
Selama dua hari Sania di rawat di rumah sakit, dan selama dua hari itu juga Pinky selalu menjenguk Sania di rumah sakit tersebut, dan hari ini adalah hati kepulangan Sania kerumah nya, sedangkan sang kakak nggak bisa menjemput sang adik di rumah sakit, karena urusan penting di perusahaan nya, jadi Pinky dan keluarga Sania yang lain nya juga ikut serta menjemput Sania.
''Sudah beres semua belum?'' tanya Pinky setelah selesai mencium Pinky tangan keluarga Sania yang sudah ada di dalam ruangan rawat Sania.
''Sudah kak?'' jawab Sania antusias dan kini dia sudah berdiri di samping ranjang nya. ''Ayo kita pulang sekarang, Sania sudah kangen sama kamar Sania,'' ajak Sania menggandeng tangan Pinky melangkah keluar dari ruangan nya, kedua tante serta sang Ibu hanya bisa menggeleng kan kepala nya saja, melihat Sania yang begitu dekat dengan Pinky, Pinky sendiri orang nya baik dan juga ramah, dari dulu dia seperti itu sampai sekarang sifat rendah hatinya masih tertanam baik di dalam dirinya.
''Mbak? mending Karan sama Pinky saja dech, kan dia juga sudah sangat kenal sama Pinky juga kan, mungkin kalau dia bersama mereka bisa membuka usaha bareng,'' Ujar tante Cinta, dan di benarkan oleh tante Citra.
''Mbak nggak bisa mengiyakan, mbak serahkan semua nya sama Karan saja, soalnya kan dia yang akan menjalani kehidupan nya,'' jawab nya lembut di tambah dengan senyuman di bibir nya.
''Benar juga ya mbak? kita nggak boleh memaksa anak anak kita untuk mencintai seseorang yang belum tentu dia juga cinta sama dia,'' jawab tqnte Citra, mengingat si kembar juga sudah mulai beranjak dewasa.
''Bagaimana kabar si kembar dek?'' tanya Bu Wati pada adik ipar nya. Mereka bertiga melangkah kan kaki nya menuju ke parkiran yangnadandinrumah sakit, namun karena keasyikan ngobrol jadi mereka hanya melangkah dengn pelan pelan saja.
''Huch, kemana sich Ibu sama tante? padahal tadi kan dia ada di belakang kita kan kak?'' seru Sania melipat kedua tangan dan di letakkan di depan dada nya.
''Sabar? mungkin masih ke apotek untuk menebus obat kamu kan, sudah nggak usah emosi kayak githu,'' gumam Pinky mengelus punggung Sania.
Sania menatap Pinky, karena baginya Pinky sangat baik sama dia dan juga sama keluarga besar nya.
''Kak Pinky, besok besok mau nggak ikut Sania ke rumah kakek Sanjaya?'' ajak Sania sambil mengedip ngedip kan matanya.
''Insya Allah saja lah, kalau jadwalnya nggak padat ya,'' jawab Pinky santai dan tanpa merasa bersalah, bagaimana mau salah lawong dia bilang insya Allah kan?.
''Ayo, masuk?'' ujar tante tiba-tiba.
__ADS_1
''Tante lama banget sich? Sania kan capek nunggu di sini, mana panas lagi?'' gerutu Sania pada sang tante.
''Kalau panas kenapa nggak masuk saja? kan kunci nya ada sama Pak Udin,'' cetus tante Citra menunjuk pak Udin yang kini tengah duduk santai di dalam mobil.
'Iya juga ya, lagian kenapa gue nggak beralasan yang saja ya,' ucap nya dalam hati, merutuki kebodohan nya. Sania terlihat mengetuk ngetuk kening nya yang kini otak nya berpikir sangat lemot.
''Ayo masuk?'' ulang tante Citra pada Sania dan juga Pinky.
''Pinky bawa mono sendiri tante, Pinky akan mengikuti mobil nya dari belakang saja ya tante,'' sahut Pinky dan melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir tak terlalu jauh dari mobil Sania.
Sania duduk di samping pak Udin, sedangkan sang Ibu dan kedua tantenya duduk di belakang.
Mobil mereka melaju dikeramaian kota Jakarta, karena hari semakin sore. Sania mengambil handphone nya di saku celana jeans nya, dia menghubungi sang kakek untuk mengabari kalau dia sudah pulang ke rumahnya.
Panggilan pun tersambung, dan dengan cepat kakek Sanjaya mengangkat telfon dari Sania yang sejak tadi sudah di tunggu tunggu.
-''Maaf kakek? Sania lupa, hehehe.'' jawab Sania dengan kekehan nya, karena dia lupa pesan sang kakek.
''Siapa?'' selalu tante Cinta.
''Kakek tan?'' jawab Sania menutup handphone nya dengan tangan agar sang kakek tidak mendengar nya.
-''Sania...?'' Ucap kakek Sanjaya karena Sania tidak mengeluarkan suaranya.
-''Jangan teriak kakek? Sania masih di sini kok, dan sebentar lagi Sania akan sampai di rumah?'' jawab Sania pada sang kakek karena sang kakek lumayan keras ngomong nya.
__ADS_1
-''Lagian kamu diam githu, kamu nggak apa apa kan? kamu nggak seperti biasa nya Sania,'' tanya kakek Sanjaya dengan berbagai pertanyaan.
-''Sania nggak apa apa kok, Sania masih waras?'' jawab Sania mencebikkan bibir nya. 'Dikira aku nggak waras apa sama kakek, bikin kesel saja,' Gumam Sania dalam hati kesal.
-''Ya sudah kakek matiin sambungan telfon nya, kakek capek nungguin kamu?'' sambung kakek Sanjaya lalu mematikan sambungan telfon nya secara sepihak, karena Sania belum juga menjawab sang kakek sudah mematikan begitu saja.
''Kebiasaan banget sich nie kakek, nggak pernah berubah kalau ngomong sama cucunya, nggak di telfon, nggak di rumah sama saja?'' gerutu Sania menaruh handphone nya di dasbord mobil nya.
''Kenapa lagi sich dek?'' tanya Bu Wati menatap puteri nya yang sedang kesal.
''Itu kakek Bu, kalau menerima panggilan langsung tho the poin, nggak ngucapin salam? dan yang bikin Sania kesal, kakek selalu mematikan panggilan secara sepihak. Kayak lagi ngomong sama bawahan nya saja, kesel dech Sania jadinya,'' Gumam nya ******* ***** camilan yang sempat ia ambil tadi.
''Yang sabar atuh neng? tuan besar memang seperti itu, jadi di maklumin saja ya neng,'' sambung pak Udin yang melihat nona kecil nya sedang kesal.
''Sudah nggak usah seperti itu, jelek tau? atau kamu ingin cepat tua,'' sela sang tante, membuat Sania membelalak kan matanya menoleh ke belakang.
''Tante seperti itu dech? ucapan itu sebuah do'a lho tante...?'' jawab Sania menekankan kata tante.
''Tu kan mbak, lihat saja kalau tante nya mengingat kan,'' adu tante Cinta pada Ibu.
''Tapi nggak githunjuga ta...nte?'' sambung nya lagi, dan Sania berbalik menatap jalanan di depan nya. Dia mengabaikan semua ucapan sang tante sampai akhirnya Sania mendengar gumaman tante yang menyuruh Ibu nya untuk segera menikahkan Sania dengan laki-laki yang baik dan juga sukses tentunya.
''Tante jangan asal dech, Sania masih terlalu kecil untuk menikah? lagian mau nikah sama siapa coba, pacar saja tidak punya,'' balas Sania menjawab celotehan dari kedua tantenya.
''Jangan di dengerin lah Bu, masak iya Ibu mau Sania nikah di umur Sania masih segini,'' ujar Sania yang sudah membuka pintu mobil nya, dan melangkah pergi masuk kedalam rumah nya.
__ADS_1
Kedua tante nya hanya terkekeh melihat expresi ponakan nya yang sangat kesal, ketika mendengar kata nikah.
''Sudah, ayo masuk,'' ujar Bu Wati memegang lengan kedua adik ipar nya tersebut. ''Lagian kalian resek banget sama ponakan sendiri, entar Sania malah nganggepnya serius lagi,'' tambah Bu Wati tersenyum dan membuka pintu rumah nya yang sudah di tutup kembali oleh Sania.