Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 184 Hamil


__ADS_3

''Sayang? akhirnya kamu datang,'' kata Arlan dengan nada lirih nya.


''Neng, ayo?'' ajak nenek Beti ketika melihat Sania masih terus terdiam di tempat nya.


''Sayang, kamu ke sini untuk menemui ku kan?'' ucap nya lirih dan menggenggam tangan Sania istri kecil nya yang sudah beberapa hari ini ia cari.


''Maaf kak, dia datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatan nya, soal nya dari semalam dia muntah muntah,'' jelas nenek Beti, namun Sania memilih untuk tetap diam tak ingin menjawab pertanya'an dari suami nya.


''Nek, biar aku saja yang mengantar istri ku ke dokter,'' Ucap Arlan kepada nenek Beti.


''Lebih baik Mas Arlan istirahat saja, aku bisa sendiri kok?'' jawab Sania tanpa mau menoleh ke arah suami nya.


''Aku akan tetap mengantarkan kamu untuk periksa, kemarin kamu juga tidak memeriksakan kesehatan mu kan, aku sangat mengkhawatirkan kamu selama seminggu ini sayang, aku mohon kamu mengerti,'' mohon Arlan yang terus memegang tangan Sania istri yang sangat ia kangeni.


''Nona Sania, Ayah mohon jangan terlalu marah kepada suami kamu, selama kepergian kamu suami kamu tidak pernah istirahat dengan benar, dia selalu mencari keberada'an kamu sampai akhirnya mengalami kecelaka'an ini, Ayah harap kamu bisa memaafkan putera Ayah kalau memang dia yang bersalah,'' Ucap Ayah Arlan yang sudah tidak tahan lagi untuk tidak bisa ikut campur dengan persoalan putera nya.


''Kecelaka'an?? Maksud Ayah,''


''Iya, suami kamu sengaja di tabrak oleh seseorang, ada yang menyuruh nya buat mencelakai dia karena cinta nya yang tak kunjung di sambut oleh Arlan,'' ucap nya mencoba menjelaskan kepada menantu nya.


''Biarkan aku mengantarmu untuk periksa sayang? dan maafkan juga karena kemarin aku tidak bisa mengantar kan ke rumah sakit, sehiy kamu bertemu dengan Rika?'' Gumam Arlan menundukkan kepalanya.


''Sudah lah, aku juga nggak apa apa kok? dan maaf karena aku langsung pergi begitu saja karena ingin melihat kamu bahagia dengan wanita itu,'' jawab nya, Sania ingin membuka tangan yang tengah di genggam oleh suami nya.


''Aku mohon sayang? ijinkan aku mengantar mu ke dalam, aku ingin mengetahui hasil kesehatan mu sekarang, Mas hanya takut penyakit kamu kambuh lagi,'' Ucap nya yang terus saja memohon.


''pergilah neng? biar nenek tunggu kamu di sini?'' ucap sang nenek yang tak ingin membebani pikiran cucu angkat nya.


''Tapi nek?'' kata Sania pelan.


''Nenek nggak apa apa kok, nenek akan tunggu kamu di sini, lebih baik kamu periksa sekarang sebelum penyakit kamu bertambah kambuh dan menjadi parah dari semalam,'' Ucap nya menyuruh Sania untuk segera peegi menemui dokter agar penyakit nya cepat di tangani.


''Baiklah,'' ucap nya pasrah.


Arlan ingin turun dari kursi roda nya tapi segera di tahan oleh Sania agar tidak turun dari kursi roda yang ia duduki.

__ADS_1


''Tetap lah di sini, biar aku yang mendorong kamu masuk ke ruangan dokter?'' ucap nya memegang tangan Arlan dan menaikkan kembali kaki yang sempat ia turunkan barusan.


Sania mendorong kursi roda suami nya ke dalam ruangan dokter, ''Selamat siang Dokter,'' sapa Sania ketika masuk ke dalam ruangan dokter yang pernah menangani nya sewaktu dia berada di desa dulu.


''Siang Nona Sania, apa kabar? sudah lama tidak ada kabar nya,'' jawab sang Dokter yang mempersilahkan Sania dan juga Arlan.


''Ada keluhan apa Nona?'' tanya sang Dokter dengan serius.


''Dokter, sejak semalam saya mual muntah, padahal saya tidak melakukan kemoterapi,'' jawab nya santai, ucapan Sania barusan membuat Arlan menoleh ke arah Sania yang tengah mengembangkan senyuman nya kepada sang dokter.


'Bagaimana dia bisa melakukan nya sendirian semalam ya Allah, aku sudah gagal menjadi suami yang baik,' Ucap Arlan dalam hatinya.


''Nina Sania masih rutin meminum obat nya selama ini?'' tanya sang dokter lagi.


Sania menggeleng, ''Sudah seminggu ini saya tidak mengonsumsi obat itu lagi Dokter, apa itu berpengaruh pada penyakit ku?''


''Kenapa kamu nggak meminum obat nya, apa obat nya sudah habis? kalau memang sudah habis kenapa tidak meminta resep lagi ke rumah sakit ini,'' ujar sang Dokter yang menghawatirkan kesehatan Sania, namun dokter di depan nya melihat wajah Sania yang tidak pucat pun ada rasa lega di dada nya, karena yang ia pikirkan tidak terjadi.


''Karena-- karena obat nya aku buang Dokter? saat itu aku sangat bingung dan memilih membuang obat itu?'' sahut nya dengan gugup, di dalam hati nya ada rasa takut karena di samping nya ada suami yang kemarin sempat ia benci, dan itu yang membuat Sania memilih membuang obat nya begitu saja.


''Mari kita lakukan pemeriksaan saja Nona, agar kita bisa tau penyakit kamu.'' ajak nya dan menggiring Sania untuk tidur di ranjang yang sudah di sediakan untuk melakukan pemeriksaan.


Sang Dokter memeriksa dengan cermat, dan hanya menggeleng geleng pelan, ''Bagaimana Dokter?'' tanya suster yang ada di sebelah nya.


''Semuanya normal, dan tidak ada penyakit lagi di dalam tubuh nya,'' jawab nya kepada suster yang membantu melakukan pemeriksaan kepada Sania.


Dokter itu kemudian menekan perut Sania dengan perlahan, Sania yang di tekan pun meringis sakit, walaupun tekanan nya tidak terlalu, tapi dia merasa ada yang mengganjal di dalam perut nya.


''Penyakit Nona sudah sembuh total, namun saya pikir anda harus melakukan USG di poli kandungan sekarang, agar semua keluhan Nona Sania terjawab,'' Ucap nya, dan semua yang di ucapkan sang dokter terdengar jelas di telinga Arlan suami nya.


'Ada masalah apa? kenapa Sania harus pergi ke poli kandungan dan harus melakukan USG segala,' gumam nya pelan.


''Bagaimana keada'an nya Dokter?'' tanya Arlan sedikit khawatir.


''Tuan Arlan tenang saja ya, nona Sania baik baik saja kok, namun saya sarankan agar memeriksakan diri ke poli kandungan, agar apa yang saya pikirkan itu benar,'' sahut nya dengan mengulas senyum.

__ADS_1


''Baiklah Dokter, kami segera ke sana sekarang?'' sela Sania yang ingin buru buru mengetahui penyakit nya, yang sedari malam sudah mulai menyiksa nya, kalau penyakit dia tidak kambuh terus apa yang sedang terjadi pada tubuh ku ini, pikir Sania.


''Suster Rini akan mengantarmu ke dokter Lena?'' kata Dokter di depan nya. Sania mengangguk dan melangkah keluar dari ruangan dokter kanker.


''Kamu nggak apa apa kan?'' tanya Arlan menepuk punggung tangan Sania.


''Aku nggak apa apa kok, hanya pusing sedikit dan juga mual?'' jawab nya dengan jujur.


Arlan. mendongakkan kepalanya sehingga ia bisa melihat wajah cantik istri nya yang sudah agak kurusan dari sebelum nya.


''Kenapa kamu kurusan sayang?'' tanya Arlan dengan sangat hati hati kepada Sania istri kecil nya.


''Aku nggak apa apa kok, ini sudah biasa terjadi dengan ku kan? jadi nggak usah terlalu di pikirkan lagi,'' jawab nya dengan ketua, entah kenapa Sania merasa tidak suka dengan ucapan Arlan yang mengatakan bahwa dirinya kurusan, emosi nya kini sedang naik turun dan tak ingin ada perdebatan di antara mereka berdua.


Arlan yang mendengar nya pun langsung menghentikan ucapan nya dan menatap keruangan yang sudah di buka pintu nya.


''Nona Sania masuklah,'' ucapnya ramah. Dokter Lena sudah di beri tau kalau Sania akan melakukan USG jadi sang dokter tidak bertanya lagi kepada Sania.


''Berbaringlah di sini Nona,'' suruh Dokter Lena kepada Sania, Sania yang di suruh pun langsung membaringkan tubuh nya ke atas ranjang periksa, Suster yang ada di samping nya lalu mengoles jel yang terasa dingin ke atas perut Sania, namun setelah meminya ijin terlebih dulu kepada Sania dan juga Arlan, Arlan sendiri heran karena Dokter yang di rekomendasi kan oleh dokter sebelum nya malah memeriksa perut istri nya.


Dokter Lena mulai mengarahkan alat nya ke perut Sania dan terlihat lah sebuah kantung bayi dengan titik di tengah nya.


''Tuan Arlan bisa melihat ini,'' perintah sang dokter, Arlan yang di suruh pun mengikuti interuksi dari sang dokter, dia hanya melihat sebuah titik hitam kecil di layar.


''Maksudnya apa ini dokter?'' tanya Arlan dengan rasa penasaran nya.


''Nona Sania tengah mengandung Tuan, janin nya kini sudah berusia 4 minggu,'' jawab nya, Arlan menutup mulut nya tidak percaya dengan berita ini, begitu pula dengan Sania.


''Dokter tidak bercanda kan? minggu lalu aku konsultasi ke dokter, dia bilang seorang wanita yang menderita penyakit kanker darah mengalami ketidak suburan,''.


''Apa Nona Sania sempat memeriksakan keada'an Nona Sania sebelum nya,'' tanya nya. Sania hanya menggeleng pelan. ''Ini nyata Nona, anda saat ini tengah mengandung? tolong di jaga dengan baik baik, karena di trimester pertama masih rentan dengan yang namanya keguguran,'' tambah nya lagi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2