
''Kak Pinky?'' Ucap Sania pelan seraya tersenyum pada teman Sang kakak.
''Hay Sania,'' sapa Pinky melambaikan tangan pada Sania, Sania sendiri tidak masuk ke dalam kelas Sania, tapi dia hanya berdiri di ambang pintu saja karena sudah hampir bel.
''Ya sudah, kakak kembali ke kelas dulu ya dek? ini tempat bekal kakak bawain pulang juga ya?'' gumam Karan pada adek nya, seraya mengacak acak rambut Sania.
''Ich kak Karan, jadi berantakan kan rambut Sania,'' Ucap nya kesal.
''Aku duluan ya,'' pamit Karan pada Rian dan juga Riana yang masih duduk di bangku kelas satu, lebih tepatnya di dalam kelas Sania.
Setelah kepergian Karan Andriana bertanya pada Sania yang duduk di samping nya.
''Cewek barusan itu pacar nya Kak Karan ya?'' tanya nya penasaran, karena Pinky begitu akrab dengan Karan.
''Bukan lah kak? dia itu teman kelas kak Karan, ya boleh di bilang sahabat juga y kak, karena kak Karan hanya dekat dengan kak Pinky kak?'' jawab Sania panjang lebar.
''Och ya sudah, kalu githu kita balik ke kelas dulu ya, sudah bel tuh,'' Ucap Andrian saat mendengar bunyi belum masuk.
''Iya kak?'' sahut Sania seraya membereskan tempat makan nya dan juga tempat makan kakak nya Karan.
''Kenapa kakak kakak tadi datang menghampiri aku dan kak Karan ya? atau mungkin kak Karan melakukan kesalahan saat bekerja kemarin, dia mengatakan bertemu dengan kakak kemarin di restoran tempat kak Karan bekerja,'' Gumam Sania pelan, sampai sampai teman sebangku nya tidak mendengar gumaman nya.
''Oiya Sania, kenapa kakak tingkat itu datang ke sini?'' tanya Tantri pada Sania teman sebangku nya.
__ADS_1
''Och itu, dia nyamperin kak Karan? kenapa Tantri,'' tanya Sania penasaran.
''Emang kamu nggak tau dia siapa?'' tanya balik Tantri yang membuat Sania semakin penasaran.
''Emang dia siapa, aku nggak tau dia siapa, yang Sania tau hanya namanya saja,'' jawab Sania, rasa penasaran nya semakin menjadi jadi.
''Kalau sampai kak Karan terlibat permusuhan sama kedua saudara kembar itu, pasti kak Karan dalam keadaan tidak baik baik saja,'' batin nya, menerka nerka kalau kalau sang kakak sudah berbuat salah pada keduanya, atau pada keluarga mereka di restoran kemarin.
''Dia itu tuan putri yang begitu dingin dan kaku pada setiap siswa di sini,'' jelas Tantri yang membuat Sania terkejut.
''Dia baik kok, dia juga berbicara banyak tadi sama Sania dan juga kak Karan di sini,'' Gumamnya yang membuat Tantri membelalakkan matanya, seakan-akan mau keluar dari tempat nya.
''Ap'an sich kamu Tantri? biasa aja kali, gimana kalau mata kamu copot, Sania kan nggak bisa masang nya,'' canda Sania yang langsung mendapatkan pukulan di bahunya.
''Aw!'' desis Sania saat menerima pukulan dari teman sebangku nya.
''Siang anak anak?'' sapa Bu Inggrid guru matematika.
''Siang juga Bu?'' semua murid-murid nya menjawab dengan serempak.
''Bagaimana, tugas yang Ibu kemarin kasih sudah bisa di kumpulkan sekarang,'' lanjut Bu Inggrid.
''Iya, aku lupa kalau ada PR kemarin,'' seru beberapa murid murid yang terbilang sering mengelak kalau di suruh menyelesaikan tugas tugas yang di berikan guru matematika tersebut.
__ADS_1
''Yang sudah selesai mengerjakan Ibu harap segera kumpulkan, dan yang pura-pura lupa Ibu juga harap keluar dari kelas, dan berdiri di luar kelas,'' Ucap Bu Inggrid tegas.
Siswa siswi yang tidak mengerjakan PR nya mulai beranjak dari tempat duduk nya, menuju keluar kelas dan menyelesaikan hukuman dari sang guru.
Namun sebelum keluar kelas Tantri berbisik pada Sania, karena dia tidak mengingat kan nya kalau ada tugas rumah dari Bu Inggrid, guru wanita yang terkenal killer.
''Tega banget kamu Sania, nggak ngasih tau aku kalau ada tugas Bu Inggrid minggu lalu,'' bisiknya pelan, dan melangkah pergi meninggalkan Sania di bangku nya
''Maaf Tantri, aku bukannya sengaja? tapi aku juga lupa,'' Ucap Sania membalas bisikan dari Tantri.
''Tantri? cepat keluar dan selesai kan hukuman kalian, jangan ada yang berani untuk menghindari hukuman nya, kalau Ibu sampai tau ada yang melanggar, Ibu tidak akan segan segan menambah hukuman kamu?!''
Semua siswa siswi mengangguk mengerti ucapan Bu Inggrid yang tidak pernah sungkan menghukum murid nya di kala mereka berdua salah, mungkin ini begitu dramatis buat anak didik nya, tapi itu semua ia lakukan agar semua siswa nya, mentaaty peraturan yang ada di sekolah ini.
Setelah memberi sedikit ancaman pada sebagian siswa nya yang tergolong nakal dan selalu menghindar dari tugas tugas yang ia berikan, dulu Bu Inggrid pernah membuat peraturan bagi semua siswa nya yang tidak mengerjakan PR, maka akan mendatangkan sanksi dengan membayar denda, tapi lama kelama'an semua siswa nya malah memilih untuk membayar denda dari pada menerima hukuman dari sang guru.
Jadi Bu Inggrid mengganti peraturan di dalam kelas nya, ya meski denda tersebut masuk ke dalam kas sekolah tapi semua muridnya menjadi tidak disiplin.
Setengah dari murid nya berdiri di luar kelas, dan setengah lagi mengikuti pelajaran guru killer tersebut, Sania begitu fokus mendengarkan pelajaran yang sedang di jelaskan oleh Bu Inggrid, namun ada juga yang tola tole nggak dengerin penjelasan Bu Inggrid di depan, di kelas yang di tempati Sania terbilang kelas nakal, karena semua murid nya kebanyakan anak anak nakal yang suka bolos, dan tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Tapi guru yang selalu sabar mengajar di kelas ini hanyalah Bu Inggrid, yang lain tak pernah punya kesabaran menghadapi murid-murid yang petakilan dan susah di atur itu.
Selesai pelajaran Bu Inggrid semua siswa yang kena hukuman di perbolehkan masuk ke dalam kelas, karena sebentar lagi, waktu pulang akan tiba.
Ting ting ting
__ADS_1
Bel pulang yang di tunggu semua siswa dan siswi di sekolah SMP negeri 1 ini berhamburan kelas menuju ke parkiran sekolah nya, ada juga yang sudah di jemput oleh para supir yang stanby di luar gerbang sekolah nya, termasuk Andriana dan juga Andrian, mereka sudah di tunggu Pak Dadi sang sopir yang selalu mengantar mereka ke sekolah.
BERSAMBUNG