
''Arlan? kamu tidak boleh bersikap seperti ini, kamu harus tabah menghadapi semua coba'an yang Allah berikan kepada kami, ini semua adalah coba'an yang harus kamu lewati bersama Sania, kamu tidak boleh terlihat lemah di depan Sania, kamu harus tenang di depan Sania, kamu tidak boleh menampakkan sisi lemah kamu didepan istri kamu, dia sedang butuh kamu sekarang, jadi kamu harus menyetujui semua yang di katakan dokter, dan percayalah? Allah tidak akan memberi coba'an di luar kemampuan orang itu, kamu harus mencoba ikhlas dan sabar, itu lah kunci nya.'' Ucap sang ayah Arlan yang tiba-tiba datang menemui Arlan di rumah sakit.
''Ayah, Arlan belum siap kalau sampai terjadi sesuatu dengan Sania, dan bagaimana cara nya aku mengasuh ketiga anak anak ku tanpa Sania Yah?'' sahut Arlan masih dengan linangan air mata.
''Mau di operasi atau tidak kalau sudah takdir nya makan akan seperti itu juga Arlan, kamu jangan egois dengan sikap kamu yang sekarang, ini masalah darurat dan mungkin saja Sania di dalam tengah bersedih, coba kamu lihat semua nya di suruh pergi oleh istri mu, dia butuh kamu sekarang, kuatkan dia kalau kamu benar-benar sayang dengan Sania. Jangan bikin dia kecewa lebih dalam lagi,'' tambah nya menjelaskan kepada Arlan putera nya, kita semua tidak bisa melawan takdir yang sudah Allah garisi, tapi kita bisa mencegah nya dengan cara beramal ataupun bersedekah ketika di pagi hari atau kapan pun itu, asal dengan catatan ikhlas.
Karena keihklasan datang nya dari hati bukan dari lisan.
Arlan yang sudah selesai menangis segera menatap pintu ruangan istri kecil nya yang masih tertutup rapat di sana, ada sebagian yang sedang berdiri di depan pintu ruangan Sania, karena mereka di usir oleh Sania, yang mengatakan tidak mau di ganggu dan mau beristirahat juga.
''Arlan menghapus sisa air mata nya dengan tisu yang di berikan oleh Bunda mertua nya.
''Kamu yang sabar, yang di katakan oleh Ayah kamu itu semua nya benar nak Arlan, Sania sekarang butuh kamu untuk menguatkan dia di ruang operasi nanti, kamu jangan menangis lagi ya, berdo'alah agar tidak terjadi sesuatu dengan ke empat orang yang kamu sayang, Bunda juga sebenarnya berat untuk mengungkapkan semua ini kapada kamu? tapi Bunda tidak bisa berbuat apa apa, biarpun tidak di lakukan operasi sekarang, takut nya kondisi Sania akan bertambah buruk dan itu akan berakibat fatal kedepan nya, tapi Bunda berharap semua baik baik saja, cucu dan juga puteri Bunda sehat dan selamat,'' Gumam Bu wati sang Bunda mertua.
''Baiklah Bunda,'' jawab Arlan lembut, Arlan beranjak dari tempat nya dan melangkah menuju ke ruangan istri kecil nya, Arlan sempat ragu untuk membuka pintu ruangan nya.
__ADS_1
''Masuklah Arlan, Sania sangat membutuhkan kamu sekarang?'' seru Andrian yang nada di depan pintu ruangan, karena dia tadi ingin masuk namun di usir oleh Sania.
Arlan memutar knop pintu ruangan dan di sana istri kecil nya sudah meringkuk di bawah selimut, Arlan segera berlari setelah menutup pintu ruangan nya.
''Sayang, kenapa kamu seperti ini,'' ucap Arlan segera meraih istri kecil nya.
''Lebih baik mas Arlan keluar dari ruangan ini sekarang juga, Sania mau sendirian di sini,'' sahut Sania lirih, dia sebenarnya sedang menahan sakit di perut nya.
''Sayang maafkan Mas ya, Mas tak terlalu memahami kamu nya tadi, Mas benar-benar minta maaf? kalau memang kamu harus melakukan operasi sekarang juga, mas sudah siap dengan semua nya, Mas juga sudah menyuruh orang untuk mengambil barang barang anak anak kita di rumah, kita akan segera menjadi orang tua sayang, tapi kamunhatus tetap berjanji agar selalu menjaga diri kamu selama operasi, dan kalau bisa Mas juga ingin masuk ke sana sayang? Mas ingin ada di sisi mu selama proses operasi cesar,'' ujar Arlan yang kini ditatap lekat oleh Sania, Sania terlihat mengembangkan senyuman nya.
''Beneran Mas?'' tanya Sania yang langsung mempunyai Arlan, ''Terima kasih ya Mas,'' tambah nya dengan mencium pipi Arlan.
''Mari Nona Sania, ruangan nya juga sudah siap dan nona sudah menjalani puasa sejak tadi,'' Ucap sang dokter yang sedang mengajak Sania ngobrol.
''Tuan Arlan, bisa angkat nona Sania ke kursi roda sekarang?'' tanya sang dokter kepada Arlan. Arlan mengangguk dan langsung menggendong Sania dari tempat tidur dan di taruh nya di atas kursi roda yang sudah di bawa oleh suster tadi.
__ADS_1
''Mas, Sania bisa sendiri kok? Sania berat dan pasti Mas Arlan tidak akan kuat kalau hatus menggendong Sania sekarang,'' gumam nya meremehkan kekuatan suami nya.
''Kamu lihat saja sekarang, sekuat apa suami kamu cuma mengangkat tubuh kamu yang gemuk seperti ini, sudah kamu jangan ngomong terus, Mas akan mendorong kamu ke ruangan operasi sekarang,'' jawab Arlan dan mengambil alih kursi roda yang sudah di pegang oleh sang suster.
Dokter dan para suster membukakan pintu ruangan Sania, sedangkan Arlan mengikuti dari belakang sambil mendorong kursi roda yang di duduki oleh Sania saat ini.
''Bunda? do'akan Sania agar operasi nya lancar,'' Ucap Sania kepada Bunda nya.
''Pasti sayang? Bunda akan selalu mendo'akan kalian semua nya agar selalu di beri kesehatan dan juga keselamatan,'' sahut Bu Wati seraya mengelus puncak kepala Sania yang masih tertutup oleh hijab nya.
Sania di dorong ke ruangan operasi dan sesampainya di sana, sudah ada beberapa dokter yang akan ikut mengoperasi Sania. Arlan yang sudah berganti baju dengan baju khusus yang ada di ruangan itu.
''Tuan Arlan, apa anda sudah siap menemani Nona Sania di sini,'' tanya sang dokter meyakinkan Arlan kembali. Agar Arlan tidak terkejut dengan para dokter yang akan melakukan pembedahan di perut istri nya.
''Saya sudah siap dokter, dan saya juga akan berada di sini sampai operasi nya selesai, aku mau menemani istri kecil ku di ruangan ini,'' jawab nya dengan yakin.
__ADS_1
''Baiklah, kalau begitu tolong angkat istri kamu ke sini,'' perintah sang dokter kepada Arlan, Arlan hanya mengengguki nya dan menuruti perminta'an sang dokter.
Kini Sania mulai di suntik bius oleh sang dokter, mereka semua sedang melakukan tugas nya dengan sangat hati hati, mengingat nyawa nya yang akan melayang kalau sampai salah sedikit saja melakukan kesalahan, Tuan Arzan sudah mengancam kepada semua dokter yang ikut andik dalam operasi ini, Arlan tak henti henti nya terus membisikkan sholawat di telinga Sania, Sania juga mengikuti Arlan yang terus memiliki lantunan ayat-ayat di telinganya, sesekali Arlan membisikkan kata kata cinta kepada istri kecil nya, dan kata sayang yang selalu ia ucapkan di sela-sela membaca sholawat, istighfar dan beberapa ayat ayat lain nya, Sania kini mulai memejamkan matanya namun di cegah oleh Arlan, supaya dia tetap terus terjaga.