
Sania dan Pinky kini sudah berada di bawah, tepat nya di meja makan? mereka berdua sedangbmenunggu sang Ibu yang sedang berganti baju di dalam kamar nya.
''Lho kenapa belum makan juga?'' tanya Bu Wati setelah sampai di meja makan melihat keduanya sedang sibuk dengan gadget nya masing-masing.
''Kita berdua nungguin Ibu lho dari tadi, so Ibu lama banget sich di dalam kamar, ngapain saja Bu?'' cerocos Sania tanpa jeda.
''Ibu tu mandi dan ganti baju, habis itu langsung keluar kamar kok?'' jawab Bu Wati mengangkat satu alisnya.
''Kenapa harus mandi coba, Sania kan sudah laper Bu?'' rengek Sania layak nya anak kecil yang minta permen.
''Habis masak kalau nggak mandi ya bau asep lah dek, gimana sich? githu doang harus bilang,'' Ujar Bu Wati mendudukkan diri di salah satu kursi yang ada di depan Sania.
''Lagian kamu kyak githu emang nya nggak merasa malu sama Pinky, noch lihat?'' Ucap Bu Wati menunjukkan ke arah Pinky yang sedang menatap kelakuan Sania di pagi hari.
'Suasana di rumah ini... beda banget dengan rumah ku, yang terasa hampa dan tanpa ada tegur sapa dari orang yang begitu aku sayangi, kecuali Bibi yang selalu menghibur ku. Namun berada di rumah ini? kenapa hatiku bisa senyaman ini ya, orang orang di sini semua nya baik dan membuat suasana di pagi hari terasa banget hangat nya.
''Ayo nak Pinky di makan, maaf ya masakan Ibu masakan kampungan,'' ujar Bu Wati mengambil piring yang ada di hadapan Pinky.
''Pinky bisa ambil sendiri kok Bu?'' ujar Pinky ketika melihat piringnya sudah di pegang Bu Wati.
'Mama saja nggak pernah ambilin aku nasi seperti sekarang ini,' ucap Pinky dalam hati.
''Nak Pinky mau lauk apa?'' tanya Bu Wati menyadarkan lamunan Pinky.
__ADS_1
''Apa saja boleh kok Bu, Pinky bukan orang pemilih juga,'' sahut Pinky mengembangkan senyum manis nya.
''Kak Pinky bukan orang pemilih makanan, apa saja dia makan kok Bu? asal jangan di kasih ikan mentah saja?!'' tutur Sania yang langsung di pelototi Pinky.
''Emang nya Pinky kucing di kasih ikan mentah,'' Gumam Pinky, Bu Wati hanya menggeleng geleng kan kepala nya, melihat keduanya bercanda.
''Sudah lebih baik kalian makan saja, nanti kamu telat pergi ke kampus nya,'' sambung Bu Wati.
''Bu? kak Pinky sudah tidak bersekolah? maksud Sania kuliah, kak Pinky sudah mau nikah kayaknya,'' jawab Sania asal.
''Enak saja mau nikah, calon saja Pinky belom punya kok Bu? mana mungkin mau nikah, lagian Pinky juga masih kuliah, cuman Pinky ambil siang saja kuliah nya,'' Ucap Pinky menjelaskan.
''Sania itu Bu yang selalu bikin gosip, kalau sampai terdengar teman teman Pinky dan candaan nya di anggap serius bagaimana coba?'' gerutu Pinky sembari menyuapkan makanan nya.
Mereka pun akhirnya menuruti perkataan sang Ibu, hanya dentingan sendok dan garpu saja yang terdengar.
Selesai makan Sania dan juga Pinky berpamitan pada Bu Wati, ''Terima kasih sarapan nya Bu, masakan Ibu enak banget seperti makanan di restoran tempat Sania bekerja?'' Ucap Pinky ramah, namun Bu Wati mengerutkan kening nya mendengar perkataan dari Pinky yang mengatakan Sania kerja di restoran. Sania hanya bisa mengedipkan matanya pada sang Ibu sebagai kode kalau dia hanya asal bicara.
''Ya sudah Bu, Sania pamit ya,'' ucap Sania mencium punggung tangan sang Ibu, begitu juga dengan Pinky? dia mencium punggung tangan Ibu Wati.
''Hati-hati di jalan?'' seru Bu Wati ketika melihat kedua nya membuka pintu utama.
''Iya, assalamu'alaikum,'' Ucap Sania yang sedikit keras, seraya menutup kembali pintu rumah nya.
__ADS_1
Bu Wati menuju ke kamar nya, dia mengambil tas dan beberapa camilan yang ia beli kemarin, Bu Wati ingin mengunjungi restoran nya dan camilan yang biasa bawa saat ini untuk semua para karyawan yang bekerja di restoran nya.
''Pak Udin, kenapa mobilnya belum di keluarkan?'' tanya Bu Wati ketika sudah dinteras rumah nya. Pak Udin adalah sopir pribadi Bu Wati, pak Udin yang selalu mengantar Bu Wati kemana pun ia pergi, karena Bu Wati tidak bisa membawa mobil sendiri, Karan lah yang melarang Ibu nya untuk belajar menyetir mobil, Karan khawatir akan terjadi sesuatu pada Ibu tersayang nya.
''Maaf nyonya? nona Sania yang melarang saya untuk tidak mengeluarkan mobil sebelum nona Sania dan juga teman nya pergi dari rumah ini,'' jawab pak Udin pada sang majikan.
''Ya sudah, kalau githu Pak Udin keluarkan mobilnya dan antarkan saya ke restoran ya,'' Ucap Bu Wati yang memilih duduk dinteras rumah nya.
''Baik nyonya?'' jawab nya dan langsung membuka garasi mobil nya, pak Udin mengeluarkan salah satu mobil di dalam garasi tersebut, dan dia juga langsung menutup pintu garasi nya kembali.
Setelah 5 menit menunggu, akhirnya Bu Wati masuk ke dalam mobil nya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena hati semakin siang dan pastinya jalanan mulai macet. ''Macet ya pak?'' tanya Bu Wati yang menatap jalanan yang mulai di padati dengan kendaraan roda 2 dan juga kendaraan roda 4, namun lebih banyak kendaraan roda 2 karena menurut Bu Wati lebih cepat dan sangat efektif ketika jalanan macet seperti ini.
''Maaf nyonya, saya lancang bertanya?'' Pak Udin membuka obrolan nya.
''Iya, kenapa pak Udin?'' Ucap Bu Wati yang bertanya balik pada sang sopir.
''Kenapa nona Sania merahasiakan semua nya terhadap teman teman nya nyonya, apalagi saya pernah mendengar kalau nona Sania bekerja di sebuah restoran, yang menurut saya restoran itu adalah milik nona Sania sendiri,'' tanya pak Udin, Pak Udin sendiri pernah melihat nona kecil nya di bully karena dia tidak punya mobil dan juga miskin di mata semua teman teman kampusnya.
''Biarlah pak Udin, Sania hanya mau teman yang ikhlas yang ingin berteman dengan dia saja, tanpa memandang status sosial nya dia, jaman sekarang banyak banget anak muda yang berteman dengan seseorang hanya mengandalkan karena dia kaya, yang mau mentraktir dia makan, minum dan juga shoping. Itu yang membuat Sania menutup identitas aslinya, mungkin dia lebih nyaman menjadi anak yang sederhana tanpa mengandalkan kekayaan orang tua nya,'' jawab Bu Wati yang mengerti kalau sang sopir bingung dengan sikap puteri nya yang selalu merendah dan tanpa harus memperlihatkan kekayaan keluarga nya.
.
.
__ADS_1
.