Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 32


__ADS_3

Andrian dan juga Andriana berjalan menghampiri mereka yang sedang sibuk bermesra'an di ruang TV, Andriana langsung menyingkirkan tangan Papa nya yang masih tetap merangkul pundak kak Citra.


Lantas Andriana dan juga Andrian duduk di tengah-tengah mereka berdua, seraya mengerlingkan matanya, seakan-akan mengasih kode pada orang tua nya yang selalu memperlihatkan kemesra'an nya.


''Papa tau nggak? tadi kita mengantarkan Karan dan juga Sania ke rumah nya lho,'' cerita Andriana pada Papa nya.


''Iya Pa? mereka kasian banget tau nggak Pa, Ayah-nya meninggal kecelaka'an ketika dia bekerja sebagai sopir, dan dia masih begitu kecil waktu itu Pa?'' sambung Andrian.


''Emang Karan cerita apa saja sama kalian,'' tanya mas Arzan penasaran.


''Yang cerita bukan Karan sich Pa? tapi Sania, dia bilang Ayah nya meninggal dalam kecelaka'an menuju ke Jakarta, waktu itu Karan masih berumur 5 tahun, dan Sania berumur 3 tahun, tapi Abang salut melihat mereka yang tegar menghadapi semua coba'an yang Allah berikan, dan kini dia membantu Ibu nya mencari uang untuk kebutuhan mereka berdua, kalau semua itu terjadi sama Abang? Abang nggak tau dech harus bagaimana menghadapi nya,'' jelas Andrian pada Papa nya, mas Arzan nampak begitu sedih mendengar cerita dari anak-anak-nya.

__ADS_1


''Sayang? kalau misalkan mereka berdua adalah saudara kalian, kalian senang nggak?!'' tanya Mas Arzan pada kedua anak nya.


Kak Citra mengerutkan kening nya mendengar ucapan dari suaminya, ''Apa mas Arzan menyembunyikan sesuatu sama aku?'' Gumam kak Citra pelan, sehingga tak da yang mendengar nya. ''Aku harus bertanya sama dia,'' lanjut nya dalam hati.


''Kalau Abang sich nggak apa apa sich Pa? nggak tau kalau adik sama Mama,'' Ujar Andrian melirik sangnadek dan juga sang Mama yang duduk di samping nya.


''Adik juga nggak masalah kok Pa Bang?malah adik senang punya banyak saudara, jadi rumah kita akan ramai ketika semua berkumpul di rumah ini,'' sambung Andriana dengan senang.


Dalam setiap langkahnya Mas Arzan merutuki kebodohan nya karena tak bisa berterus terang dengan sang istri dan juga anak anak-nya.


Tak lama setelah kepergian sang suami kak Citra juga pamit pada kedua anak anak nya. ''Mama juga ingin ke kamar, mau istirahat juga,'' gumam kak Citra yang di angguki kedua anak anak-nya.

__ADS_1


Mas Arzan nampak memasuki kamar mandi ketika kak Citra membuka pintu kamar nya, kak Citra nampak melihat ke sekeliling mencari tas yang selalu di bawa suaminya setiap kali dia bekerja, kak Citra mengembangkan senyuman nya ketika melihat tas suaminya berada di atas sofa, yang biasa ia duduki kalau lagi santai.


''Aku harus mencari tau, kalau Mas Arzan menyembunyikan sesuatu pada Citra,' Batin nya menghampiri tas suaminya.


''Maafkan Citra mas?'' lirih nya dan mencoba membuka tas kerja mas Arzan. Tanpa sengaja semua itu di lihat Mas Arzan dari kamar mandi, Mas Arzan sengaja membuka pintu kamar mandi dengan pelan, sehingga tidak mengeluarkan suara berisik saat di buka.


''Ternyata Citra sudah mulai curiga dengan sikapku tadi itu, Arzan harus bagaimana ya Allah?'' Gumam Mas Arzan pelan dan segera menutup kembali pintu kamar mandi, agar sang istri tak melihat dia mengintip.


''Nggak ada apa apa di dalam tas nya, lalu apa yang di sembunyikan Mas Arzan dari Citra,'' Ucapnya buru buru merapikan berkas yang sempat ia keluarkan dari dalam tas kantor suaminya dengan cepat.


Kak Citra menuju ke kasur empuk nya dan memelbaringian tubuh lelah nya di sana, bukan hanya tubuhnya yang capek, namun juga otaknya yang selalu memikirkan kakak nya yang sudah beberapa tahun ini tidak ada kabarnya sama sekali.

__ADS_1


Kak Citra memejamkan matanya, merasakan kepala nya yang mulai pusing dengan pemikiran pemikiran yang selama ini mengganggu nya.


__ADS_2