Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 87 Rengekan Sania


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan sang bos, Kirana tak kembali ke gubuknya, dia memilih untuk tetap tinggal bersama Ibelin, teman yang menurutnya orang baik, Kirana selalu menampakkan senyum manis nya masuk ke dalam rumah Ibelin yang mewah dan juga besar.


'Dulu rumahku lebih besar dari ini, namun gara-gara sampah itu aku jadi seperti sekarang, semua orang menghujat ku, dan semua saudara termasuk teman yang selama itu aku biayain malah menghilang bagai di telan Bumi ketika aku sudah miskin, tapi tunggu saja aku kaya kembali, akan ku buktikan pada kalian semua bahwa aku bisa bangkin kaya seperti dulu,' Ucap Kirana dalam hati, dia begitu ponggah dalam bertutur kata, Kirana masih seperti dulu yang sombong dan juga egois, dia tak pernah berubah sama sekali, walaupun di kehidupan nya yang sudah melarat pun dia masih bersikap acuh dan sombong. Hal itu yang membuat warung ayah nya sepi dari pelanggan karena sikap Kirana yang culas pada pembeli nya, sebenarnya pembeli adalah raja. Namun bukan untuk Kirana?ketika pembeli banyak bertanya Kirana malah mengusir nya, dan dengan acuh tak acuh nya dia tak meminta maaf pada pembeli tersebut.


Berbeda dengan Sania yang selalu rendah hati pada semua orang terdekat nya, maupun orang yang baru ia kenal. Hari ini Karan dan juga Sania membawa Pinky ke rumah kakek Sanjaya, untuk memperkenalkan Pinky lebih dekat lagi pada kakek nya.


''Kak Pinky? ayo sekarang ikut Sania ke rumah kakek,'' ajak Sania yang mendatangi Pinky ke butik nya, karena Pinky sudah tak lagi tinggal dengan Ibu nya.


''Ada acara apa disana Sania?'' tanya Pinky yang merasa aneh dengan sikap Sania.


''Nggak ada acara sich kak, tapi kakek mengajak kak Pinky untuk makan malam dirumah nya, Ibu sama kak Karan sudah menuju ke sana sekarang, jadi tinggal aku dan kak Pinky saja yang belum berangkat.


''Sania, aku sangat sibuk sekarang? aku harus mengerjakan tugas skripsi ku, dan belum lagi tugas orang yang memesan gaun pada ku juga banyak,'' jawab Pinky menolak dengan halus.


''Ayolah kak, kalau kak Pinky nggak ikut? kakek pasti sangat kecewa pada Sania, karena telah gagal mengajak kak Pinky untuk hadir di acara makan di rumah kakek Sanjaya,'' mohon Sania kepada Pinky, Sania terus saja merengek mengajak nya untuk datang kerumah kakek Sanjaya, dan pada akhirnya Pinky mau di ajak pergi, Sania sangat senang mendengar jawaban Pinky yang mengucapkan kata iya tersebut.


''Tunggu sebentar, aku akan ganti baju dulu. Nggak mungkin kan aku ikut kamu dengan baju seperti ini, nggak sopan tau,'' Ucap Pinky panjang lebar, Sania hanya mengangguk mengiyakan, Sania juga langsung menghubungi kakak nya untuk mengabarkan kalau Pinky mau di ajak ke rumah kakek Sanjaya.


Panggilan tersambung dan dengan datar Karan menerima panggilan telfon dari adik nya.


-''Kak karan? kak Pinky mau di ajak kesana, lebih baik kak Karan siap siap sajalah?'' ujar Sania dengan senang nya.

__ADS_1


-''Iya.'' jawab Karan singkat.


Sania mengernyit dahinya mendengar jawaban singkat sang kakak.


-''Kenapa nada suara kakak seperti itu sekarang, mana semangat kamu yang bilang ingin melamar kak Pinky beberapa hari lalu,'' cecar Sania pada kakak nya.


-''Ya sudah matiin saja sambungan telfon nya, entar yang badan Pinky malah dengar duluan lagi, dan bagaimana kalau dia menolak ku, bisa bisa aku yang malu,'' jawab Karan panjang lebar membuat Sania ternganga tak percaya? ketika mendengar icehan sang kakak yang sangat panjang itu. Tiba-tiba panggilan di putus secara sepihak, aku sangat marah pada kak Karan di kala panggilan telfon nya di putus.


''Resek banget jadi orang, nyebelin banget sich jadi kakak, untung cakep? kalau nggak sudah aku bejek bejek tuh kak Karan, terus aku kasih buaya thu biar di makan tu hewan buas. Tapi... sama sama buaya sich,'' gumam ku pelan seraya terkekeh kecil, aku dengan setia menunggu kak Pinky yang kini tengah berdandan, lebih tepat nya merias diri agar terlihat cantik di depan keluarga besar nanti, pikir ku.


Setelah lama menunggu aku pun memanggil kak Pinky yang sudah lumayan lama didalam kamar nya, aku mengetuk pintu dan memanggil namanya. ''Ayo kak Pinky,'' teriakku ketika ketukan pintu tak di hiraukan oleh sang empu.


''Kak Pinky tuh sudah cantik, walau nggak lama dandan nya juga bakalan tetap cantik kok kak?'' goda ku membuat wajah kak Pinky bersemu merah karena malu mungkin, itu sich menurutku.


''Ya sudah, ayo berangkat sekarang? Ibu sudah nelfon Sania barusan,'' bohong Sania dan merangkul lengan Pinky begitu erat.


'Semoga kamu menerima kak Karan kak? aku sangat bahagia kalau kak Pinky yang menjadi kakak ipar Sania,' gumam ku dalam hati.


Aku membawa kak Pinky ke mobil di mana di sana juga ada Arlan yang tengah menunggu dengan bosan.


''Lama banget sich!'' tukas nya ketika melihat ku keluar dari butik kak Pinky.

__ADS_1


''Gimana nggak lama? kalau Ratu yang aku tunggu ganti bajunya sangat lama!'' jawab Sania melirik ke arah Pinky.


''Jadi Arlan juga ikut, tapi kenapa kamu nggak nyuruh dia masuk juga sich?'' tanya kak Pinky terkejut, karena kak Pinky tak tau menau kalau nyatanya di luar ada Arlan yang tengah menunggu nya di luar.


''Sania tak memperbolehkan aku untuk masuk ke dalam Pinky, kata nya biar cepat,'' sambung Arlan menatap ke arah ku yang kini tengah menggaruk kepala yang tak gatal.


''Kalqu kak Arlan mau menyalahkan karena lama, harus nya kak Pinky yang harus di salahkan kak, dia yang begitu lama dan juga susah ketika di ajak pergi, aku harus merengek baru dia menyetujui nya,'' balas ku yang tak mau di salahkan di sini.


''Ya sudah nggak usah berdebat lagi, kita kan telat ke rumah kakek Sanjaya? kalau kita hanya berdebat di sini terus,'' Ujar kak Arlan memperingatkan aku dan juga kak Pinky.


Akupun masuk ke dalam mobil, aku sengaja duduk di samping kak Arlan, sedangkan kak Pinky berada di belakang sendirian.


''Lebih baik kalian pacaran saja, kalian cocok kok?'' Ucap kak Pinky tiba-tiba, membuy aku menoleh ke belakang dan berseru tak setuju.


''Enak saja kak Pinky bilang! aku masih muda? dan masih ingin terus mengejar cita-citaku dulu sebelum meryd, ech malah di suruh nikah sich?'' jawab ku sedikit kesal lalu menatap ke arah kak Arlan yang biasa biasa saja.


'Mana mungkin Sania mencintai ku, yang hanya bawahan Om nya saja, dan aku juga? kenapa harus jatuh cinta sama Pinky yang bukan sederajat dengan ku, ayahku hanya ajudan Tuan besar, dan aku sendy hanya bawahan Karan, yang tak langsung kakak nya Sania. Huch... Aku harus melupakan cinta ini agar aku tak merasakan sakit hati, dulu aku tidak seperti ini sebelum bertemu dengan Sania dan di suruh menjadi pelindung nya?' Gumam kak Arlan dalam hati.


''Kak Arlan baik baik saja kan?'' tanya ku saat tak melihat kak Arlan me nimbrung obrolan ku bersama kak Pinky.


''Aku nggak apa apa kok? terus kalau aku ikut nimbrung obrolan kalian yang ada malah di ketawain sama kalian berdua, kalian tau aku cowok satu satunya di mobil ini bukan?'' jawab Kak Arlan yang masuk akal juga sich. Aku kan sedari tadi membahas gaun gaun rancangan kak Pinky saja, kenapa aku harus bertanya demikian pada kak Arlan. Aneh? benar benar anech, pikir ku.

__ADS_1


__ADS_2