Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 122 Kesedihan Bu Wati


__ADS_3

Karan membawa bunda nya ke IGD untuk mendapatkan penanganan juga, Pinky mengikuti langkah sangat suami yang kini tengah membopong Bu Wati.


Setelah meletakkan Bu Wati di atas brankar yang ada di IGD, dokter pun datang menghampiri mereka bertiga.


''Dokter, periksa Ibu ku sekarang?'' titah Karan dengan nada dingin nya, namun air matanya kini tak dapat ia bendung lagi, mengingat kedua orang terkasih nya tengah berbaring di brankar rumah sakit. Sania mengelus pelan punggung suaminya yang bergetar karena tangisan yang sudah tidak dapat di bendung lagi.


''Kamu yang sabar ya, Ibu dan adik pasti baik baik saja mas?'' Ujar Pinky mencoba menenangkan suaminya.


''Tapi, bagaimana bisa aku bisa tenang? semua orang semua nya tau keadaan Sania, cuma aku yang tidak mengetahui tentang penyakit nya,'' aahut Karan membuat Pinky terdiam, dia mematung mendengar kata penyakit.


''Mas barusan bilang tentang penyakit nya, emang nya Sania sakit apa Mas?'' tanya Pinky menarik lengan baju Karan suami nya.


''Sania mengidap kanker darah, dan aku baru mengetahui nya sekarang! kenapa semua nya tega padaku, menyembunyikan penyakit adikku sendiri,'' sesal Karan yang tengah menjambak rambut nya, mengingat sang adik kini tengah berjuang melawan penyakit nya.


Pinky menutup mulut nya dengan kedua tangan nya, karena dia terkejut mendengar penuturan dari sang suami yang mengatakan Sania mengidap penyakit kanker darah. Pinky duduk di lantai sembari menangis sejadi jadi nya.


''Mas? ini mimpi kan, ini nggak nyata kan,'' lirih Pinky yang kini sudah beranjak dari duduk nya, Pinky menarik narik tangan Karan agar dia mengatakan kalau dia sedang mimpi.


''Sayang? ini nyata, adikku sekarang sedang berjuang melawan penyakit nya,'' jawab Karan dan membawa nya ke pelukan nya, kedua insan yang kemarin di mabuk Asmara, kini tengah bersedih atas penyakit yang di derita Sania saat ini.


Pinky melepaskan pelukan suaminya, dan dia berlari begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata sebelum pergi meninggalkan sang suami yang tengah mematung di depan IGD rumah sakit, sedangkan Pinky sendiri berlari menemui semua orang yang sedang menunggu Sania di luar ruangan nya.


''Tante,'' panggil Pinky dengan lirih. ''Kenapa tante jahat sama Pinky tan? kenapa tante menyembunyikan penyakit Sania dari Pinky, kenapa tante?'' tanya Pinky memegang pundak tante dari suaminya.

__ADS_1


''Maafkan tante Pinky, tante nggak bermaksud untuk menyembunyikan penyakit Sania, tante juga baru tau kalau Sania sedang sakit parah ketika kemarin dia menginap di rumah? itupun karena Riana mengambil obat Sania dan di bawa ke apotek, dari sanalah kami tau kalau Sania sedang sakit?'' Ucap Mama Citra menjelaskan perihal yang sebenarnya.


''Tapi tante bisa kan memberi tahu kami saat itu?'' desak Pinky mengingat tantenya lebih menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


''Kak Pinky, Mama nggak tau menau masalah ini, dan lagipun kalau sampai kalian tau dari kemarin Sania bakalan merasa sedih, karena sudah membuat keluarga nya menangis dengan kondisi nya. Dosen di kampus nya pernah bilang kalau dia tak ingin membuat keluarga nya sedih, makanya dia selalu berpura-pura kuat di depan kita semua. Bahkan kemarin saja sempat di rawat dirumah sakit pinggiran desa yang kami datangi kemarin, Sania masih meminta pihak rumah sakit di sana untuk berkata bohong dan dia mengatakan kalau dirinya tengah terkena anemia, kami hanya menganggukinya saja, karena kami tau kalau Sania akan sedih jika dia tau kalau semua keluarga nya sudah mengetahui tentang penyakit nya,'' jelas Riana memeluk sang Mama yang kini semakin menangis.


''Kalau boleh tau, sejak kapan Sania mengidap penyakit ini,'' tanya Arlan menghampiri Mama Citra, Pinky dan juga Riana.


''Sebelum kak Karan menikah?'' sahut Riana datar, ''Kata dokter, gejala awal yang ia derita sering mengalami sakit kepala dan juga pusing,'' kata Riana mengingat apa yang pernah di katakan dokter kemarin.


Riana mencoba untuk tetap tegar sampai akhir nya dokter yang biasa di panggil dosen killer memasuki ruangan Sania.


''Samuel, tolong selamatkan adik ku?'' pintar Riana ketika teman satu kampus nya yang sudah menjadi dokter mau memasuki ruangan yang di tempati Sania.


''Insya Allah, kamu berdo'a saja agar saudara kamu segera siuman?'' jawab sang dokter, yang di angguki Riana.


''Mbak yang sabar ya, semuanya akan baik baik saja? kami semua akan membantu pengobatan Sania,'' Ujar tante Cinta tenang, dia harus tetap tegar di samping kakak ipar nya, agar sang kakak ipar tidak merasa sedih lagi.


''Terima kasih ya, kalian selalu ada untuk kita,'' jawab Bu Wati dengan nada lirih, kini tangan nya mengusap sisa sisa air matanya yang tadi mengalir di kedua pipinya.


''Bunda...'' panggil Rian dengan nafas memburu.


''Ada apa Rian?'' tanya Tante Cinta melihat ponakan nya sedang mengatur nafas nya. ''Kayak di kejar hantu saja, atau jangan jangan malah di kejar pacar,'' goda tante Cinta menggoda Rian, membuat Bu Wati menyunggingkan senyum nya.

__ADS_1


Rian hanya menggaruk tengkuk nya yang tak gatal seraya berkata, ''Tante bisa saja dech,'' jawab Rian datar, sedang kedua matanya tengah menatap Bu Wati yang di panggil Bunda tengah tersenyum mendengar celotehan dari tante nya.


''Bunda, ikut Rian yuk? Sania sudah sadar,'' sela Rian.


''Beneran?'' Bu Wati memastikan.


''Iya Bunda, masaknya Rian bercanda sich,'' balas Rian seraya mengambil kursi roda yang sudah ia bawa tadi.


''Bunda jalan kaki saja nak Rian, Bunda sudah nggak apa apa kok,'' tolak nya halus.


''Sudah, lebih baik Bunda naik ke kursi roda saja agar lebih cepat sampai nya,'' gumam Rian yang tak mau penolakan.


''Bunda? boleh Rian bilang sesuatu,'' tanya Rian hati hati, takut orang yang ia sayangi merasa bersalah atau apa.


''Iya, kenapa?'' tanya Bu Wati lembut sembari memegang tangan Rian yang tengah mendorong kursi roda nya. Tante Cinta hanya menjadi pendengar yang baik dan terus mengikuti Rian dan juga kakak ipar nya dari belakang.


''Nanti Bunda pura pura nggak tau saja kalau Sania sedang sakit parah, Rian sudah berpesan pada semua nya agar tak menampakkan kesedihan nya ketika menemui Sania.''Pesan Rian pada Bunda nya, yang tak lain adalah Ibu kandung Sania sendiri.


''Baiklah, Bunda akan mengingat itu,'' jawab Bu Wati menepuk pelan punggung Rian yang kini tengah duduk di depan Bunda nya.


''Terima kasih Bunda?'' Rian mencium punggung tangan Bu Wati.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2