letta, kenapa kamu telat datang nya?'' tanya Gita ketika sang sepupu sudah ada di hadapan nya, Arletta mencium pipi kanan dan pipi kiri nya Gita, seraya mengucapkan kata selamat ulang tahun pada sang sepupu yang sudah lama tak ia temui.
''Jadwal ku sibuk, ini saja setelah selesai tag aku langsung menuju kemari, lagian kamu bisa kan mengadakan acara jya di hotel bintang lima, kenapa harus di restoran seperti ini Gita, sebenarnya kalau aku boleh jujur sama kamu, aku males datang ke restoran ini,'' ucap nya ketus, dan menatap restoran dengan tatapan nyalang. Sania yang mendengar ucapan dari sepupu temn nya hanya bisa terkejut, karena restoran ini adalah punya dia.
'Emang ada apa dengan sepupu Gita, sehingga dia begituntak suka dengan restoran ku, apa sebelumnya ada pegawai ku yang berbuat salah padanya, atau masalah lain nya,' Ucap Sania dalam hati.
''Ech tolong ambilkan aku minum, cepat dan nggak pakek lama,'' suruh Arletta pada Sania, Sania yang di suruh hanya mengerutkan keningnya.
''Ech...! lho budek ya, cepat ambil kataku,'' sarkas Arletta.
''Arletta, dia bukan pelayan di restoran ini, ada banyak pelayan di sini kenapa harus menyuruh Sania,'' bela Gita yang tak suka dengan sikap Arletta yang suka nyuruh orang seenak nya.
''Sudah lah Gita, ini acara mu, aku nggak mau ada ribut ribut di acara pestamu ini,'' sahut Sania, dan beranjak dari duduk nya menuju ke meja yang ada beberapa minuman.
''Emang dia siapa, berani menyuruhku seperti itu, hanya dengan status ku yang miskin ini, lebih tepatnya pura pura miskin,'' gumam Sania kesal dengan sikap semena mena Arletta.
''Biar saya saja mengantarkan ini bos, dia emang wanita jahat bos, dia juga sombong dan sangat judes orang nya, hanya di depan kamera saja dia bersikap baik dan sok sopan kalau sedang mengobrol dengan orang lain, tapi kalau tidak ada kamera? ya sikap kayak gitu?'' bisik pegawai wanita yang menghampiri Sania.
''Ya sudah biar saya saja yang bawa minuman ini, entar kamu malah kena semprot lagi sama si cewek ngeselin tu.'' tolak Sania, yang tak ingin pegawai nya terkena masalah hanya gara gara dia yang membawa minuman yang ia pegang sekarang ini.
Sania melangkah menuju tempat di mana dia meninggalkan keluarga Gita dan juga sepupu nya Arletta, ''Nona ini minuman nya, semoga suka?'' tutur Sania dengan ramah.
__ADS_1
''Ambil minuman saja berjam jam, kamu bisa kerja nggak sich,'' jawab nya ketus.
''Maaf saya...?'' ucapan Sania di potong oleh Gita.
''Arletta, aku kan sudah bilang kalau Sania bukan pelayan di sini, jangan mentang mentang kamu saudara ku lantas kamu bersikap yang sopan pada teman kampusku!'' jawab Gita kesal, kini suara nya sudah meninggi dan semua tamu yang menghadiri pesta tersebut sedang menatap ke arah Gita, sang tuan yang mengadakan pesta bertambah usianya.
''Sudah? aku nggak apa apa kok Git,'' gumam nya mengelus punggung teman nya.
''Tapi dia sudah sangat keterlaluan sama kamu Sania, aku nggak suka itu? walaupun dia adalah saudara ku tapi dengan dia bersikap seperti itu sama kamu,'' jawab Gita, matanya mulai berkaca kaca melihat sikap sang sepupu yang menurut dia sudah berubah, tapi malah sebaliknya, sikap dia lebih tak terkontrol lagi.
''Arletta, sebaiknya kamu cepat oergindari sini sekarang, jangan buat pesta adik kamu berantakan hanya gara-gara kamu yang bersikap tidak sopan pada teman Gita!'' Ujar Papa Gita yang kini sudah ada di samping puteri nya, tadi Papa Gita pergi setelah berkenalan dengan Sania dan juga bertegur sapa dengan teman puteri semata wayang nya.
''Om, aku tidak membuat masalah kok, kenapa om mengusir aku dari pesta ini, tadi aku cuma menyuruh pelayan ini saja untuk mengambilkan saya minum,'' jawab Arletta santai, dia masih duduk di tempat nya tanpa mau berpindah sedikit pun dari sana.
''Pa? aku sudah bilang kalau Sania bukan pelayan, tapi dia terus menyuruh Sania layaknya dia pelayan, dia itu teman Gita Pa?'' jelas Gita pada papanya, sedangkan air matanya sudah tak bisa di bendung lagi, air mata itu mengalir deras di kedua pipi mulus nya, aku juga tak tau kenapa Gita membela ku seperti itu, aku memanglah berpenampilan seperti layaknya semua orang yang hadir di pesta ini, tapi aku bukan lah orang yang gampang di tindas oleh kalian semua, 'Arletta, mungkin saat ini kamu sedang berada di atas awan, namun aku bisa menjatuhkan mu dengan satu jentikan jari saja,' Ucap Sania dalam hati, Sania mengangkat satu alisnya ke atas, seraya tersenyum smirk.
.
.
.
__ADS_1