Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 80 Rumah sakit


__ADS_3

Hampir setengah jam Arlan menunggu di luar, dan kini sang dokter yang menangani Sania akhirnya keluar juga dari dalam, Arlan menghampiri dokter dan bertanya. ''Bagaiman keadaan nya dokter, dia nggak apa apa kan?'' tanya Arlan beruntun.


''Dia baik baik saja, namun dia harus di rawat di sini dulu, kami harus memantau luka yang ada di kepala nya, saya takut dia gegar otak ringan, tapi saya harap pasien tidak mengalami itu semua,'' jelas sang dokter pada Arlan.


''Lebih baik tuan ke administrasi, agar pasien segera di pindah dari IGD,'' tambah nya lagi, yang di angguki oleh Arlan. Sang dokter undur diri menuju ruangan pasien lain nya.


Kini Arlan sedang mengurus administrasi untuk Sania, Arlan sendiri bingung mau memberi tahu pada Bunda nya atau tidak, yang di panggil Arlan Bunda adalah Ibu Sania.


Dia ragu ragu mengeluarkan handphone nya dari saku celana nya, dia terus menimbang nimbang mau menghubungi Karan atau sang Bunda yang jelas jelas bakalan sangat terkejut.


''Lebih baik aku menghubungi Karan saja, aku takut Bunda kenapa kenapa kalau aku memberitahu Bunda terlebih dahulu,'' gumam nya dan mencari nomor handphone Karan.


Arlan mendial nomor Karan, dan saat ini panggilan nya sedang tersambung namun Karan begitu lama mengangkat panggilan dari Arlan.


''Karan ayo dong di angkat? dalam keadaan mendesak seperti ini, kamu kenapa nggak cepat mengangkat telfon aku sich!'' Gumam Arlan kesal, dia meninjo udara meluapkan kekesalan nya pada Karan, karena telfon nya di abaikan.


Namun tak lama kemudian handphone Arlan bergetar, dengan cepat Arlan merogoh saku celana nya untuk mengambil benda pintar nya tersebut.


''Karan?'' Gumam Arlan segera menggeser layar handphone nya.


-''Hallo! ada apa kamu menelfon ku,'' tanya Karan ketika panggilan nya di terima.


-''Kenapa kamu nggak cepat angkat telfon ku tadi!'' jawab Arlan tak kalah dingin nya.


-''Sekali lagi aku tanya kenapa kamu menelfon ku, sudah aku bilang? kalau masalah restoran sudah aku serahkan pada Sania!'' Ucap Karan dengan ketus.

__ADS_1


-''Karan cukup! dengar kan aku dulu dan jangan harap aku akan menghormati kamu, kalau sikap kamu seperti ini terus!'' sarkas Arlan.


-''Cepat katakan? aku sedang sibuk,'' ketus nya.


-''Lebih baik kamu segera kerumah sakit, Sania sekarang di rawat disini,'' jawab Arlan yang membuat Karan terkejut bukan main.


-''Apa!!'' teriak Karan di seberang yang membuat Arlan menjauhkan handy nya dari telinga, karena suara teriakan Karan.


-''Gue tunggu di sini,'' ucap Arlan mematikan panggilan nya sepihak, yang membuat Karan bertambah kesal.


''Ada apa dengan Sania, kenapa dia sampai di rawat di rumah sakit gitu,'' Gumam Karan meraih kunci mobil nya dan segera menuju ke lift.


''Tuan muda?'' panggil sang asisten yang hanya mendapatkan tatapan saja dari Karan.


''Ikut aku sekarang,'' seru Karan datar dan berjalan memasuki lift untuk para petinggi perusahaan tersebut.


'Kenapa lagi sich bos? nggak ada senyum senyum nya sama sekali, bagaimana dia bisa punya pacar, dingin githu orang nya!' Ucap Alexander dalam hati, dan terus berjalan menuju parkiran setelah tadi keluar dari lift.


''Ambil mobil ku sekarang!'' titah nya datar dan melemparkan kunci mobil nya pada sang asisten.


Alexander hanya bisa menuruti apa yang di perintahkan oleh bos besar nya, tanpa bertanya ba bi bu, bagi Alexander adalah uang dan uang?.


''Ke rumah sakit sekarang?'' tutah nya lagi setelah memasuki mobil mewah nya yang kini di kendarai oleh sang asisten.


Alexander hanya menurut dan melajukan mobil nya keluar dari halaman kantor, dan kini sudah bergabung dengan pengendara lain nya.

__ADS_1


'Ada apa dengan Sania. Tiba-tiba perasaan ku nggak enak? apa jangan jangan dia dalam masalah besar ketika tadi menelfon ku,' Ucap Karan dalam hati, dia menjambak rambut nya dengan kasar. Semua itu tak lepas dari pandangan sang asisten.


'Ada apa sebenarnya, apa yang terjadi pada tuan muda? dan kenapa dia malah memintaku untuk membawa nya ke rumah sakit,' batunya Alexander yang melihat tuan muda nya gelisah.


''Alex, tolong lebih cepat lagi?'' perintah nya, Karan memejamkan matanya dengan menyenderkan kepala nya di sandaran kursi mobil nya.


Kini mobil mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit, Karan segera keluar begitu saja meninggalkan sang asisten yang masih menatap heran pada tuan muda nya.


''Benar benar aneh dengan sikap tuan muda yang tak bisa ditebak oleh siapa pun, tapi siapa yang sakit dan di rawat di rumah sakit ini. Bunda tadi pagi sehat sehat saja? Sania juga sehat kan?'' Alexander memeraa otak nya untuk berpikir siapa yang ada di dalam, dan sukses membuat tuan muda nya frustasi seperti tadi.


''Sudahlah? lebih baik saya turun saja dan akan memastikan sendiri siapa yang berada di dalam?'' Ucap Alexander pada diri jua sendiri.


Karan sudah bersama dengan Arlan, manajer restoran yang sangat ia percaya.


''bagaimana keadaan nya sekarang,'' tanya Karan ketika sudah sampai dan langsung bertanya pada Arlan.


''Lebih baik kamu masuk saja, kamu lihat sendiy kondisi nya saat ini.'' Gumam Arlan menepuk bahu Karan.


Sebenarnya Karan, Alexander dan juga Arlan adalah sahabat dan juga teman ketika kuliah di luar negeri dulu. Namun setelah mereka lulus kuliah, orang tua dari Arlan menyuruh nya untuk pulang, dan menjadi manajer restoran atas perintah dari tuan Arzan, yang tak lain adalah paman dari Karan. Sedangkan Alexander mendapat tugas untuk selalu berada di sisi Karan, dan juga membantu semua pekerjaan Karan selama di berada di luar negeri.


Ya, orang tua dari mereka berdua adalah tangan kanan dari keluarga Narendra, ayah dari tuan Arzan sendiri.


Karan membuka pintu IGD untuk melihat sang adik yang kini tengah berbaring di brankar rumah sakit. Sania masih belum di pindah karena dokter akan melakukan pemeriksaan kembali.


''Kamu kenapa dek? bangun lah, kakak sudah datang,'' Ujar Karan dengan lirih dan tanpa terasa air matanya meneteskan begitu saja ketika melihat sang adik tak merespon ucapan dari Karan.

__ADS_1


''Maaf tuan? saya akan memeriksa kembali pasien, dan setelah itu pasien akan di pindahkan ke ruang rawat,'' jelas dokter yang ingin memeriksa Sania.


''Baiklah dokter?'' jawab Karan dan undur diri dan kembali menghampiri Arlan, di sana kini sudah ada Alexander yang sedang memainkan ponsel nya dengan serius. Sebenarnya Alexander melihat laporan yang ia minta pada bawahan nya, dan bawahan nya mengirimkan lewat aplikasi watsap nya.


__ADS_2