Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 18


__ADS_3

Sampai sampai semua rekan kerjanya bertanya-tanya melihat Karan yang gila bekerja, ''Hey Karan, istirahat lah dulu, lagian itu bukan pekerja'an kamu di sini. Kamu harusnya ada di depan menunggu tamu tamu yang datang ke restoran ini, iya kan,'' kata Fauzan senior di restoran yang kerjanya di dapur, ya, dia adalah chef di restoran tersebut.


''Nggak apa apa Bang, di depan masih sepi, jadi dari pada diam melamun karena nggak ada kerjaan, ya Karan ke sini saja Bang?'' sahutku pada sang senior di dalam dapur.


''Sini Bang, biar Karan bantu nyuci piring nya, biar cepat selesai,'' lanjut Karan menghampiri senior yang sedang mencuci piring.


''Nggak usah Karan, ini emang sudah kerjaan ku dari dulu, kamu mah enak masuk kerja langsung di depan?'' sahutnya ketus, karena kerjaan Karan hanya mengantarkan pesanan para pengunjung.


''Karan nggak milih milih kerja kok Bang, mau di taruh di depan ataupun di belakang, bagi Karan sama sama kerja yang penty halal Bang,'' sahut Karan pada senior nya yang emang tidak menyukai kedatangan Karan, karena dia langsung di terima bekerja di restoran besar ini, tanpa ijasah sekolah nya.


''Sudahlah Karan? nggak usah di dengerin dia, biarin dia cuci piring sendirian, itu kan emang tugasnya membersihkan cucian yang menumpuk,'' kata senior yang baru masuk ke dalam dapur.


''Oia Karan, lebih baik kamu ke depan saja, takutnya ada tamu yang datang,'' lanjut senior yang selalu membela Karan sejak dia mulai bekerja di restoran siap saji.


Karan mengangguk dan berlalu setelah berpamitan pada ke empat senior nya.


''Seharusnya kamu senang Arsyad, di bantu oleh Karan, sejak dia bekerja di restoran ini, Karan tak pernah memilih milih teman, Karan selalu membantu setiap pekerjaan para senior senior nya, tapi kamu kenapa tidak suka pada Karan, apa dia sudah menyinggung kamu. Sehingga kamu begitu ketus padanya,'' tanyanya yang biasa di panggil Aceng oleh semua teman teman nya.


''Bukannya githu Ceng, tapi aku nggak mau saja gajiku di potong sama di Bos, gara-gara anak itu membantuku menyelesaikan pekerjaan ku,'' jawab Arsyad acuh tak acuh.

__ADS_1


''Emang Bos pernah memotong gaji kalian, hanya gara-gara Karan membantu kalian, nggak kan,'' kata Aceng itu lagi, masih terus berdebat dengan Arsyad.


''Karan bukan cuma sekarang bekerja di sini, dia di sini hampir 4 bulan lamanya, selama itu ada nggak dari kalian gajinya yang di potong oleh Bos?'' tanya Kak Aceng lagi pada semua temn teman nya.


''Enggak kok, gajiku utuh,'' sahut senior satunya.


''Gajiku juga utuh, meski Karan membantuku dan Pak Bos tau hal itu, namun Pak bos tak memotong gajiku, seperti yang kamu katakan barusan,'' jelas yang lainnya.


''Iya, punyaku juga utuh kok. Arsyad saja yang mencari cari alasan, sebenarnya kamu nggak suka kan oada Karan,'' ucap yang lainnya dan juga bertanya pada Arsyad. Arsyad yang bingung harus menjawab apa dari semua pertanya'an dan juga perkata'an teman teman nya.


''Bang ada yang pesan steak, sama orange jus,'' Ucap Karan tiba-tiba yang sukses membuat mereka yang sedang berdebat terkejut bukan main.


Weladdalah, masak iya Karan yang tampan seperti Aksay Kumar malah mendapatkan julukan Jailangkung sich, enggi banget kayaknya, coba dech cari nama panggilan yang sedikit bagus githu biar handsome nya tidak ikut ilang dari wajahnya.


''Karan, bisa nggak kamu kalau masuk ke dapur ketuk pintu dulu,'' keluh ku karena jantungku masih terasa deg degan, seperti habis lari berkilo kilo meter saja.


''Maaf Bang, kalau Karan masih ngetik pintu yng ada tamunya keburu pulang karena lama dapat makanan yang ia pesan,'' jelas Karan yang di angguki chef di sana.


''Betul banget kamu Karan, sudah kamu keluar saja sanah, kalau kamu masih berada di sini tamunya beneran akan pulang karena tak ada pelayan di depan,'' canda sang chef yang di tanggapi serius oleh Karan. Sang chef hanya menggelengkan kepalanya seraya berkata, ''Dasar Karan, aku kan cuma bercanda malah di anggap serius ma dianya, polos banget jadi orang,'' lanjutnya ketika melihat Karan beneran keluar dari dapur.

__ADS_1


Tak menunggu lama, linceng di atas meja di bunyikan oleh chef dari dapur, Karan menghampiri nya dan bertanya, '' sudah matang Bang, cepat banget,'' Ucapnya.


''Sudah kamu antar saja ke meja tadi yang pesan makanan ini, takut keburu pulang orang nya,'' sahutnya dan melanjutkan pekerjaan nya di pantry restoran.


''Assalamualaikum maaf Ibu, Bapak? pesanan anda sudah datang, dan selamat menikmati, semua beliau berdua puas dengan makanan di restoran ini,'' ucap Karan sopan dan membungkukkan badannya saat mau meninggalkan meja tersebut.


''Dek, dek? tunggu sebentar?'' gumam Ibu yang ada di depan nya.


''Adek masih sekolah kan ya, kok sudah bekerja di sini,'' tanya seorang Ibu Ibu yang menghentikan langkah Karan.


''Iya Ibu, sebenarnya saya masih sekolah menengah pertama, namun saya ikhlas bekerja paruh waktu untuk membantu Ibu saya Bu?'' lirih nya sembari menundukkan kepalanya, menghindari tatapan dari Ibu yang bertnya tadi.


''Kalau boleh tau, Ibu kamu tau kalau kamu bekerja di restoran ini,'' tanya nya lagi, sedangkan Karan sudah mulai khawatir takut takut Ibu pengunjung di depan nya malah menyalahkan Ibu nya, yang selama ini sudah melarang dia untuk membantu nya bekerja.


''Ibu saya sudah tau Bu, beliau sebenarnya tidak mengijinkan saya untuk bekerja, namun saya sendiri yang mau bekerja untuk meringankan beban hidup Ibu saya, karena Bapak saya sudah lama tiada Bu, jadi saya harus membantu Ibu saya, untuk mengurangi beban pikiran Ibu saya,'' jelas Karan, dan tanpa ia sadari air matanya sudah menggenang di pelupuk mata, Karan mengerjab dan air mata yang sudah tergenang pun lolos begitu saja di kedua pipi Karan.


''Maaf ya dek, bukannya Ibu mau membuatmu sedih kayak gini, namun Ibu merasa kasihan dan juga salut padamu, yang dengan ikhlas membantu orang tuanya untuk mencari uang, sudah jangan menangis lagi ya, Ibu minta maaf,'' Ucapnya menghampiri Karan, dan terlihat sangat jelas Ibu pengunjung itu membuka dompetnya, dan mengambil beberapa lembar uang kertas yang berwarna merah, lalu memberikan pada Karan, namun Karan menolak dengan sopan pemberian Ibu itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2