Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 96 Rasa sakit


__ADS_3

Acara pernikahan kak Karan dan juga kak Pinky kini tinggal menghitung hari, kak Pinky sudah menyiapkan kebaya yang akan ia pakai di acara sakralnya, tak lupa juga Karan sudah mendatangi Ayah kak Pinky untuk meminta do'a restu pada orang tua calon istri nya. Tentu Ayah Pinky sangat bahagia sekali mendengar calon menantu nya adalah cucu dari keluarga Sanjaya.


''Kebetulan sekali kalau begitu sayang? usaha kamu kan sedang turun drastis, kamu harus memanfaatkan ini dengan baik agar usaha kita tidak siap siap kan!'' Ucap Ibu tiri kak Pinky menghasut sang suami yang tak lain adalah ayah Pinky sendiri.


''Mama tenang saja, dia pasti menuruti permintaan saya Ma, bagaimana dia juga sudah menikah dengan puteri ku kan?'' jawab sang suami tersenyum smirk.


''Papa nggak nyangka, puteri yang aku sia siakan akan menjadi istri pemilik CG Grub?'' tambahnya lagi menatap sang istri yang kini tengah terkekeh.


''Sudahlah! kamu nggak harus memikirkan itu lagi, itu sudah masa lalu dan harus kita lupakan? bukankah puteri kamu bakalan menikah lusa.''


''Kita harus mempersiapkan diri kita dari sekarang, akun yakin di sana pasti banyak pebisnis yang terkenal bukan,'' tambah Ibu tiri kak Pinky, mungkin dia saat ini sangat senang dan rencana nya bakalan berhasil, namun tidak semudah itu kalau kakek Sanjaya dan kedua Om kak Karan sudah turun tangan langsung.


Keluarga besar kakek Sanjaya sudah mengetahui latar belakang keluarga kak Pinky yang bisa di bilang matre, semuanya sudah berbicara langsung pada kakek, Om Fabian dan juga Om Arzan.


''Tapi sayang? apa keluarga Sanjaya tidak curiga bila kita meminta bantuan dari suami Pinky,'' tanya Ayah Pinky pada istri muda nya.


''Papa tidak usah khawatir tentang itu semua, kita hanya cukup bersikap baik di depan mereka semua, kita bahkan akan bermain halus dengan mereka semua hingga semua nya merasa yakin pada kita, bagaimana menurutmu dengan ideku sekarang?'' jawabnya yakin, dia mengangkat alis nya ke atas merasa dirinya sudah pintar.

__ADS_1


Hari semakin malam dan kini tiba saat nya kak Pinky pergi menuju ke rumah Bu Wati, sedangkan kak Karan memilih tidur di kediaman kakek Sanjaya dari pada tidur di hotel? aku sangat senang melihat kak Pinky yang akan menginap di rumah nya.


''Kak Pinky? akhirnya kamu datang,'' ucap ku senang dan memeluk erat tubuh kak Pinky yang lumayan kurus.


''Kak Pinky kurusan sekarang?'' tanya ku pada nya, namun alih alih menjawab, kak Pinky malah mengabaikan aku begitu saja, dia membaringkan tubuh kurusnya di ranjang kamar tamu.


''Akhir akhir ini aku susah banget makan nya Sania, entah kenapa pikiran bku nggak tenang juga,'' jawab kak Pinky yang masih terbaring di ranjang king size nya.


''Ya sudah kalau begitu kak Pinky istirahat saja dech, Sania balik ke kamar dulu ya, ada tugas kampus yang harus Sania kerjakan?'' pamitku beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar tamu, yang memang ada di lantai dasar.


''Ibu mau kemana?'' tanya ku saat melihat Ibu menuju kek kamar kak Pinky.


''Sania dari kamar kak Pinky Bu, kayaknya kak Pinky sedang tidur dech? soalnya barusan hilang sama Sania kalau dia capek dan banyak pikiran juga Bu?'' tutur ku lalu membawa Ibu ke sofa yang ada di ruang tamu.


''Ibu, apa mungkin kak Pinky tertekan menikah dengan kakak,'' tanya ku penasaran.


''Semua wanita yang akan menuju ke jenjang pernikahan pasti akan stress dan nggak nafsu makan juga, apalagi di tambah lagi dia yang brokenhome, pasti akan berat sekali, namun Ibu salut dengan Pinky, dia bukan nya terpuruk malah masalah yang di alami keluarga nya di jadikan pelajaran buat nya,''

__ADS_1


''Iya Bu, Sania juga salut banget sama kak Pinky yang tak pernah mengeluh ditengah gonjang ganjeng keluarga nya dulu, kalau itu terjadi pada Sania? Sania tak tau harus berbuat apa saat itu,'' cerita ku pada Ibu, mengingat masa lalu kak Pinky dulu.


''Sudah, lebih baik kamu tidur? ini sudah malam dan besok kakak sepupu kamu bakal menginap di rumah ini,'' sela Bu Wati ketika aku mulai melangkah pergi.


''Beneran Bu, mereka mau menginap di sini?'' tanya ku yang menghentikan langkah kakiku.


''Beneran, sudah sanah ke kamar kamu sekarang? besok Ibu akan ke rumah tante Citra pagi pagi sekali, kalau kamu mau ikut ya kamu harus bangun pagi banget?''


''Sania nggak bisa bangun pagi Bunda?'' rengek ku yang kini mengubah panggilan menjadi Bunda.


Aku menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar ku, sesampainya di sana tugas tugas kampus sudah pada menunggu di meja, membuat aku membuang nafas dengan kasar.


''Gara-gara Ibu aku jadi lupa sama tugas kampus ku kan?'' Gumamku yang menyalahkan Ibu karena mengajak ku mengobrol barusan.


Aku mengambil laptop dan mulai mengetik mengerjakan tugas tugas kampus yang sudah menumpuk, karena kemarin aku tengah sibuk di restoran, karena kak Arlan pergi entah kemana. Saat aku tanya dia hanya bilang pulang kampung karena sudah kangen banget sama orang tuanya, nakun sampai n satu bukan lamanya kak Arlan tak kunjung datang, aku yang mengerti bisnis kini mulai belajar dan turun langsung sejak kepergian kak Arlan, memang aku terlalu sok sama kak Arlan, namun tanpa orang sadari kerinduan kini tengah menyelimuti relung hatiku.


Aku beberapa kali mencoba menghubungi nya di saat nggak ada kerjaan di restoran dan juga di kampus. ''Kqk Arlan kok tega sich sama Sania, kenapa sampai sekarang kak Arlan tak ada kabar sama sekali. Handphone nya juga nggak aktif? atau mungkin dia sudah mengganti handphone nya sekarang, karena tak mau di ganggu terus terusan oleh ku,'' Gumamku menghentikan tarian jemariku dibatas keyboard.

__ADS_1


''Apa salahku sich kak? bulan yang lalu baik baik saja ketika aku sedang sakit kamu selalu standby menemani ku, tapi setelah itu kamu pergi begitu saja tanpa memberitahu ku dan mengabariku sama sekali,'' aku menaruh kepalaku yang terasa nyut nyutan di atas meja, mengabaikan tugas tugas yang kini sudah berserakan di lantai karena jatuh terkena sikut yang tak sengaja mendorong nya.


''Kenapa kepalaku sakit sekali? bagaimana caranya aku mengerjakan tugas tugas ini, sementara keadaan ku seperti ini sekarang. Ya Allah ringan kan lah sakit kepalaku ini, sungguh aku tak sanggup ini sangat sakit??'' aku memegang erat kepalaku sampai akhirnya aku tertidur di lantai sampai menjelang pagi.


__ADS_2