Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 52


__ADS_3

''Karan! kemarilah, kita sudah makan!!'' teriak Om Fabian sembari melambaikan tangan nya.


Aku membalas lambaian tangan Om Fabian dan beranjak dari duduk ku, tak lupa juga aku memasukkan buku Yasin ke dalam tas selempang yang aku kenakan sekarang, aku berjalan menuju ke arah di mana keluarga besar ku berkumpul saat ini. Aku tak henti hentinya mengembangkan senyum mengingat saat ini dia masih memiliki keluarga besar dari sang ayah.


''Ayo makan dulu, nanti kita lanjut perjalanan setelah makan,'' ujar sang Ibu mengusap punggung Karan.


''Ibu? mumpung kita berada di sini sekarang, Karan mau pergi tempat yang Karan selalu datangi dulu, Karan kangen dengan tempat itu Ibu?'' jawab ku santai pada Ibu, akupun mengambil tangan Ibu yang masih berada di punggung.


''Tapi nak? ini hampir sore dan bukan cuma Ibu saja yang berada di sini satu ini,'' kata Bu Wati mengingat kan putera nya.


''Mending kita nggak usah mampir ke sana dech kak, itu membuat Sania sakit hati saja mengingat semua itu kak,'' sambung Sania dengan ketus.


''Emang kenangan apa sayang,'' tanya tante Citra yang sudah di landa penasaran.


''Pokok nya menyakitkan sekali tante, tapi tempat nya sangat indah, namun di sana menyimpan rasa sakit hati yang begitu mendalam pada Sania, tapi untuk kak Karan mungkin sudah sangat biasa, karena dia sudah terbiasa di hina dan di bully juga sama teman teman di sekolah,'' jelas Sania yang mengejutkan semua orang di sana, terutama tante, kakek dan juga om ku yang bahkan semua nya mendengar kan setiap kalimat yang terucap dari bibir adikku Sania.

__ADS_1


''Adik? kamu ngomong apa sich, nggak gitu kok, dia baik sana kakak,'' balas Karan yang menghentikan Ucapan Sania.


''Apa sich kak? kamu selalu membela dia, walau kamu tau sendiri bahkan masih ingat betul dengan penghinaan ayah nya yang membuat hati ku sangat sakit, mungkin juga kak Karan terlalu sayang sama gadis itu, sampai sampai tak menghiraukan cacian ayah nya terhadap kak Karan, aku ingat betul itu kak, di mana kita di hina karena kita orang miskin dan tak layak berteman dengan anaknya yang dari orang kaya dan terpandang!'' kata Sania ketus.


''Sudah lah, jangan di ingat lagi ya, ini masih di area makam lho dek?'' jawab ku dengan lirih. ''Kalau nggak mau mampir ya sudah, nggak usah bercerita yang lain lagi,'' lanjut ku dan memaksakan untuk tersenyum, aku tak bisa mencegah adikku untuk tidak bercerita pada semua orang yang berada di sekitar ku.


''Sebagus apa sich tempat nya, sampai sampai kamu rela di hina gitu sama orang Karan!'' tanya Om Arzan dengan nada dingin.


''Tempat nya indah Om? tapi teman kak Karan yang tak bagus, mungkin saat ini dia sudah melupakan kak Karan yang miskin itu!'' celetuk Sania ketus.


'Siapa yang berani menghina cucu dari keluarga Sanjaya, mungkin dia sekarang masih aman aman saja, tapi aku nggak akan biarkan ini berkelanjutan di kemudian hari,' batin kakek Sanjaya mengepalkan tangan nya.


'Aku ingin tau, seperti apa yang orang yang sudah menghina ponakan dari istri ku ini, aku akan membalas perlakuan dia sama persis seperti yang di derita Karan dulu, itu janjiku?' Om Arzan juga membatin dengan pengakuan Sania barusan, mungkin Karan akan menyimpan nya dengan begitu rapat, tapi kini sudah terbongkar dengan cerita Sania adik nya.


''Kita akan mampir ke tempat yang di kangeni Karan sekarang, hari ini kita akan berlibur di desa ini, aku sudah menyuruh orang untuk mencari penginapan di sekitar sini, besok siang kita balik ke Jakarta.'' ungkap Om Arzan menengahi pertengkaran ku dengan Sania.

__ADS_1


Setelah selesai membereskan yang kita gunakan di bawah pohon rindang tersebut, aku membawa barang barang yang di pergunakan barusan ke mobil yang terparkir di ujung jalan yang tak jauh dari pohon besar tersebut. Pohon besar yang selalu aku datangi di kala aku teringat ayah, aku selalu menangis di bawah pohon besar ini, aku selalu menumpahkan rasa sedih ku di bawah pohon ini, ketika di hina oleh pak Lukman, Papa Kirana.


Mungkin sekarang Kirana sudah melupakan semua kenangan kita di waktu kecil, aku tak bisa melarang dia untuk melupakan Karan yang dulu miskin dan bahkan di katakan dekil, brutal dan memanfaatkan kekaya'an Kirana saja oleh Papa nya, aku menerima semua cacian nya dengan besar hati. Aku selalu berkata? mungkin saat ini aku di bawah, tapi ada kalanya kita di atas, karena roda selalu berputar mengikuti alur hidup kita masing-masing.


Ya adikku Sania memang benar? Kirana adalah gadis kecil yang aku suka waktu aku kecil, kalau orang bilang cinta monyet pikirku. Batinku terus berkecamuk mengingat semua perkataan Sania adikku.


''Karan? pak salim bertanya pada kamu, di depan kita harus kemana?'' Ucap Om Arzan membuyarkan lamunanku, sejenak aku menatap Om Arzan,dan kembali menatap jalan di depan nya.


''Di depan belok kiri pak,'' Ucap Karan pada pak Salim yang menjadi sopir nya hari ini.


Sania menatap wajah sang kakak yang terlihat begitu murung, ''Ternyata kak Karan emang sayang sama wanita itu, bahkan wanita itu ingin balik ke Jakarta hari ini,'' bisik Sania pada dirinya sendiri. Sania tau kalau Kirana akan ke Jakarta karena kemarin dia melihat sosial media yang memperlihatkan Kirana, gadis gemuk dan hitam dulu kini tumbuh menjadi gadis cantik dan seksi, bahkan dia menjadi vlogger sekarang.


''Sudah sampai den?'' Ucap pak Salim.


''Iya pak? kita udah sampai?'' lirih ku, tak ada semangat lagi ketika aku sampai di tempat yang selalu menjadi tempat favorit ku dulu bersama Kirana. Aku membuka seatbelt dan membuka pintu mobil, sedangkan yang lain sudah berada di bawah semua, melihat pemandangan yang berada di sana, pemandangan yang begitu indah di pandang mata, karena bunga bunga pada bermekaran saat ini, kupu kupu yang jadi incaran ku dulu kini semakin banyak, terlihat Mikaela sedang mengejar anakan kupu kupu di taman bunga yang saat ini kita kunjungi.

__ADS_1


Om Arzan menepuk punggung ku serata berkata, ''Sudah! jangan terlalu di pikir kan, mungkin benar yang di katakan adik kamu tadi, kalau gadis kecil itu sudah melupakan mu sekarang, masih banyak wanita yang mau sama kamu kelak, jadi jangan sampai kamu down hanya karena gadis itu,'' Om Arzan mengingat kan ku.


__ADS_2