Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 107 Jalan jalan di Ubud


__ADS_3

Aku yang sudah sadar melenguh ketika mendengar sayup-sayup seseorang berkata, ''Kenapa dia lama sadarnua Pak, apa kita harus membawa dia ke rumah sakit sekarang, dan aku juga akan menelfon keluarga nya sekarang juga,'' tutur Rani yang sudah memegang handphone nya.


Dengan sekuat tenaga aku memenangi tangan Rani dan menggeleng pelan?.


''Jangan kasih tau keluarga ku Rani aku mohon,'' lirih ku menatap mata Rani yang sudah bengkak karena menangis.


''Sania, kamu sudah sadar sekarang? aku takut terjadi sesuatu sama kamu Sania, kamu bikin aku khawatir saja,'' jawab Rani memeluk tubuh lelah ku.


''Ini minum lah obat kamu sekarang, kenapa kamu sampai lupa meminum obat nya, padahal obat ini selalu di konsumsi tepat waktu, kalau nggak seperti inilah kejadian nya,'' Ujar sang dosen killer menyela obrolan ku dengan Rani.


Aku mengambil obat yang ada di tangan sang dosen, dengan tangan gemetar, sedangkan Rani kini tengah menatap ku dengan tatapan yang sangat tajam seraya berkata, ''Kamu harus menjelaskan ini semua padaku nanti, aku ngga mau kejadian seperti tadi terulang kembali yang membuat aku jantungan tau nggak?'' seru Rani masih dengan tatapan tajam nya dan menyelidik.


Aku mengangguk pelan seraya mengambil segelas air di tangan Rani, teman yang begitu setia menungguku di ruangan UKS, namun aku nggak yakin dia bisa menyembunyikan rahasia ini dari keluarga ku, aku takut sekali kalau sampai Rani mengatakan semuanya pada Ibu dan juga kak Karan yang kini tengah berbahagia dengan pernikahan nya.


''Lebih baik kamu segera di rawat dirumah sakit, agar penyakit kamu bisa cepat sembuh?'' sela sang dosen menatap ku. Aku yang mendengar nya pun terkejut dengan penuturan sang dosen.


''Jangan terlalu terkejut seperti itu, dia juga dokter di rumah sakit yang ada di kita ini,'' jelas Rani membuat aku tambah terkejut.


''Pak, saya mohon jangan katakan sesuatu pada keluarga ku, saya mohon? karena sampai saat ini beliau tak mengetahui penyakit yang saya derita,'' Ucap ku menatap ke arah sang dosen dan juga Rani yang tengah berdiri di sampingnya.


''Apa kamu bilang Sania?'' sambung Rani terkejut dengan pernyataan ku barusan. ''Keluarga mu nggak ada yang tau tentang penyakit kamu sekarang!'' lanjutnya lagi dengan sorot mata yang sulit di artikan.


''Maaf kan aku Rani, aku belum bisa memberitahu penyakit ku pada mereka semua. Karena aku tak mau membuat mereka sedih? sedangkan mereka semua tengah berbahagia dengan pernikahan kak Karan dengan kak Pinky,'' lirih ku dan aku pun menundukkan kepalaku, karena aku sudah tak berani lagi menatap keduanya lagi.

__ADS_1


''Kamu yang sabar ya Sania? sekarang kan sudah ada aku yang akan menjagamu, jadi kamu nggak boleh bersedih lagi oke?!'' celetuknya membuat aku mau tak mau mendongakkan kepalaku agar bisa menatap wajah Rani kembali, meski aku tahu senyum Rani adalah palsu namun aku tak mempermasalahkan nya, ini yang aku takutkan satu satu orang di dekatku akan tau dengan keadaan ku yang sekarang, apa aku masih bisa menyembunyikan sekua ini dari keluarga besar ku? pikir ku.


...****************...


Di tempat lain kak Karan dan kak Pinky tengah menikmati bulan madu mereka berdua, dengan berjalan jalan di pantai dan berkeliling di tempat tempat yang mereka sudah rencanakan sebelumnya.


''Sayang kita makan malam dulu di sana yuck, kayaknya di sana asik dech dan makanan nya juga tak kalah lezatnya di restoran yang ada di hotel?'' ajak kak Pinky menggandeng lengan suaminya.


''Boleh? tapi jangan lupa jatah untuk malam ini,'' kak Karan membisikkan kata kata yang mungkin akan setiap hari akan di dengar oleh kak Pinky.


''Lagi? bukan nya tadi sore udah, atau jangan jangan kamu mau bikin aku gempor dengan pergulatan pergulatan itu, ini saja badan aku masih sakit semua Mas, masak iya kamu tega mau menerkam aku lagi nanti?'' jawab kak Pinky memelototi kak Karan, namun orang yang di pelototi tak menggubris setiap ucapan kak Pinky yang barusan di lontarkan, kak Karan hanya tersenyum smirk menanggapi ocehan ocehan dari istri nya.


''Kan kita kesini mau bikin junior? seperti pesan Sania semalam, iya kan?'' balasnya tanpa merasa bersalah sama sekali.


''Tapi, enak kan? dan membuat kamu ketagihan dengan permainan ku itu,'' ledek nya mengecup telinga kak Pinky membuat si Empu menggelinjang di buatnya.


''Malu banyak orang?'' sela kak Pinky menatap ke arah kak Karan yang kini tengah tersenyum.


''Makanya kamu harus berjanji padaku dulu, untuk memberikan jatah lagi, bagaimana?'' balas kak Karan menaik turunkan alisnya.


''Iya iya, sudah jauhkan badan kamu dari tubuhku sekarang, malu banget di lihat orang lain? lagian juga nggak boleh juga menebar kemesraan seperti ini di depan halayak umum, nanti yang ada membuat orang lain menjadi ngiler?'' cerocos kak Pinky mendorong tubuh kekar kak Karan.


Setelah makanan yang ia pesan datang? kak Pinky dengan segera menyantap makanan nya agar cepat menyelesaikan makan malam nya.

__ADS_1


''Mas? aku boleh nanya nggak?'' tanya nya ragu ragu.


''Tanya apa sayang,'' ujar kak Karan menghentikan kunyahan nya dan menatap ke wajah istri nya yang tengah di landa kebingungan.


''Tanya saja, aku nggak akan marah kok? lagian kenapa kamu kayak orang kebingungan githu sich,'' tanya nya lagi, ketika tak mendapatkan jawaban dari istri nya.


''Aku bingung harus mulai dari mana dulu, soalnya aku juga baru melihat nya semalam.''


Kak Karan di buat bingung dengan perkataan sangat istri, sehingga dia berdecih karena tak mengerti apa yang di ucapkan istri nya.


''Maksuda kamu apa sich sayang? jangan kuter muter gitulah kalau ngomong, bikin aku tambah penasaran dan juga kesal dengernya.'' protesnya dengan nada datar.


''Sejak usia berapa Sania mulai mimisan Mas?'' tanyaku pada Karan yang tak lain adalah suami sah ku.


''Maksud kamu apa sayang?'' tanya nya lagi takutnya dia salah mendengar.


''Kemarin aku melihat Sania mimisan mas? dan ketika aku tanya dia malah jawab sudah biasa, sedari kecil sudah seperti ini,'' ujar kak Pinky yang mulai beecerita pada suaminya.


''Sania mimisan?'' Ucap kak Karan terkejut.


''Kenapa kamu terkejut seperti itu sich Mas, bukannya sudah biasa kata Sania.''


''Sania tak pernah mimisan selama ini, aku takut dia kenapa napa? di tambah lagi dengan sikap nya yang sudah mulai berubah, dia tak seceria dulu lagi. Apa mungkin dia menutupi sesuatu dari ku?'' kak Karan mulai menerka-nerka apa yang ada di pikiran saat ini.

__ADS_1


Selera makan nya kini sudah menghilang, diganti dengan rasa khawatir nya, kepada Sania adek semata wayang nya itu.


__ADS_2