
Karan terlihat menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
''Siapa Karan?!'' tanya tuan Arzan datar.
''Ibu Om, beliau meminta nomor kantor cabang, entah buat apa Karan nggak ngerti,'' sahut Karan dan menghempaskan tubuh nya di sofa yang terletak tak jauh dari tempat tuan Arzan sekarang.
''Untuk apa mbak Wati meminta nomor kantor cabang di sana,'' sela tuan Arzan, Karan hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tau.
''Apa jangan jangan Sania adandi sana sekarang?'' tebak Tuan Arzan menganggap satu alis nya.
Tak lama setelah itu ponsel tuan Arzan berdering, kini anak buah yang di utus untuk mencari tau keberada'an Sania tengah menghubungi nya.
-''Hallo Tuan, Nona Sania sekarang berada di penginapan yang berada tak jauh dari kantor cabang,'' Ucap anak buah tuan Arzan.
-''Terus pantau dia di sana, kalau terjadi sesuatu tolong beritahu aku secepatnya.'' titah tuan Arzan.
-''Baik Tuan, kalau begitu saya akhiri panggilan nya.'' kata anak buah nya.
''Siapa Om?'' tanya Karan yang kini tengah menatap nya.
''Orang suruhan Om, dia bilang Sania ada di sana, dan sekarang dia berada di penginapan yang berada tak jauh dari kantor cabang,'' jelas Tuan Arzan membuat Karan mengerutkan kening nya.
''Berarti sekretaris tadi di suruh Sania, agar kita tak lagi menyuruh orang untuk datang ke kantor cabang kita,'' seru Karan yang di angguki Tuan Arzan.
__ADS_1
''Lebih baik kamu pulang sekarang, dan bicarakan ini baik baik dengan Ibu kamu, agar dia tidak merasa khawatir lagi,'' sela Tuan Arzan. Karan hanya mengangguk mengerti dan langsung mencium punggung tangan Tuan Arzan.
...****************...
Di rumah besar Karan, Bu Wati masih merasakan kekhawatiran yang luar biasa, handphone Sania masih belum juga aktif sampai malam, membuat Bu Wati memikirkan hal yang tidak tidak.
Suara mobil Karan memasuki pelataran rumah nya, membuat Bu Wati segera membuka pintu utama, yang mana Karan masih berada di dalam mobil nya, namun mesin mobil nya sudah di matikan dan sebentar lagi dia bakalan keluar dari mobil? dengan tidak sabar Bu Wati kini tengah berdiri di samping pintu mobil yang akan di buka Karan.
''Karan, tadi Pinky bertanya nomor kantor cabang, tapi kenapa kamu belum juga memberi nomor tersebut,'' cecar Bu Wati, Karan hanya menulikan telinganya saat dia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah besar nya, di mana di sana sudah ada sang istri yang berdiri di ambang pintu.
Pinky mengulurkan tangan nya dan mencium punggung tangan suami nya, tak lupa juga Pinky mengambil alih tas kerja suami nya dan dibawa ke ruang keluarga, Pinky sendiri merasa tak enak hati melihat suami nya yang terlihat sangat lelah, ditambah lagi dengan pertanya'an pertanya'an yang akan ia lontarkan.
''Mas Karan mau kopi?'' tanya Pinky lembut.
''Boleh,'' kata Karan singkat.
Karan menatap Ibunda nya yang tengah terdiam dan hanya menatap wajah lelah nya, ''Sekarang Ibu jujur pada Karan,'' Karan memulai obrolan nya, yang kini tengah menghampiri sang Ibu dan duduk di samping wanita yang sudah melahirkan dan juga membesarkan dengan segenap jiwa raga nya.
''Sebenarnya... adik kamu pergi ke kantor cabang, dia bilang pada Ibu kalau dia sendiri yang akan meng-handel semua kekacauan yang nada di sana, adik kamu juga melarang untuk memberitahu kamu yang sebenarnya,'' terang Bu Wati dengan tangisan nya.
''Ibu jangan menangis? Mas Karan hanya bertanya saja kok Bu,'' sela Pinky menaruh secangkir kopi untuk suami nya.
''Tapi Ibu sudah ingkar pada adik kamu sekarang, Sania akan sedih ketika ada orang yang akan menemui nya dia di sana, adik kamu hanya butuh waktu untuk sendiri dan menyelesaikan semua masalah nya sendiri,'' balas Bu Wati di pelukan putera nya.
__ADS_1
''Adik kamu nggak mau kalau dia sampai di kasihani oleh orang orang terdekat nya, Ibu juga tak bisa menolak keinginan dia ketika meminta ijin untuk datang ke kantor cabang tadi pagi,'' Karan merengkuh tubuh wanita yang begitu ia sayangi selain istri nya.
''Kamu nggak tau kesedihan seperti apa yang sudah di alami adik kamu selama ini nak? Ibu hanya ingin melihat adik mu bahagia itu saja,'' lanjut Bu Wati, Karan menghaous air mata yang kian mengalir di kedua pipi nya.
''Adik sekarang baik baik saja kok? tadi Karan cuma ingin memastikan saja Bu, kalau yang ada di sana benar-benar Sania,'' tutur Karan membuat Bu Wati terperangah kaget dengan penuturan putera nya.
''Kamu tau dari mana kalau adik kamu ada di kantor cabang sekarang?'' tanya Bu Wati menyelidik.
''Om Arzan mengerahkan anak buah nya untuk mengetahui keberada'an Sania, tadi Karan menemui Om di kantor nya? karena sekretaris di sana menghubungi Karan dan mengatakan tak usah mengirim orang lagi, jadi Karan memutuskan untuk bertanya langsung pada Om Arzan. dan diapun langsung menghubungi anak buah nya untuk mencari tau orang yang ada di kantor cabang,'' jelas Karan pada Bu Wati.
''Terus tadi Ibu nyuruh Pinky untuk meminta nomor kantor cabang buat apa,''
''Tadi Ibu sangat khawatir pada Sania Mas, handphone nya sedari siang nggak aktif aktif sampai sekarang, jadi Ibu akan bertanya langsung pada orang kantor,'' tukas Pinky menjelaskan agar tak ada yang salah paham lagi.
''Sudah lebih baik Ibu istirahat sekarang, Sania baik baik saja, dan sekarang dia berada di penginapan? mungkin dia sengaja mematikan ponsel nya agar tak ada orang yang mengganggu waktu istirahat nya,'' kata Karan menyuruh sang Ibu agar dia istirahat di kamar nya.
''Sayang? tolong antar Ibu ke kamar,'' perintah nya.
''Mari Bu, Pinky antar?'' ajak Pinky memegang lengan Ibu mertua nya. Bu Wati mengangguk dan melangkah pergi menuju kamar nya yang kebetulan berada di lantai dasar.
Setelah mengantar Ibu mertua nya, Pinky mengajak sang suami ke kamar nya, ''Lebih baik Mas mandi dulu biar lebih fresh dalam berfikir, karena setelah ini Pinky akan bertanya padamu,'' lanjut Pinky, mengulurkan tangan kepada suami nya, agar sang suami ikut ke kamar nya, masih banyak pertanya'an di benak Pinky malam ini, selain dia memikirkan Sania? dia juga memikirkan Arlan yang kelihatan nya sangat menyukai Sania, namun Pinky takut mengatakan itu semua pada suami nya, mengingat sekarang adik ipar nya yang sedang sakit parah? dan dia juga nggak bakalan menerima orang begitu saja, Sania memejamkan mata nya sejenak sebelum melangkah kan kakinya ke lantai dua.
.
__ADS_1
.
.