Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 194 Kembar tiga


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Sania di pindahkan ke rawat inap untuk mendapatkan perawatan, Sania masih sangat shok dengan kejadian tadi yang menimpa nya.


''Kamu nggak apa apa kan sayang? tanya sang Bunda menciumi puteri nya yang terbaring lemah di brankar rumah sakit.


''Sania nggak apa apa kok Bunda, hanya saja Sania masih kaget saja dengan kejadian yang menimpa Sania tadi, Sania takut terjadi sesuatu dengan anak-anak Sania,'' terangnnya kepada sang Bunda.


''Anak anak?'' potong Karan yang melihat adek nya tersenyum senang.


''Iya kak? kakak tau nggak ponakan kak Karan ada 3 lho,'' jawab Sania dengan sumringah nya.


''Jangan aneh dech, masak iya aku akan punya 3 ponakan sekaligus sich,'' selanya masih tidak percaya dengan ucapan Sania sang adik, Sania memang selalu membahas anak kembar bersama saudara sepupu nya yang kebetulan juga kembar. Sania sesekali berceloteh kalau diri nya menginginkan anak kembar, dan sekarang semua angan angan nya di kabulkan oleh Allah SWT, bukan hanya dua melainkan tiga sekaligus yang membuat Sania sellu mengembangkan senyuman nya.


''Bener Karan, anak kami ada tiga di dalam perut Sania, sepasang perempuan dan satu laki-laki, jadi mulai sekarang kamu harus mempersiapkan 3 kado untuk anak anak ku kalau sudah lahir nanti,'' Ujar Arlan membantu istri nya dengan alih alih dia juga meminta kado dengan nama anak kembar nya yang belum lahir.


''Itu sich mau lho saja Arlan, dasar baru juga jadi calon Ayah sudah kemaruk dan ingin morotin Paman nya.


''Ya itu harus lah Karan, sebagai seorang Paman yang baik harus nya mau menyediakan swmua keperluan tiga ponakan nya,''


''Itu semua bukan tanggung jawab aku, tanggung jawab kamu sebagai Ayah mana, kenapa swmua nya di limpahkan kepada saya,'' tukas Karan menatap Arlan dengan tatapan yang mematikan.


Arlan yang sejati nya tidak pernah takut dengan kakak ipar nya itu hanya membalas tatapan nya saja.


''Ini nich ciri-ciri adik ipar yang durhaka kepada kakak ipar nya,'' dengan nya dan mendarat kan bokong nya ke sofa yang ada di dalam ruangan rawat Sania.


Sania menggeleng pelan melihat suami dan juga kakak nya bersi tegang, membuat Sania memutar bola matanya dengan malas dan beralih menatap kepada sang Bunda yang duduk di samping nya.


''Memang nya tadi kamu ngapain, kok sampai pendarahan seperti tadi,'' tanya Bu Wati kepada Sania dengan mengelus puncak kepala Sania lembut.


''Tadinya Sania hanya ingin bangun untuk melakukan sholat saja kok Bunda, tapi aku meraba sisi Sania tidak ada mas Arlan di samping Sania, jadi Sania paksain untuk bangun sendiri Bunda, tapi Sania nggak bisa bangun dan mas Arlan yang nyamperin Sania ketika Sania tidak bisa bangun tadi,'' jawab Sania dangan panjang lebar.

__ADS_1


''Memang nya Arlan ada di mana kok dia tidak ada di samping kamu dek?'' tanya Karan menatap tajam ke arah Arlan yang tengah duduk di dekat Karan, Arlan sendiri terkejut dengan pertanya'an yang di lontarkan oleh Karan barusan.


''A--arlan tidak kemana mana kok, Arlan hanya mengerjakan tugas kantor yang belum selesai saja, aku duduk di sofa kok masih di dalam kamar itu juga?'' jawab Arlan dengan gugup, dia juga merasa bersalah karena tidak langsung melihat istri kecil nya saat mau bangun dari tidur nya.


''Mulai sekarang kamu harus baik baik ya nak? jaga calon cucu Bunda,'' kata Bu Wati menyelesaikan perdebatan antara putera dan juga menantu nya agar segera berhenti.


'''Lebih baik kalian berdua kembali ke rumah sekarang, bukankah kalian harus melakukan meeting pagi ini,'' Bu Wati mengingat kan kedua nya sehingga mau tak mau Karan menatap wajah sang Bunda dan juga Sania, begitu pula dengan Arlan yang rela meninggalkan istri kecil nya di rumah sakit ini sendirian.


''Kamu nggak usah khawatir seperti itu, Bunda yang akan menjaga Sania di sini, lebih baik kalian pulang sekarang dan beri tahu kepada Pinky agar dia tidak merasa khawatir lagi seperti semalam,'' terang Bu Wati.


''Baiklah, kalau gitu Karan pergi dulu Bunda, dek?'' pamit Karan dan mencium puncak kepala Sania sang adik.


Karan melangkah pergi meninggalkan Arlan sendirian yang sedang menimbang nimbang antara mau pergi atau tinggal di sana.


''Mas, lebih baik Mas pulang saja? bukan kah ada pekerja'an kantor yang sangat penting hari ini,'' ujar Sania ketika melihat suami nya masih tetap duduk terdiam di tempat nya.


''Kalau begitu Mas Arlan pergi ke kantor saja, di sini ada Bunda yang akan menemani Sania sampai Mas Arlan pulang dari kantor nanti,'' Ucap Sania lagi membujuk suami nya yang masih belum percaya sama dia. ''Sania juga sudah nggak apa apa kok Mas, kamu tenang saja ya,'' tambah nya lagi, membuat Arlan yang notabene nya tidak mau pergi akhirnya beranjak dari duduk nya dan datang menghampiri nya sebelum pulang ke rumah nya, untuk mengganti baju nya.


''Nanti pulang kerja, jangan lupa bawa baju ganti Sania juga ya,'' pesan nya ketika Sania mengulurkan tangan nya kepada sang suami.


''Baiklah sayang? kalau gitu Mas pergi kerja dulu ya, kalau ada apa apa cepat hubungi Mas,'' kata Arlan yang masih di selimuti rasa khawatir nya.


'''Hati hati di jalan?'' Ucap Sania lagi mencium punggung tangan suami nya. Tak lupa juga Arlan mencium punggung tangan mertua nya, ketika Arlan hendak membuka pintu ruangan ternyata pintu sudah di buka dari luar, menampakkan dia wajah kakak ipar Arkan yang sudah berdiri di ambang pintu karena melihat Arlan yang hendak keluar dari ruangan tersebut.


''Kakak? kalian tau dari mana kalau Sania ada di rumah sakit,'' tanya Arlan dengan raut wajah bingung nya, karena dia ingat tidak pernah menghubungi kakak nya ataupun Ayah nya, jadi kedua kakak ipar nya tau dari mana soal Sania ada di rumah sakit ini, pikir Arlan memaksakan senyuman nya.


''Pinky yang memberitahu kakak, kalau Sania pendarahan dan di rawat di rumah sakit ini,'' jawab nya lalu melangkah menuju ke arah Sania yang terbaring di brankar rumah sakit tersebut.


''Kakak, Sania nggak apa apa kok kak?'' jawab Sania pelan seraya mengembangkan senyuman nya.

__ADS_1


Sania mengulurkan tangan nya ke arah kedua kakak ipar nya, ''Kenapa kamu sampai pendarahan gini sich, padahal kemarin ketika kakak ke rumah kamu, kamu baik baik saja?'' gumam nya yang duduk di samping ranjang Sania, sedangkan Bu Wati sudah berpindah ke sofa agar kedua kakak ipar puteri nya bisa leluasa mengobrol.


''Kalau gitu Arlan kerja dulu kak? jangan kasih tau Ayah, Arlan takut Ayah malah terkejut mendengar Sania ada di rumah sakit ini,'' pesan Arlan kepada kedua kakak nya.


''Ayah sudah tau kok, tadi ketika aku berangkat Ayah bertanya, jadi aku jawab saja yang sebenarnya,'' jawab nya santai.


Arlan menepuk jidad nya dan berlalu dari hadapan kedua kakak ipar nya itu, dia berpikir kalau Ayah nya lebih baik tidak tau tentang keada'an istri kecil nya, tapi sudah terlambat, kedua kakak ipar nya sudah mengatakan yang sebenarnya kepada Ayah nya.


-''Hallo,'' Ucap Arlan ketika mendengar ponsel nya bergetar dan segera mengangkat sambungan telfon, setelah melihat nama sangat Ayah di sana.


-''Arlan, apa benar istri kamu sedang di rawat di rumah sakit, kenapa kamu tidak memberi tahu Ayah tentang ini, kenapa kamu lebih memilih Ayah tidak tau tentang keada'an istri kamu Arlan,'' sang Ayah mencecar beberapa pertanya'an kepada Arlan.


-''Bukan maksud Arlan untuk menyembunyikan semua ini kepada Ayah, tapi Arlan tadi sudah bingung dan Arlan hanya memberi tahu Bunda saja, karena Sania memanggil Bunda. Lagian kalau Arlan memberi tahu Ayah, Arlan takut terkejut dan malah Ayah yang sakit,'' jelas nya, Arlan menghembuskan nafas nya.


-''Bagaimana keada'an menantu Ayah sekarang?'' tanya nya lagi.


-''Alhamdulillah sudah baik Yah, tapi dia harus di rawat di rumah sakit ini dulu beberapa hari, untuk menstabilkan kesehatan nya yang sempat down akibat kaget tadi, oiya Yah? Ayah akan mempunyai tiga cucu sekaligus dari Arlan,'' Ucap Arlan di akhir ucapan nya.


-''Benarkah? apa kamu tidak bohongin Ayah Arlan,'' tanya Ayah memastikan kebenaran kepada nya.


-''Kalau Ayah tidak percaya kepada Arlan, boleh kok bertanya kepada kakak nanti setelah pulang jenguk Sania dari rumah sakit, ya sudah? Arlan mau bekerja dan telfon nya Arlan matiin,'' gumam nya dan mematikan secara sepihak dengan Ayah nya.


Di sisi lain Ayah Arlan mendengkus kesal karena sambungan telfon nya di matikan begitu saja oleh Arlan.


''Dasar bocah Sableng, aku belum selesai berbicara sudah main di matikan seperti itu,'' ucap nya kesal, namun dia menyunghingkan senyuman nya, mengingat sangat menantu yang kini sedang hamil tiga cucu nya sekaligus.


''Nggak nyangka aku akan punya cucu kembar? tapi apa kelamin dari cucu kembar ku itu ya, kok aku bisa lupa untuk menanyakan ini kepada Arlan,'' Ayah Arlan merutuki kebodohan nya dan dia mendudukkan diri di sofa yang ada di ruang tamu, dia tengah sendirian di rumah nya, ketika semua orang sedang pergi ke sekolah, bekerja dan kedua menantu nya sedang pergi menjenguk Sania di rumah sakit.


''Aku harap aku bisa menghabiskan hari hari tuaku dengan menemani cucu cucuku kelak,'' gumam nya seraya memejamkan matanya merasakan dingin nya ruangan yang ber AC.

__ADS_1


__ADS_2