Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 48


__ADS_3

Di rumah barunya, Karan dan Sania sedang berkemas? karena mereka akan ikut ke rumah kakek nya, Bu Wati juga sedang di bujuk agar ikut serta ke rumah ayah mertua nya.


''Ayolah kak? please... ikut juga ya,'' mohon tante Cinta pada Bu Wati.


''Aku nggak ikut saja lah dek, nanti yang ada acara kalian akan berantakan kalau aku ikut kalian semua, lagian kakek nya Karan pasti nggak bakalan suka dengan kedatangan ku ke sana iyakan? mending kalian berangkat sekarang saja ya,'' tutur Bu Wati dengan ramah dan lembut pada sang adik ipar nya.


''Ayolah Bu? Ibu ikut juga ya, biar paman Arzan yang ijinin Ibu nanti ke pabrik, iya kan tante?'' ujar Karan dan meminta persetujuan dari sang tante.


''Iya bener mbak, nanti Cinta yang akan bilang sama mas Arzan, lagian mas Arzan juga ke rumah kok, dia sekarang sedang dalam perjalanan ke rumah, nanti kita bertemu di rumah Cinta,'' sambung Cinta, setelah sekian lama di bujuk oleh kedua anak nya, dan kedua ponakan nya dan di tambah lagi satu adik ipar nya juga yang super duper bawel nya minta ampun, akhirnya pertahanan Bu Wati goyah dan langsung mengiyakan ajakan mereka semua, Bu Wati berjalan menuju ke kamar nya dan mengambil baju gamis untuk baju ganti dia saat di rumah adik ipar nya.


''Ayo berangkat?'' kata Bu Wati melihat ke arah anak anak dan juga sang adik ipar nya, Cinta senang sekali akhirnya kakak ipar nya mau ikut juga ke rumah nya. Cinta segera mengambil ponsel dan menghubungi suaminya lewat chat, agar mengatakan pada mas Arzan agar dia memintakan ijin untuk kakak ipar nya.


Mas Fabian yang sedang bersama dengan mas Arzan pun langsung mengatakan isi pesan yang di kirim oleh istri nya barusan.


'''Mas, Cinta menyuruh kita untuk memintakan ijin untuk mbak Wati, karena dia juga ikut ke rumah sekarang?'' kata mas Fabian pada mas Arzan.


''Ya sudah cepat hubungi managernya sekarang, bilang kalau mbak Wati akan cuti selama 3 hari,'' jawab mas Arzan enteng.


''Apa nggak apa apa ya mas? kalau kita yang memintakan ijin untuk mbak Wati cuti,'' tanya mas Fabian bingung.

__ADS_1


''Kalau manager nya bertanya, jawab saja dengan jujur kalau mbak Wati adalah kakak ipar kita, bereskan?'' lagi lagi mas Arzan menjawab dengan enteng, tanpa memikirkan konsekuensi nya terhadap mbak Wati sendiri.


''Misalkan atasan nya memecatnya bagaimana mas,'' tanya mas Fabian lagi.


Namun kali ini mas Arzan malah memelototi mas Fabian yang sudah mulai bawel tersebut, ''Kalau atasan mereka memecat kakak ipar, segera beli pabrik tersebut! susah amat, '' jawab nya ketus dan masih melotot benaran mas Fabian.


Mas Fabian hanya menghembuskan nafas nya dengan kasar, sedangkan Mas Arzan menjambak rambut nya pelan menghadapi adik ipar nya yang super nyebelin dan juga terlalu lemot dalam berpikir.


''Urusan gampang kayak gini, masih bertanya padaku juga, cuma butuh lima menit semuanya akan beres, kalau kamu nggak sanggup, biar asisten ku saja yang meng-handle semua nya, dan kamu sama Cinta terima beresnya saja bagaimana.'' tawar Mas Arzan dengan mengangkat satu alisnya ke atas


''Fabian juga bisa urus sekua ini mas, mas Arzan terlalu menyepelekan Fabian, mentang mentang otak nya encer, malah mau nyepelein Fabian gitu aja?!'' cerocos Fabian yang kini sudah sampai di rumah besar Sanjaya.


''Assalamu'alaikum Pah?'' Ucap Mas Arzan ramah dan mencium punggung tangan sang mertua, di ikuti oleh mas Fabian juga.


''Sayang? Cinta belum juga datang,'' yanya mas Arzan menghampiri istri nya yang sedang murung.


''Belum mas, tadi dia bilang masih membujuk mbak Wati agar ikut juga ke sini, nggak tau dia berhasil apa nggak jua, karena Cinta belum menghubungi Citra lagi,'' jawab kak Citra yang memejamkan matanya sejenak.


''Mbak Wati ikut kok, Cinta berhasil membujuk nya agar dia ikut ke sini,'' Ucap Mas Arzan yang membuat kak Citra mengembangkan senyum nya, karena adik kecilnya berhasil membawa istri dari mendiang kakak nya.

__ADS_1


Kak Citra menoleh ke arah Papa nya, mengisyaratkan dengan tatapan matanya yang begituu tajam. ''Aku harap Papa bisa menerima mbak Wati dengan baik, kalau sampai hal dulu terulang kembali, bukan hanya mbak Wati saja akan membenci Papa, tapi aku dan anak anak akan membenci Papa sampai kapan pun, mbak Wati dan juga anak anak nya juga akan membenci dan tak akan memaafkan nya!'' Ucap kak Citra dengan ketus dan di tambah dengan sebuah ancaman. 'Mungkin ini memang ancaman bagimu Pa? karena aku tak akan memaafkan Papa untuk yang kedua kalinya, tak akan pernah,' gumam nya pelan, namun masih di dengar oleh suami nya, yakni Mas Arzan.


Mas Arzan mengelus punggung ku yang sudah bergetar setelah menumpahkan isi hati yang selama ini ia simpan rapat rapat.


''Sudah, sabar ya? kasian anak kita di dalam sini?'' Ucap Mas Arzan mengelus perut ku pelan.


''Papa janji nggak akan mengulangi hal yang salah untuk yang kedua kalinya, sudah cukup Papa kehilangan kakak kamu, dan sekarang Papa nggak mau kehilangan cucu cucu Papa?'' jawab Pak Sanjaya dengan nada sedih nya, mengingat putera tunggalnya sudah tiada.


Deru mobil berhenti di depan teras rumah besar Sanjaya. Semua orang sudah mulai turun dari mobil yang ia kendarai barusan. ''Ayo kak masuk, mungkin kak Citra audah ada di dalam?'' Ucap Cinta merangkul kakak ipar nya.


Pintu utama terbuka dan menampakkan wajah kak Citra bersama suami nya, Mikaela, sedangkan mas Fabian mendorong kursi roda yang di duduki oleh pak Sanjaya, telapak tangan Mbak Wati mulai berkeringat dingin, dan aku pun mengencangkan genggaman ku seraya berbisik, ''Jangan takut mbak? aku aku di samping mbak,'' ucap ku menenangkan mbak Wati yang sudah berkeringat dingin.


''Iya, terima kasih ya Cinta?'' balas mbak Wati berbisik juga.


''Assalamu'alaikum,'' Ucap anak anak hampir bersama'an.


''Waalaikum salam,'' jawab pak Sanjaya, kak Citra dan semua nya.


''Cucu Opa sudah datang semua nya,'' sapa pak Sanjaya ramah terhadap ke empat cucu cucu nya. Mereka berdua empat bergantian mencium punggung tangan pak Sanjaya, dan kini tiba giliran Karan dan Sania, Pak Sanjaya langsung memeluk dengan erat seraya mengeluarkan air matanya yang sudah tak bisa di bandung lagi sejak kedatangan mereka ke rumah besar nya.

__ADS_1


__ADS_2