
''Aku mau sup kepiting asparagus dan...'' mbak Citra terkejut melihat wajah anak laki-laki yang sedang menatap nya juga.
''Kak Candra?'' Gumam Citra pelan namun masih terdengar oleh sang puteri yang kebetulan duduk di samping nya.
''Candra siapa Ma?'' tanya Riana.
Karan mengerutkan keningnya, karena ada seorang tante yang mengenal Ayah-nya. Karan emang lebih mirip dengan Almarhum Ayah-nya, tapi dia tidak menyangka kalau masih ada orang yang mengenal sang Ayah melalui wajah Karan.
''Nama kamu siapa Nak?'' tanya lembut Citra pada Karan.
''Nama saya Karan Bu, ada yang bisa saya bantu?'' jawab Karan sekaligus balik bertanya.
''Tidak ada, hanya saja kamu mirip dengan kakak Ibu?'' lirih nya.
''Maaf saya tidak tau?'' sahut Karan.
''Ya sudah Karan, kamu semua pesan itu ya,'' Ucap Mas Arzan tersenyum, lalu kemudian mengelus punggung istri nya pelan, agar dia tidak merasakan kesedihan yang akan berimbas pada calon baby-nya.
''Cinta? kamu ngerasa nggak sich, kalau anak laki-laki tadi mirip banget dengan kak Candra,'' Cinta hanya menggeleng pelan, karena dia tidak terlalu fokus melihat wajah anak laki-laki yang menjadi waiters tersebut.
''Cinta nggak terlalu merhatiin sich kak, kalau benar dia mirip dengan kakak, kemungkinan terbesar kak Candra juga ada di kota ini dong,'' Ucap-nya antusias.
Beberapa saat kemudian, pesanan yang di pesan keluarga Citra dan juga Cinta datang.
''Permisi Bapak, Ibu dan juga adek, ini pesanan nya,'' Ujar Karan sopan, yang mengantarkan makanan bukan cuma Karan saja, tapi teman sesama waiters juga ikut mengantarkan pesanan yang di pesan keluarga Citra, karena pesanan nya lumayan banyak.
Karan sibuk menata makanan di atas meja, sedangkan Cinta dan Citra sibuk memperhatikan wajah Karan.
''Benar yang mbak Citra katakan tadi, anak ini emang sangat mirip dengan kak Candra,'' Gumam nya pelan.
''Serasa kak Candra kecil yang ada di depanku ini ya Allah? sungguh mirip sekali,'' batinnya, Mas Arzan yang melihat ku sedih dengan segera memegang tangan ku yang sudah gemetar.
__ADS_1
Mas Arzan yang menatap ku menggeleng kan kepalanya pelan.
''Kakak ini yang sekolah di SMP Negeri 1 itukan?'' Ucap Andrian memecah keheningan. Mbak Citra langsung menatap puteranya yang duduk tak jauh darinya.
''Adik kenal Karan?'' tanya Karan kaget, karena ada yang menyapa nya di restoran ini.
''Kenal sich enggak kak, cuma pernah bertemu sekilas pas upacara senin kemarin, kakak kerja di sini,'' tanya balik Andrian sembari menatap sang Mama, Andrian yang penasaran dengan Mama nya, terus mencerca Karan dengan berbagai pertanya'an.
Setelah di kira lama Karan mengobrol dengan pengunjung restoran, Karan pun pamit undur diri, karena tidak enak juga pada temannya yang pada riweh melayani para pengunjung yang datang dan pergi.
''Maaf Pak, Bu, Karan pamit kembali bekerja,'' jelas nya.
''Kamu di sini saja, istri ku masih ada yang mau di tanyakan sama kamu?'' kata Mas Arzan mencegah kepergian Karan.
''Maaf Pak? tapi Karan takut di pecat dari restoran ini, mungkin lain waktu bisa Pak, Bu, mohon maaf sekali, bukannya Karan menolak permintaan Bapak dan juga Ibu?'' jawabnya menundukkan kepala-nya.
Saat Mas Arzan mau mengatakan sesuatu, mbak Citra memegang tangan suaminya dan menggeleng pelan. ''Biarkan dia pergi Mas?'' lirih nya. Citra sudah begitu lama mencari keberadaan kakak nya. Namun dia hari ini sudah mulai sedikit lega, karena dia sudah bertemu dengan anak laki-laki yang begitu mirip dengan kakak-nya, yakni Karan.
Citra nggak tau saja kalau sebenarnya Karan adalah ponakan-nya, anak dari kakak nya yang selama ini ia cari.
''Ma? sebenarnya ada apa sich, kok kayaknya Mama pengen banget lama lama dengan anak itu,'' tanya Riana pelan.
''Iya Ma? ada apa,'' sambung Andrian yang melihat Mama nya begitu sedih setelah kepergian Karan.
''Kalian satu sekolah dengan Karan?'' tanya mbak Citra yang tak menjawab pertanyaan dari putera dan juga puteri nya.
''Iya, kami satu sekolah Ma? tapi dia kakak kelas Andrian,'' jawabnya, menatap lekat pada bola mata sang Mama yang memancarkan kecerian di dalam nya.
''Oke, kalau gitu? Mama besok akan ke sekolah kalian,'' kata mbak Citra senang dan mengembangkan senyum.
''Sayang? kamu kan harus banyak istirahat, biar Mas saja yang datang ke sekolah itu besok,'' cegah Mas Arzan, senyumku langsung sirna setelah mendengar ucapan dari suami ku.
__ADS_1
''Saya akan bayar di dalam,'' Ujar Mas Fabian meninggalkan kita di halaman restoran, kita masih duduk santai di tikar yang di bentangkan rapi di halaman restoran tersebut, sedangkan Mikaela sudah tertidur pulas di atas alas tikar yang kami duduki.
Hampir 10 menit Mas Fabian pergi ke dalam restoran, dan belum juga kembali.
''Mas Fabian kok lama banget sich kak?'' Ujar Cinta pada sang kakak.
''Saya akan menyusul Fabian ke dalam,'' kata Mas Arzan beranjak dari duduk nya.
Di dalam restoran, Mas Fabian masih meminta data data Karan kepada manager restoran, yang sudah ia kenal sejak tahun lalu.
''Kalau boleh tau buat apa Pak Fabian meminta data data Karan?'' tanya sang manajer.
''Tidak ada apa-apa kok Pak, hanya saja saya penasaran sama anak laki-laki itu, dia begitu rajin dan juga sopan, saat melayani para tamu, dan siapa tau di kantor ada yang membutuhkan tenaga Karan, maka saya akan mengambil Karan dari sini,'' Ucapnya bercanda, sekaligus mencari alasan tentang data data itu sendiri.
Mas Arzan menanyakan keberada'an Mas Fabian pada kasir restoran. ''Maaf, apa anda melihat Pak Fabian,'' tanya nya dingin dan sangat formal.
''Pak Fabian ada di ruangan manager Pak?'' jawab gadis penjaga kasir.
''Terima kasih,'' Ucap Mas Arzan pagi, lalu melangkah pergi menuju ruangan sang manajer, tepat Mas Arzan berada di depan pintu dan ingin mengetuk pintu tersebut, namun ia urungkan saat pintu nya di buka dari dalam.
''Mas Arzan?'' sapa Fabian kaget.
''Mas ngapain di depan pintu,'' tanya Fabian.
''Aku kesini mencarimu, karena kamu sudah lama pergi, jadi istri kamu menyuruhku untuk mencari kamu, dia takut kamu ilang di gondol mbah kunti,'' jawab Mas Arzan ngawur.
''Enak saja di gondol Kunti, lagian mana ada sich mbah kunti siang siang begini,'' cetus nya, sembari mengeluarkan selembar kertas yang berisi data Karan.
''Apa'an nich?'' tanya Mas Arzan merebut kertas tersebut.
''Itu data Karan, aku meminta nya pada sang manajer,'' jawab Mas Fabian.
__ADS_1
''Kamu hebat?!'' puji Mas Arzan pada Mas Fabian
BERSAMBUNG