Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 41


__ADS_3

Kak Citra mengajak kita semua ke restoran termahal di kota Jakarta, kak Citra tak henti henti nya mengucap syukur karena sudah di pertemukan dengan keluarga almarhum kakak nya.


Di dalam mobil kak Citra dan Cinta terus mengobrol dengan kakak ipar nya, mereka seakan-akan sudah kenal lama dengan kakak ipar nya, padahal baru beberapa jam saja mereka bertemu.


Mas Arzan menghela nafas lega, karena pikiran pikiran buruk tentang istri nya ternyata tidak benar, kak Citra emang wanita kuat dan tabah dalam menghadapi segala sesuatu nya dengan sendiri sejak dulu. Tapi tidak dengan Cinta yang begitu lemah, ketika menghadapi ujian yang Allah berikan padanya, namun ia wanita yang lemah lembut dalam bertutur kata, sehingga dia selalu menuruti apa yang di ucapkan oleh tuan Sanjaya papanya.


Kini mobil memasuki pelataran restoran yang akan kita kunjungi sekarang, Mas Arzan memarkirkan mobil nya dan kita semua turun dari mobil tersebut. Terlihat Mikaela begitu senang karena Mikaela di gendong Karan.


''Kaela? cepat turun, kasian kakak nya,'' pungkas sang Mama pelan.


''Nggak apa apa kok tante? Karan yang mau kok,'' jawab Karan yang masih terus menggendong Mikaela masuk ke dalam restoran, dan menuju ruangan yang sudah di reservasi sebelum nya.


Semua pengunjung menatap heran pada bu Wati, karena pakaian nya yang kusut dan kusam.


''Emang kalian nggak malu mengajak aku ke restoran ini,'' bisik Bu Wati pada kak Citra.


''Sudah mbak? jangan hiraukan tatapan mereka semua, wanita cantik emang selalu jadi pusat perhatian,'' Ujar Kak Citra yang membuat Bu Wati terkekeh.


''Bukan cantik, tapi penampilan ku yang kayak gini?'' bisik nya lagi.


''Sudah lah mbak, jangan terlalu memikirkan tatapan orang lain. Belum tentu juga dia kaya atau orang yang berlabel mungkin, Citra sudah biasa melihat orang orang seperti itu, di luar bertingkah? sedangkan rumah nya bech ...! ngontrak juga?'' balas Kak Citra apa ada nya.


Pov Citra


Flashback on.

__ADS_1


15 tahun lalu.


Malam itu aku menangis di halte bus di bawah guyuran air hujan yang begitu deras, serta petir yang saling menyambar. Tak ada rasa takut sama sekali waktu itu, aku duduk seorang diri di halte bus. Tubuhku mulai menggigil menahan rasa dingin di malam itu.


Selang tak berapa lama ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan ku, aku tak menghiraukan nya, aku menekuk lutut ku dan memeluk nya dengan erat, karena aku sudah menggigil. Aku memutuskan pergi dari rumah hanya membawa tas selempang yang sedari pagi aku bawa pergi ke kampus, namun sesampai nya di rumah aku melihat Papa sedang bertengkar dengan kak Candra, dan berakhir dengan pengusiran. Aku yang lelah baru pulang dari kampus melihat kakak ku yang di usir Papa dari rumah, emosi ku memuncak! Dengan berani aku menghampiri Papa dan langsung memarahinya karena sudah mengusir kak Candra dari rumah. Aku terus bertengkar dengan Papa ku yang juga sedang emosi.


Air mata ku tak bisa di bendung lagi, dan aku memilih pergi dari rumah untuk mengejar kak Candra yang pergi tanpa membawa uang sepeserpun. Aku bingung harus mencari kak Candra kemana lagi, sampai akhir nya hujan turun di sertai petir, aku memilih berhenti dan berteduh di halte bus, namun hujan tak kunjung juga reda.


''Citra!'' suara laki-laki menyapa ku.


Aku mendongakkan kepalaku melihat siapa laki-laki yang mengenal dirinya.


''Mas Arzan?'' jawab ku dengan bibir memucat. Masih Arzan adalah kakak kelas ku ketika masih sekolah menengah pertama, dia bahkan orang yang ku jadikan tempat keluh kesah ku, apalagi bercerita tentang laki-laki yang aku taksir, aku nyaman berteman dengan Mas Arzan? boleh di bilang sahabat laki-laki lebih menyenangkan dari pada sahabat wanita yang kebanyakan mau nya.


Mas Arzan membawa ku ke rumah kontrakan kecil, karena itu atas kemauan ku yang tak mau di ajak ke rumah besar Narendra.


Flashback off


*-*-*-*-*-*-*-*-*-*


Setelah makan siang, kak Citra membawa Bu Wati ke salah satu Mall terbesar yang ada di Jakarta. Awalnya Bu Wati mengerutkan kening nya, karena yang di lewati sekarang bukan lah jalan yang tadi, akhirnya dia pun bertanya pada Cinta.


''Ini bukan jalan pulang kan, tadi nggak lewat di sini kok,'' tanya Bu Wati bingung, mengingat jalan yang sekarang ia lewati bercabang-cabang?.


Asal jangan hati author aja yang bercabang🤭.

__ADS_1


''Mbak tenang saja ya, nggak bakalan kita buang kok?'' Ujar Cinta terkekeh melihat tatapan kakak ipar nya.


''Kita sudah sepakat, akan membawa mbak dan anak anak ke Mall dulu, kita main di sana sebentar, Oke??'' sambung kak Citra.


''Hore...!! Kita ke Mall?'' teriak Mikaela riang.


''Jangan teriak gituu? telinga ku bisa budek gara-gara teriakan kamu dek?'' kata Andriana. Andriana mengepalkan tangan nya, ditiup perlahan kepalanya tangannya, dan setelah itu ia taruh di telinga nya yang berdenging akibat teriakan dari adik sepupunya.


''Tau nich! heboh banget, kayak nggak pernah ke Mall saja!'' gerutu Andrian.


Karan dan Sania hanya tersenyum melihat ketiga nya yang sedang berdebat.


Tiba di Mall anak anak di bawa mas Arzan dan mas Fabian ke tempat permainan, mas Arzan membawa Karan dan Sania ke tempat tempat yang belum ia datangi sebelum nya, Andrian dan Andriana menggandeng tangan Mikaela, mengikuti langkah sangat Papa, Rian dan Riana bisa memaklumi ini semua, karena dia juga sudah sering datang ke Mall sebelum sebelum nya.


Di sisi lain kak Citra dan aku membawa mbak Wati ke toko baju muslim.


''Kok kita malah masuk ke sini sich Citra?'' tanya Bu Wati menghentikan langkah nya. ''Aku nggak punya uang lho?'' tambah nya lagi.


Aku dan kak Citra saling menatap dan menuntun mbak Wati masuk ke dalam toko, memilihkan dia beberapa baju gamis, dan baju rumah serta beberapa baju yang akan di pakai ke pabrik.


''Di sini mahal-mahal? lebih baik kita keluar sekarang yuck, masak ia baju kaos kayak gini saja 100 ribu,'' ucap nya polos. ''Di pasar uang 100 ribu dapat 5 kaos!''


''Mbak itu di bungkus semua nya ya,'' titah Kak Citra yang tak bisa di ganggu gugat.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2