
Di kota, Karan tengah kesal dan sedang mengamuk atas sikap Arlan tadi, dia sengaja memutuskan sambungan telfon nya, padahal Karan mau mengatakan kalau Sania ada di pinggiran desa, jauh dari desa yang aku tinggali dulu.
''Arlan, kenapa kamu terlalu gegabah sich, Sania tidak mungkin tinggal di sana? tak ada sanak saudara yang tinggal di tempat itu, mereka semua sudah pindah ikut anak anak nya ke kota, karena pekerja'an anak anak nya yang tidak bisa di tinggalkan begitu saja,'' keluh Karan menjambak pelan rambut nya.
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu ruangan Karan di ketuk dari luar. ''Masuk,'' seru Karan, ketika pintu ruangan sudah terbuka nampak lah di sana wajah yang sangat kelelahan, siapa lagi kalau bukan Alex asisten pribadi nya.
''Maaf bos?'' ujar Alex menghentikan ucapan nya karena melihat wajah Karan yang sangat menakutkan bagi nya.
''Ada kabar apa Al!'' tanya Karan tanpa menatap ke arah asisten nya, kepalanya sudah berdenyut nyeri ketika mendengar Arlan sudah ada di desa kelahiran nya, di tambah lagi dengan wajah asisten pribadi nya, yang sudah mengeriput sebelum usia tua nya.
''Bos, Arlan mengalami kecelaka'an di dekat desa kelahiran mu bos? sekarang Paman Arzan dan juga Paman Fabian tengah menuju ke sana,'' terang nya, Karan yang mendengar Arlan mengalami kecelaka'an pun mengernyitkan kening nya, mungkin Karan tidak percaya dengan apa yang di katakan asisten pribadi nya.
''Jelas jelas dia baru saja melakukan sambungan telfon dengan Arlan! tapi kenapa sekarang dia malah mengalami kecelaka'an?'' pekik Karan masih tidak percaya dengan Alex.
''Bos, saya dengar berita nya dari tuan Fabian tadi,'' balas Alex tak mau kalah dari Karan yang notabene bos nya.
''Kamu sudah berani berkata keras kepada ku alex! tak ada bonus di bulan ini untuk mu!!'' seru Karan menatao tajam ke arah sang asisten.
Alex hanya menghembuskan nafas nya dengan kasar, mengingat bos nya sangat keras kepala dan juga sangat egois.
Ponsel Karan bergetar dan di sana memperlihatkan nama Om Fabian.
__ADS_1
-''Ya, hallo Om,'' sapa Karan ketika sudah menggeser layar ponsel nya.
-''Karan, sebaiknya kamu segera datang ke pinggiran desa sekarang, Arlan mengalami kecelaka'an dan sekarang dia tengah di bawa ke rumah sakit oleh warga sekitar?!''
-''Mana mungkin Arlan kecelaka'an Om, sedangkan dia saja baru mengobrol dengan ku di sambungan telfon,''
-''Sudahlah jangan bahas itu sekarang, lebih baik kamu cepat datang ke rumah sakit sekarang juga,'' titah nya membuat Karan menghela nafas panjang dan memghembuskan begitu saja.
-''Baik, Karan akan segera ke sana sekarang,'' jawab nya dan segera mematikan telfon nya.
Karan beranjak dari tempat duduk nya dan menyambar jas yang tadi ia sampaikan di sandaran kursi kebesaran nya. ''Alex ayo berangkat sekarang?'' ajak Karan kepada asisten nya.
''Kemana tuan?'' tanya Alex yang tak terlalu mendengarkan ucapan tuan nya tadi.
''Cepat siapkan mobil sekarang,'' yitah nya ketika pintu lift sudah terbuka dan menampakkan lantai dasar gedung yang menjulang tinggi itu.
Alex masih mengikuti apa yang di perintahkan oleh tuan nya, dia hanya bawahan yang berarti apa apa bagi tuan nya, pikir Alex.
Mobil yang di ambil Alex sudah terparkir di depan loby kantor nya, Karan yang melihat segera membuka pintu mobil tanpa menunggu Alex membukakan pintu mobil nya.
''Ke rumah sakit pinggiran kota sekarang,'' titah nya dengan wajah datar nya.
''Apa tuan sekarang sudah percaya kalau Arlan mengalami kecelaka'an?'' ujar Alex tiba-tiba, Karan yang sudah memejamkan mata nya pun terpaksa membuka lagi, karena ucapan dari asisten sekaligus sahabat nya itu.
__ADS_1
''Iya saya percaya, puas!!'' seru nya dan memejamkan mata nya kembali. ''Jangan berisik, aku mau tidur sebentar sebelum sampai di sana,'' ujar nya lagi memperingatkan sang asisten nya.
Alex menuruti semua yang di ucapkan oleh sang bos, Alex memfokuskan pandangan nya ke depan agar tidak mengalami kecelaka'an seperti Arlan, rekan kerja nya sekaligus suami dari adik bos nya.
Alex menambah kecepatan kendara'an nya ketika jalanan di depan nya lenggang, ''Alex, kamu sudah dapat kabar tentang adikku,'' tanya Karan tiba-tiba.
''Belum bos, tapi orang suruhan saya mengatakan kalau mobil itu di jual beberapa hari lalu, tapi wanita itu tidak mengatakan nama nya,'' sahut Alex melirik bos nya dari kaca spion di atas kemudi mobil nya.
''Kenapa kamu masih bertanya nama wanita itu Alex, kamu begitu bodoh jika masih menanyakan nama wanita itu kepada orang yang membeli mobil nya,''
''Tapi tuan? saat anak buah saya memperlihatkan wajah Sania orang yang membeli mobil nya tidak tau dan bukan wanita itu yang menjual mobil nya, kalau buka Sania pasti ada wanita lain yang memang di suruh oleh Sania Bos,'' jelas nya panjang lebar. Karan menaikkan satu alis nya ke atas, memikirkan siapa orang yang menjual mibil kesayangan adik nya tersebut.
''Cari tau wanita yang menjual mobil Sania ke dealer itu,'' perintah nya dan merubah posisi nya menjadi duduk. ''Masih lama sampai ke rumah sakit nya Alex,'' lanjut nya memandang persawahan yang terbentang luas dan juga terlihat begitu indah dengan warna hijau yang sangat mendominasi.
Butuh waktu 1 jam lama nya untuk sampai ke rumah sakit pinggiran kota, Karan melangkah masuk ke dalam rumah sakit yang di sana sudah ada kedua Om nya dengan para asisten kepercaya'an nya.
''Kenapa kamu sangat lama sampai di sini Karan, sedangkan aku sudah memberitahu asisten kamu sebelum menghubungi ponsel kamu,'' omel tuan Arzan yang melihat ponakan nya baru sampai di rumah sakit yang sudah ia beritahu kepada Alex sang asisten tadi.
''Maaf Tuan? tapi Bos tadi tidak percaya sama sekali, kalau tuan Arlan mengalami kecelaka'an,'' Ucap Alex memberitahu yang sebenarnya kepada kedua tuan yang ada di depan nya.
''Apa maksud nya dengan tidak percaya Alex!!'' seru tuan Arzan seraya mengangkat satu alis nya ke atas. ''Apa apaan ini Karan, kenapa kamu bisa tidak percaya dengan ucapan asisten kamu!'' tambah nya lagu yang belum mendapatkan jawaban dari ponakan laki laki nya tersebut.
''Karena Karan sempat menghubungi adalah sebelum nya Om, dia sangat sehat ketika menjawab panggilan ku, dan dia juga berkata dengan sangat lantang kalau dia tidak akan kembali ke kantor, dia bilang ingin pergi ke desa di mana aku dan juga Sania di besarkan dulu, aku juga terkejut ketika Alex bilang kalau Arlan mengalami kecelaka'an itu, tapi aku mencoba tidak mempercayai nya, karena sambungan telfon nya saja baru di matikan?!'' jawab Karan dengan panjang lebar dan menceritakan semua nya kepada Om Arzan dan juga Om Fabian nya.
__ADS_1
''Arlan sengaja di tabrak seseorang dari arah depan, polisi sudah menelusuri tempat kejadian, hanya bagian depan yang rusak parah. Kini Arlan tengah kritis di dalam? mungkin ada yang sengaja ingin membunuh Arlan,'' gumam Tuan Arzan membuat Karan terkejut bukan main, mengingat Arlan tidak punya musuh sama sekali, apakah ini semua rencana licik wanuta itu, wanita yang mengaku sebagai saudara sepupu Arlan, tapi kenapa dia begitu tega ingin mencelakai Arlan? apa salah Arlan kepada nya, aku harus mencari tau ini semua sendirian, gumam Karan dalam hati nya dan menatap ke arah ruangan di mana Arlan sedang di rawat di dalam, dengan beberapa alat yang terpasang di sekujur tubuh nya.