Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 39


__ADS_3

''Nggak, nggak mungkin kamu adik mas Candra? Mas Candra tak pernah bercerita kalau dia punya adik perempuan, lagi pula Mas Candra sudah di usir oleh tuan Sanjaya dulu,'' kata Bu Wati menggeleng geleng kan kepalanya tak percaya.


''Saya memang adik kak Candra mbak, saya juga sudah mencari tau tentang keberada'an kakak ku selama ini, namun saya tak pernah menemukan nya,'' jelas kak Citra, sedangkan air mata nya luruh begitu saja, tak bisa ia bendung lagi. Mengingat sekarang kakak nya sudah tiada, Candra Putra Sanjaya kini sudah tenang di surga nya Allah.


''Tapi yang saya tau, Mas Candra di usir oleh Ayah-nya? karena memilih menikah dengan ku bukan menikah dengan perempuan yang sederajat sama kalian semua,'' jelas Bu Wati, mengingat semua perkata'an dari mendiang suaminya.


''Terus untuk apa kalian mencari kami, hidup kami sekarang sudah tentram, dan kakak kamu sudah meninggal 8 tahun lalu, kayaknya kalian harus melupakan kami bertiga, kami tidak membutuhkan apapun dari kalian, tapi yang kami butuhkan hanyalah ketenangan saja,'' lanjut Bu Wati yang mulai meneteskan air mata nya, mengingat mendiang suaminya yang pernah di usir, dan tanpa di beri uang sepeserpun untuk dia makan.


''Ibu tenang ya, kita dengar kan dulu ucapan tante Citra,'' Ujar Karan mengelus punggung sang Ibu.


''Maaf sebelumnya, kalau kami mengganggu istirahat Ibu hari ini, saya sebagai suami dari Citra, hanya mengatakan kalau istri saya juga ikut keluar dari rumah pak Sanjaya waktu lalu, dia sangat terpukul dengan kepergian mas Candra, dan selama ini kami masih mencari keberadaan mas Candra, namun kemarin setelah kami bertemu dengan Karan di restoran, saya langsung mencari tau semua ini dengan adik ipar saya juga, tapi saya terkejut setelah mengetahui semua nya, yang mengatakan kalau Mas Candra sudah meninggal 8 tahun lalu, saya sendiri sangat ke sulitan mencari keberadaan Mas Candra, karena nama nya di rubah menjadi Muhammad Candra, bukan lagi Candra Putra Sanjaya,'' sambung Mas Arzan menceritakan semua nyanya pada istri almarhum kakak nya.


Bu Wati menatap nyalang ke arah kak Citra, tatapan Bu Wati penuh dengan penyesalan, Bu Wati langsung menghambur pada kak Citra yang terus saja mengeluarkan air mata kesedihan nya, 'Betapa hancur nya hati wanita ini, saat mendengar bahwa kakak yang ia cari selama bertahun-tahun sudah tiada 8 tahun yang lalu,' Bu Wati membatin, seraya memeluk erat adik dari mendiang suami nya.


Sedangkan Andriana, Andrian dan Mikaela hanya kesal di saat mereka mendengar bahwa paman nya bukan pergi dari rumah, melainkan di usir oleh kakek nya.


''Aku nggak nyangka, kakek begitu kejam pada Paman?'' gumam Andrian pelan, tapi masih di dengar oleh Andriana dan juga Mikaela.

__ADS_1


''Mikaela jadi benci sama kakek sekarang, bukan hanya Paman saja yang keluar dari rumah itu, tapi tante juga ikut keluar,'' sambung Mikaela geram.


''Iya, pantesan Mama males banget setiap kali aku ajak untuk menemui kakek di rumah kamu Mikaela?'' sahut Andriana pelan.


Bu Wati dan kak Citra masih saja berpelukan, tak menghiraukan kehadiran Cinta di sana, sampai akhirnya kak Citra teringat kalau dia datang bersama adik nya Cinta.


''Adik sini?'' panggil kak Citra, melambaikan tangan nya pada sang adik yang duduk termenung dengan kesedihan nya.


Cinta beranjak dari duduk nya dan menghampiri kak Citra dan juga kakak ipar nya.


''Maafin Cinta ya mbak? baru menemukan kalian,'' lirih Cinta dengan air mata yang sudah mengalir di pipi mulus nya. Mereka bertiga kini meluapkan rasa sedih nya, memang ini pertemuan yang pertama bagi mereka bertiga, namun mereka nampak akrab sekarang setelah menceritakan semua kejadian yang lalu, Karan dan Sania nampak tersenyum melihat Ibu nya sudah tidak sendiri lagi, Karan memeluk Sania adik nya.


''Mbak mau kan? kumpul bareng kita di rumah,'' ajak kak Citra pada kakak ipar nya, namun yang ia dapat kan hanya gelengan kepala saja.


''Biar kami tinggal di sini saja, kami bertiga sudah sangat senang bisa bertemu dengan kalian, dan maaf kalau aku nggak mengenali kalian semua, karena almarhum Mas Candra tidak pernah menceritakan tentang kalian berdua,'' Sahut Bu Wati pada kedua adik ipar nya.


''Tapi Papa sekarang sudah menyesali perbuatan nya dulu, sejak kak Candra pergi, dan kak Citra juga pergi Papa sudah sangat menyesal. Kalau kalian nggak mau tinggal bersama kak Citra, tinggal lah bersama saya mbak?'' bujuk Cinta, namun Bu Wati masih kekeh dengan pendirian nya, dia masih terus mengingat kejadian kejadian dulu yang di perbuat oleh Pak Sanjaya sang mertua pada diri nya.

__ADS_1


''Tidak usah Cinta, kami di sini saja? mungkin Karan dan Sania mau ikut?'' kata Bu Wati menatap ke arah anak anak nya.


''Karan akan pergi kalau Ibu juga pergi, kalau Ibu di sini Karan juga akan di sini,'' sambung Karan membalas tatapan dari Ibu nya.


''Sania juga nggak mau pisah sama Ibu, walau kita hidup serba pas pasan, tapi Sania bahagia kumpul bersama Ibu,'' Ucap Sania sedih.


''Bukan githu maksud Ibu Nak? kalian berdua pergilah ke rumah kakek kalian, temui dia walau hanya sekali, bagaimana pun dia tetap kakek kalian,'' jelas Bu Wati yang membuat salah faham dengan kedua anak anak-nya.


'Mana mungkin, Ibu rela kehilangan kalian berdua, tapi Ibu hanya ingin melihat kalian bahagia bersama dengan keluarga ayah kamu nak?' batin Bu Wati, senyuman nya kini di paksakan oleh nya, agar tak terlihat sedih di hadapan keluarga almarhum suami-nya.


''Baiklah tante, tapi lain kali saja. Karena kalau sekarang Karan belum minta ijin sama manager restoran, jadi nggak enak sendiri kalau libur tanpa pemberitahuan sebelum nya?!'' kata Karan menjelaskan pada kedua tante nya.


''Ya sudah? kalau kalian mau datang ke rumah bareng si kembar saja ya, kan kalian satu sekolah?'' jawab kak Citra yang di angguki oleh Karan dan juga Sania.


''Jadi kalian satu sekolah, bagaimana bisa?'' tanya Cinta terkejut.


''Kami berdua mendapatkan bea siswa tante, jadi bisa dong?'' lirih Karan, namun dengan nada sedih nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2