
Karan menatap sang istri yang di abaikan oleh Ibu nya, seketika itu Karan sengaja menghentikan mobil nya agar sang istri bisa menggapai tubuh sang Ibu yang ada di kursi belakang.
''Sayang? kamu temani Ibu di belakang?'' suruh Karan dengan nada lembut nya, seraya memegang tangan sang istri.
Pinky hanya mengangguk pelan, lalu Pinky membuka pintu mobil untuk pindah ke kursi penumpang di belakang bersama sang mertua yang terlihat tak baik baik saja.
'Ibu, pasti memikirkan adik saat ini? sampai sampai beliau memanggil manggil nya seperti tadi, aku harap adik tak kenapa napa?' Gumam Karan dalam hati nya, Karan merasa tak tega ketika melihat wajah sedih Ibu nya ketika dia baru bangun dari tidur nya, bukan tidur sich? hanya memejamkan matanya sejenak, namun tak lama setelah itu beliau malah berteriak-teriak nggak jelas dengan memanggil nama Sania.
Pinky menggangu tangan Ibu mertua nya dengan erat, memberi kenyamanan untuk beliau yang masih dengan nafas memburu, Pinky juga menaruh kepala mertua nya di pundak nya, sehingga rasa nyaman yang di berikan oleh sang menantu pun kini di rasakan oleh Bu Wati.
Perjalanan yang cukup jauh dan juga memakan waktu yang sangat lama membuat Pinky dan juga Bu Wati memutuskan untuk memejamkan matanya untuk mengusir rasa bosan dannjuganrasa kantuk itu sendiri.
...****************...
Di rumah sakit Sania sudah sadar sejak setengah jam yang lalu, seperti biasa gadis itu selalu memperlihatkan senyuman palsu nya kepada saudara sepupunya, matanya yang sudah bengkak karena terlalu lama menangisi keada'an adik sepupu nya tersebut.
''Kak Riana kalau seperti itu makin jelek tau,'' enak Sania dengan nada lirih.
''Masa bodo, mau jelek, mau tua nggak peduli aku, yang aku peduli'in hanya kamu sekarang?'' tukas Riana kesal.
Sania terkekeh, Arlan yang melihat Sania sudah baikan merasa sangat bersyukur sekali, karena Allah masih sayang kepada nya, kini Arlan sudah bertekad untuk segera menikahi Sania, Arlan sudah tak peduli lagi dengan penyakit yang Sania derita, pikiran Arlan hanya untuk membahagiakan puja'an hatinya.
Tepat ketika Arlan ingin melangkah kan kakinya keluar ruangan, Sania mencegah kepergian nya, ''Mas Arlan, maaf ya sudah merepotkan mas Arlan?'' seru Sania membuat Arlan membalikkan tubuh nya, kembali menatap wajah gadis nya.
''Aku nggak merasa di repot kan sama sekali kok Sania, kamu jangan berpikir seperti itu lagi? dan jangan ulangi hal semacam itu lagi,'' kata Arlan memaksakan senyuman nya.
Sania juga menatap wajah sedih laki-laki yang namanya sempat ada di dalam hatinya, namun untuk saat ini Sania harus membuang jauh jauh rasa sukanya kepada Arlan, hanya karena dia ber penyakitan seperti ini.
__ADS_1
''Kak Arlan mau kemana?'' tanya Riana mencairkan suasana. Karena menurut Sania suasana seperti sangat mengerikan sekali.
''Aku mau ke kantin dulu, mau beli makanan karena Sania harus segera minum obat nya,'' jawab Arlan yang di angguki Riana.
''Kak? kalau nggak keberatan Riana titip makanan juga ya, soalnya Riana laper banget?'' Ujar Riana dengan nada manja nya, seakan Riana mempunyai perasa'an kepada Arlan, dan itu yang di anggap Sania saat ini.
'Semoga mas Arlan bisa bahagia dengan kakak sepupu ku, aku akan relakan laki-laki yang aku sayangi dulu kepada kakak sepupu ku in,' ucap Sania dalam hati.
''Nggak kok, cuma satu kotak nggak bakalan keberatan? tapi kalau sama kantin nya aku bakalan langsung angkat tangan, karena terlalu berat?!'' sahut Arlan yang mulai ngelawak, hanya ingin melihat Sania tertawa saja.
Benar? Sania memang tertawa dengan kekonyolan Arlan saat ini? walau terlihat garing menurut Riana.
''Sudah, cepat pergi ke kantin sanah, aku lapar!'' usir Riana dengan mengibas ngibaskan tangan nya ke arah Arlan.
Arlan mengangguk dan melangkah pergi, tubuh kekar Arlan hilang setelah pintu ruangan di tutup oleh pemilik tubuh tersebut.
''Kak Riana kok gitu sich sikap nya sama mas Arlan?'' tegur Sania karena melihat kakak sepupu nya terlihat tidak sopan.
''Sudahlah, jangan terlalu di fikirin si Arlan itu, dia emang seperti itu kok, suka suteres orang nya,'' tambah Riana.
Namun tak lama kepergian Arlan ke kantin rumah sakit, pintu ruangan Sania di buka dari luar, ''Kenapa balik lagi,'' tukas Riana tanpa menoleh ketika pintu ruangan VIP tersebut di buka dan tanpa ijin dari orang di dalam nya.
''Maksud kamu kakak nggak boleh kesini,'' Ujar Karan dengan nada dingin nya.
Riana yang mengenal suara itu pun akhirnya menoleh ke asal suara, dan benar saja dengan fikirin nya sekarang? pemilik suara itu adalah Karan, kakak sepupu Riana.
''Maaf kak? Riana kira kak Karan adalah kak Arlan yang kembali lagi ke ruangan ini,'' jawab Riana merasa bersalah dan juga malu, karena dia sudah salah sasaran dan juga salah orang.
__ADS_1
Sedangkan kedua wanita yang di sayangi Karan sudah memburu tubuh Sania yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Bu Wati yang melihat kondisi Sania seperti itupun sudah tak sanggup menahan air mata nya lagi, buliran bening sudah lolos begitu saja, walau tanpa aba aba dari pemilik nya.
''Bunda nggak boleh sedih ya, Sania nggak apa apa kok? Sania hanya kelelahan saja, tapi mas Arlan yang berlebihan sampai sampai menghubungi kak Karan dan juga Bunda untuk datang kemari,'' Ucap Sania pelan seraya mengelus punggung sang Bunda yang tengah memeluk nya.
''Mas kok nggak bilangnya nggak sebenarnya sich? kalau Sania di rawat di rumah sakit sekarang?'' Ucap Pinky yang menatap tajam ke arah suaminya yang kini sudah mendudukkan diri di sofa yang ada di dalam ruangan Sania.
''Mas sengaja nggak berkata yang sejujurnya sama Ibu dan juga kamu sayang? aku takut kalian malah mewek di jalan, sedangkan perjalanan kesini sangat jauh sekali. Pasti suara tangisan kalian berdua membuat aku tak fokus dalam menyetir? makanya aku berbohong demi kebaikan bersama oke??'' balas Karan menaik turun kan kedua alis nya.
Pinky hanya mencebik kesal dengan penuturan suaminya, tapi Pinky juga merasa bersyukur dengan ide sang suami yang tak mau bilang dengan jujur saat masih berada di Jakarta tadi, kalau itu sampai terjadi bakalan ada paduan suara tangis di dalam mobil? dan pasti akan mengomeli suami nya yang melakukan mobil nya dengan kecepatan yang tak terlalu cepat, Pinky mengangguk paham dan Pinky pun menghampiri sang suami dan langsung mencubit perut Karan dengan sengaja.
''Awww,'' Karan mengaduh kesakitan, ''Kenapa di cubit seperti itu sich?'' lanjut nya mengelus perut yang di cubit Pinky sang istri.
''Untung cinta? kalau nggak--'' Karan tak melanjutkan ucapan buat karena sudah di potong oleh Pinky.
''Kalau nggak apa, haa!!'' seru Pinky yang sudah mwlipat kedua tangan nya dan di letakkan di pinggang nya.
''Nggak jadi,'' jawab Karan singkat.
.
.
.
.
Terima kasih yang selalu dukung karya receh Al-mahyra, tanpa kalian tak kan jadi seperti sekarang ini.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen nya ya kakak cantik dan juga abang ganteng, byee...
Terimakasihππππππ