Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 149 Ledekan tante Cinta


__ADS_3

Pagi pagi sekali Pinky sudah berpamitan kepada sang mertua, untuk mengambil semua baju baju yang sudah ia pesan kemarin pada beberapa teman nya, karena acara nya dadakan sekali Pinky hanya memilih kebaya dan beberapa gamis dengan warna senada, karena keluarga Arlan kakak ipar nya memakai hijab, jadi Pinky memutuskan untuk menyamakan dengan pakaian mertua nya yang sama-sama memakai hijab, Karan sengaja menyuruh supir kantor nya untuk mengantar Pinky ke tempat teman teman nya guna mengambil baju yang sudah ia pesan, setelah itu Pinky segera datang ke rumah keluarga Arlan untuk mengantarkan baju baju yang sengaja ia pesan.


''Lho nak Pinky?'' sapa Ayah Arlan dengan ramah.


''Iya Pak? maaf Pinky buru buru, soalnya masih mengantarkan baju Arlan ke apartemen nya,'' jawab Pinky tak kalah sopan nya.


''Arlan ada di sini kok,'' kata Ayah Arlan.


''Arlan sedang mandi, masuklah dulu?'' sela kakak ipar Arlan yang sudah membawa nampan yang berisi minuman dan beberapa camilan.


''Tapi Pinky benar-benar buru buru kak?'' tukas Pinky dengan nada lembut nya.


''Acara nya kan masih nanti sore, ini saja masih jam sembilan pagi? jadi masih banyak waktu juga kan dek?'' kata kakak ipar Arlan memaksa Pinky untuk duduk di dalam rumah nya, dengan perasa'an tak enak hati Pinky masuk dan meminum minuman yang sudah di sajikan oleh keluarga Arlan itu sendiri.


''Maaf kak? kalau gamis nya tidak sesuai dengan keinginan kakak kakak di sini, tapi ini dadakan sekali? jadi Pinky hanya bisa dapat seperti ini,'' kaya Pinky membuka obrolan nya setelah dia mendudukkan diri di ruang tamu rumah Arlan.


''Nggak apa apa kok dek? ini sudah lebih dari cukup bagi kami, kami merasa tak enak hati sudah merepotkan kalian semua,'' jawab kakak Arlan yang di angguki oleh sang istri.


''Kami tidak merasa di repotkan kok kak, kita akan jadi keluarga?'' sela Pinky mengembangkan senyuman nya. ''Nanti siang akan ada orang yang datang kesini, untuk make over kakak semua nya,'' tambah Pinky.

__ADS_1


''Laki-laki nggak butuh MUA, menurut perempuan yang super ribet,'' tukas kakak Arlan menatap ke arah istri nya yang sudah terkekeh mendengar perkataan suami nya yang pedas, namun masih terdengar sangat manis ketika di dengar oleh orang lain.


''Sekali kali kan nggak apa apa Mas? kita kita datang ke acara dengan riasan, mumpung gratis?'' bisik nya, namun itu semua masih terdengar jelas di telinga Pinky.


''Pinky, ada apa?'' tanya Arlan yang sudah memakai baju kasual nya.


''Hanya mengantar ini kok Ar? ya sudah Pinky pamit dulu karena masih akan ke rumah kakek Sanjaya juga,'' jawab Pinky sekaligus berpamitan kepada mereka semua.


''Sania nggak apa apa kan?'' tanya Arlan ketika Pinky masih berada di dalam rumah nya.


''Sania bersama Ibu sudah menuju ke rumah kakek, tadi kakek Sanjaya menghubungi nya agar segera ke sana,'' terang Pinky, membuat Arlan bernafas lega, dia takut calon istri nya kurang sehat, dan akan berpengaruh dengan acara nya.


''Apa Sania akan baik baik saja, ketika nanti harus bertemu dengan banyak tamu?'' tanya Arlan lagi ketika sudah berada di samping Pinky.


'''Kamu tenang saja, Sania tidak akan kecapean kok? namun gantinya kamu harus bersabar karena akan selalu di repotkan dan di buat capek dengan kolega kolega kakek yang ndi undang!'' seru Pinky terkekeh.


''Itu sich nggak masalah Pinky, asal Sania bisa istirahat dengan cukup aku nggak merasa keberatan sama sekali.'' jawab Arlan merasa tenang.


''Ya sudah aku balik dulu, jangan sampai telat oke?!'' Ucap Pinky seraya membuka pintu mobil nya untuk datang kerumah kakek Sanjaya tepat waktu, karena dia tau masih banyak yang harus ia lakukan di sana, selain merias diri nya, dia harus membantu merias kedua sepupu kecil nya yang sudah beranjak remaja.

__ADS_1


Di rumah besar kakek Sanjaya, Sania sudah di tiasa oleh MUA yang di datangkan langsung oleh tanye Cinta, tepat jam 11 siang Pinky sampai di rumah kakek Sanjaya, membuat Karan mendengus kesal karena istri nya sedari tadi ia sudah tunggu, namun tak juga kunjung datang juga.


''Kamu kemana saja sich sayang? lama banget, nggak tau apa orang lagi kangen berat,'' seru Karan dan mencium wangi tubuh Pinky yang memabukkan itu.


''jangan seperti itu Mas? malu banyak orang,'' balas Pinky namun dengan suara pelan sepelan mungkin.


''Nggak apa apa kok, semua yang ada di sini adalah keluarga besar kakek, mereka semua sudah tau semua nya, jadi tak perlu merasa malu seperti itu lagi?'' bisik Karan memeluk Pinky dengan erat, Karan menempel kan dahi nya ke dahi sangat istri. Sedangkan wajah Pinky sudah bersemu merah dengan perlakuan Karan tak lain suami nya sendiri.


''Sudah, sudah. Di lanjut entar malam lagi di dalam kamar, sekarang kalian harus bersiap siap karena jam nya sudah mepet dan sebentar lagi rombongan dari pengantin laki-laki akan tiba,'' kata tante Cinta tiba-tiba, membuat Pinky di buat malu oleh suami nya, karena perlakuan nya di ketahui oleh tante nya.


''Ach, tante ganggu saja dech? kan masih banyak yang lain tante,'' jawab Karan datar, karena kesenangan nya sudah di ganggu oleh tante nya yang emang suka jail kalau Karan dan juga Pinky berada di rumah besar itu.


Pinky sudah melangkah pergi sejak sang tante mengganggu nya. ''Kan, tante sudah buat Pinky kabur dari delapan ku sekarang?'' seru Karan dengan nada kesal nya. Karan pun beranjak dari tempat nya untuk menyusul sang istri yang sudah mulai bersiap diri di dalam kamar nya, ketika mereka menginap di rumah sang kakek


Sania terlihat sangat cantik dengan kebaya berwarna lilac, terlihat sangat jelas kebaya tersebut sangat pas di tubuh Sania yang kurus, namun tidak terlalu kurus untuk ukuran nya saat ini.


Bu wati menatap wajah puteri kecil nya yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri, tanpa terasa air mata nya menetes begitu saja dari pelupuk mata nya.


''Bunda, kenapa menangis?'' tanya Sania saat tatapan nya tak sengaja melihat air mata Bunda nya menetes.

__ADS_1


''Bunda bahagia sekali, melihat kamu sebentar lagi akan menjadi seorang istri, kamu harus selalu menurut apa yang di katakan oleh suami nya, dan kamu juga harus ingat, jangan sampai melupakan kewajiban kamu sebagai umat islam,'' kata Bu Wati mengingat kan puteri kecil nya, agar dia tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu nya dan juga sholat sunnah yang selalu di kerjakan sebelum Sania menikah.


__ADS_2