Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 183 Pertemuan yang haru biru


__ADS_3

''Lebih baik besok aku periksakan keada'an ku di rumah sakit di pinggiran kita ini, di desa ini hanya ada Puskesmas yang aku kira tidak akan bisa memeriksa penyakit ku,'' gumam nya pelan, Sania mencoba memejamkan mata nya untuk mengurangi rasa mual nya dan juga rasa sakit di kepala nya.


''Tapi aku tidak pernah merasakan mual seperti ini sebelum nya, apa? penyakit ku bertambah patah karena aku sudah seminggu ini tidak meminum obat ku, atau mungkin juga umur ku sudah tidak akan lama lagi,'' lagi lagi Sania bergumam dalam kamar nya.


Kini Sania sudah memejamkan matanya karena sudah sangat lelah dan juga rasa mual nya juga sudah mendingan.


Nenek Beti di luar sedang khawatir melihat Sania yang tadi sedang muntah muntah, nenek Beti takut terjadi sesuatu yang serius menimpa kepda cucu angkat nua tersebut.


''Semoga kamu baik baik saja neng? besok nenek akan bawa kamu ke rumah sakit, biarlah besok tidak pergi ke kebun dulu barang satu hari tidak akan merasa kelaparan juga,'' gumam nya kepeda diri nya sendiri.


Nenek Beti merapikan barang barang yang tadi buat wadah makan malam nya, sedangkan Sania sudah terlelap dalam tidur nya, mungkin dia juga sudah berjalan jalan di alam bawah sadar nya, Sania melihat Arlan yang tengah berbaring di brankar rumah sakit dengan alat alat yang terpasang di sekujur tubuh nya, Sania yang melihat itu dengan segera bangun dari tidur nya dengan nafas ngos ngosan.


''Kenapa aku mimpi Mas Arlan tengah berbaring di rumah sakit, ada apa ini? semoga tidak terjadi sesuatu sama Mas Arlan ya Allah?'' Ucap Sania dengan masih mengatur nafas nya yang terengah engah.


Perut Sania tiba-tiba keroncongan karena tadi belum sempat makan malam, Sania memilih pergi ke dapur untuk mengambil makanan karena perutnya terasa di iris Iris karena mungkin terlalu lapar juga.


Sania mengambil nasi yang sempat ia ambil tadi, Sania memakan kembali makanan nya yang sempat ia tinggal, namun lagi lagi Sania merasa mual, dia berlari melewati pintu samping untuk menuju ke kamar mandi yang ada di luar rumah, Sania mengeluarkan isi perut nya yang hanya beberapa siap masuk ke dalam mulut nya tadi. Rasa pahit di tenggorokan nya mengingatkan kepada sang suami yang selalu membantu nua jika dia tengah merasakan mual setelah melakukan kemoterapi, tapi sekarang dia hanya bisa sendiri tanpa ada orang di sisi nya yang hanya sekedar memikay tengkuk nya saja.


''Mas Arlan, Sania harap kamu sudah merasa bahagia hari ini dan seterusnya, aku harap Mas Arlan bisa memiliki seorang anak seperti keinginan para laki-laki lain nya, maaf Sania tidak bisa dan Sania lebih memilih mengalah dari semua ini,'' ucap nya dalam hati, Sania duduk bersimpuh di dalam kamar mandi, saat ini dia merasa sangat lemas dengan sendi sendi tulang nya, karena terlalu lama muntah.


Sania memejamkan mata nya sejenak, sebelum dia mengambil wudhu dan melakukan sholat malam nya. ''Kalau seperti ini terus? apa Sania bisa hidup sendiri tanpa orang yang menyayangi ku, sebenarnya aku ingin ada seseorang yang menemani ku seperti kemarin sebelum aku bertemu dengan saudara Mas Arlan,'' kata Sania pelan dan melangkah masuk ke dalam rumah untuk melaksanakan sholat malam seperti yang sering ia lakukan selama ini.


...****************...


Pagi hari nya nenek Beti sudah menyetop mobil untuk membawa Sania ke rumah sakit yang ada di pinggiran kota, Sania kemarin sudah pernah menceritakan kehidupan nya kepada nenek Beti kalau dia tengah menderita sakit kanker darah, jadi semalam nenek Beti sudah berpikiran kalau pagi pagi sekali akan membawa cucu angkat nya ke rumah sakit, agar cepat di tangani dengan baik di sana.

__ADS_1


''Ayo neng? mobil nya sudah menunggu di depan,'' seru nenek Beti dengan memegang sebuah tas yang sudah usang dan sangat jelek.


''Sebentar Nek?'' jawab Sania yang berjalan menghampiri sang nenek setelah mengunci pintu rumah nya.


''Ayo mobil nya akan segera berangkat, nanti kita tertinggal,'' kata nenek Beti ketika melihat Sania sudah ada di samping nya, mobil yang akan mereka yumpangi adalah mobil yang selalu lewat di depan rumah nenek Beti, mobil tersebut mengarah ke kota makanya nenek Beti segera menyetop ketika mobil itu yang lewat. Karena sebenarnya nenek Betu sudah sangat hafal sekali mobil mana yang menuju kota dan mobil mana yang mengarah ke pasar.


Sania dan nenek Beti memasuki mobil yang sudah menunggunya sedari tadi. ''Kalau boleh tau kalian mau kemana?'' tanya sang sopir kepada nenek Beti.


''Kita mau ke rumah sakit yang ada di pinggiran kota nak?'' jawab nenek Beti ramah.


''Nenek Beti sakit? kenapa tidak ke Puskesmas saja lebih murah, kalau pergi ke rumah sakit yang ada di sana pasti sangat mahal sekali,'' terang nya dengan jujur, takut nya nenek Beti malah terkejut setelah memeriksakan dirinya ke rumah sakit itu.


''Bukan nenek yang sakit kok, tapi cucu nenek yang sakit, kalau di bawa ke Puskesmas dekat rumah takut nya nggak ada obat nya di sana?'' kata nenek Beti menjelaskan.


''Saya sakit kanker darah Bang,'' sela Sania agar sopir tersebut tidak bertanya lagi.


Sania tidak suka ada orang yang mengurus hidup nya, apalagi mendengar perkata'an nya tadi yang tanpa sengaja dia bilang kalau nenek Beti tidak akan sanggup membayar rumah sakit nya, karena terlalu mahal? tapi Sania masih punya tabungan untuk membayar rumah sakit yang akan ia datangi, tabungan dengan hasil menjual mobil nya kemarin.


''Nenek tenang saja, Sania punya uang nya kok,'' ucap nya memegang tangan tua nenek Beti.


''Iya, nenek juga sudah tau kalau rumah sakit itu mahal, makanya nenek juga sudah membawa tabungan nenek yang di ambil semalem,'' sahut nya dengan senyum di bibir tuanya.


''Kenapa nenek melakukan itu, Sania punya tabungan kok nek? dan do'a kan juga penyakit Sania tidak kambuh lagi, agar tabungan Sania bisa buat kebutuhan kita sehari hari juga,'' tutur nya dengan mengulas senyum di wajah nya.


Sania dan nenek Beti hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke rumah sakit yang ada pinggiran desa nya, mobil tersebut berhenti dan Sania memberikan sejumalah uang yang sudah di sepakati sebelum nya, mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit, sesampainya di sana Sania mendaftarkan diri nya ke dokter yang dulu pernah menangani saat dia sakit dan harus di rawat di rumah sakit ini.

__ADS_1


Sedangkan di luar rumah sakit ada sebagian oengawal yang sedang mengawasi rumah sakit tersebut, takut nya orang yang sudah mencelakai Arlan akan kembali mencelakai nya.


-''Tuan, baru saja nona Sania masuk ke dalam rumah sakit ini, apa kita harus mengawasi nya Tuan,'' Ucap seorang pengawal yang tengah melaporkan kepada Tuan Arzan.


-''Cari tau dia datang bersama siapa, dan mau nemuin Arlan atau mau memeriksakan kesehatan nya,'' jawab Tuan Arzan yang di seberang.


-''Baik Tuan?'' jawab nya dan mematikan sambungan telfon nya.


Anak buah itupun segera masuk dan mencari tau tentang Sania di dalam, seorang pengawal tersebut langsung bertanya kepada resepsionis yang sedang berjaga di sana, dan dia mengatakan kalau wanita yang bernama Sania datang untuk memeriksakan kesehatan nya yang mulai menurun dari kemarin.


''Sekarang nona Sania sedangnadandi ruangan dokter?'' ucap nya ramah.


Pengawal itupun mengangguk paham dan mengikuti Sania yang belum jauh dari diri nya, namun pengawal tersebut melihat Arlan sudah bertemu dengan Sania di lorong rumah sakit tempat Arlan di rawat.


''Mas Arlan??'' sapa Sania, dia sangat terkejut melihat suami nya tengah duduk di kursi roda,dengan Ayah mertuanya yang mendorong dari belakang nya.


''Sania istri ku,'' jawab Arlan dengan deraian air mata yang sudah membasahi pipi nya. Sania yang melihat keada'an suami nya juga meneteskan air mata, rasa kangen selama ini yang ia pendam dalam hati nya tiba-tiba menyeruak begitu saja, ketika pertemuan haru dengan sang suami.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2