
Akhirnya mereka berdua melakukan sesi foto yang menampilkan wajah Sania yang terlihat begitu cantik malam ini, Pinky meng-upload foto nya ke story IG nya, baru beberapa detik di apload sudah banyak yang komen dan juga ngasih jempol nya pada mereka berdua.
Banyak di antara mereka yang memuji kecantikan kedua nya, walaupun Pinky tanpa memoleskan apapun di wajah mulus nya.
''Kak? nanti kirim ke Sania juga ya, Sania pengen lihat wajah jelek Sania yang tiba-tiba berubah sangat cantik ini kak?'' seru Sania yang langsung mendapatkan jeweran dari sahabat kakak nya itu.
Tepat jam 6:30 menit mereka berdua keluar dari butik Pinky, di mana di sana sudah sepi? karena semua pegawai Pinky sudah pulang sejak satu jam yang lalu.
''Kak Pinky, selalu kayak gitu kalau semua pegawai kak Pinky pada pulang ke rumah masing-masing,'' tanya Sania.
Pinky menganggukkan kepala nya pelan, seraya berkata, ''Sudah biasa seperti ini, kadang kalau aku lagi sedih. Aku selalu menumpahkan kesedihan ku pada kertas putih yang ada di ruangan ku, semenjak orang tua ku berpisah? aku sudah males untuk pulang ke rumah lagi, aku selalu menghabiskan waktu ku dengan menggambar di butik ini,'' Ucap nya lirih. Ya orang tua Pinky bercerai 2 tahun lalu, sang ayah memilih meninggalkan sang Mama demi wanita lain di liat sana, bahkan sang ayah juga sudah menikah dengan wanita itu, yang membuat Pinky semakin down melihat sang mama yang selalu menangisi kelakuan suaminya. Pinky tak terima kalau ayah nya sudah mempunyai istri baru, bahkan Pinky juga sudah mempunyai adik dari ayah nya dengan wanita pilihan nya.
''Maafin Sania ya kak? kak Pinky yang sabar ya, mungkin ini semua sudah takdir kak, bagaimanapun kita tidak bisa menghindari takdir tersebut,'' Sania merengkuh tubuh mungil Pinky, dia mengelus punggung Pinky memberikan kekuatan agar dia bisa menerima semuanya dengan ikhlas.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil Pinky yang terparkir tak jauh dari pintu masuk butik, Sania dan juga Pinky memasuki mobil dan dengan segera mobil Pinky melesat menyusuri padat nya jalanan kota Jakarta, sesekali Sania menatap ke arah Pinky yang sedang menyetir, Pinky terlihat begitu fokus dalam menyetir mobilnya. Sania tak ingin mengganggu Pinky yang sedang fokus memegang kemudi.
'Ya Allah? ternyata kak Pinky masih merasakan kesedihan itu, aku tak menyangka dia akan sesedih ini ketika di tinggal pergi oleh ayah nya, demi wanita lain dia tega meninggalkan keluarga nya yang sudah menemani nya selama kurang lebih 23 tahun. Apa seperti itu jika laki-laki itu sudah sukses dia gampang berpindah ke lain hati? astaghfirullah hal adzim...? mikir apa sih aku ini,' batin Sania memikirkan jalan hidup Pinky yang teramat sulit.
...****************...
__ADS_1
Restoran mewah tujuan mereka berdua, karena di restoran itulah acara ulang tahun teman jua di adakan, Sania tampak terkejut melihat restoran yang ada di hadapan nya, ''kak Sania? kakak nggak salah tempat kan?'' tanya nya bingung, dan masih terus menatap nanar restoran di depan nya.
''Nggak kok? alamat nya benar di restoran ini, tapi... tunggu dulu, ini kan tempat kamu bekerja?'' Ucap Pinky melihat handphone nya, dan Pinky mengangkat satu alis nya setelah sadar restoran yang mereka datangi adalah tempat kerja Sania, pikir Pinky. Namun Sania memikirkan sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi, karena restoran di depan mereka adalah restoran peninggalan sang Ayah, yang kini di kelola oleh diri nya.
'Bagaimana ini, kedok ku sebagai orang biasa akan segera terbongkar kalau kayak gini caranya, aku nggak mau kak Pinky berpikiran yang bukan bukan tentang ku dan juga tentang kak Karan? tapi aku harus bagaimana?!' Sania memeras otak nya agar para pegawai nya tak memanggil ya dengan sebutan Bos.
''Sania!'' sapa Pinky yang melihat Sania berdiri mematung di luar restoran.
''Cepat masuk? nanti acaranya keburu bubar lho,'' lanjut nya yang membuyarkan lamunan Sania.
''Sebaiknya kak Pinky juga ikut masuk yuk,'' ajak Sania menggenggam tangan Pinky, Sania tak ingin meninggalkan sahabat kakak nya di saat seperti sekarang ini. 'Aku tak boleh membiarkan kak Pinky dengan kesedihan nya, kak Pinky hrus melupakan kesedihan yang selama ini ia derita,' gumamnya pelan, namun Pinky masih mendengar gumaman Sania dengan samar samar.
''Nggak kok kak? ayo ikut Sania masuk,'' ajak Sania memegang erat tangan Pinky.
''Ech...! nggak boleh githu, aku kan nggak di undang sama teman kamu, lebih baik kamu sendiri yang masuk. Aku tunggu di cafe sebelah oke?'' tolak Pinky menunjuk ke arah cafe yang berada tak jauh dari restoran.
''Benar ya kak?'' Ucap Sania memastikan kalau Pinky tak akan pergi jauh darinya. Sania mulai melupakan bagaimana mengatasi semua karyawan nya yang sedang bekerja di restoran yang ia kelola sekarang.
Pinky mengangguk dan berjalan menuju cafe yang di tunjuk barusan, Pinky memilih berjalan kaki karena tempat nya tak terlalu jauh, lagi pula dia merasa bahagia ketika dia berjalan seperti sekarang ini. Melihat kepergian Pinky Sania pun masuk ke dalam restoran, namun belum juga masuk ke dalam restoran? salah satu dari pegawai nya menyapa dengan sebutan bos.
__ADS_1
''Bos? tumben ke sini nya malam,'' tanya nya ramah.
''Seeettt...?'' Sania meletakkan telunjuk nya di bibir manis nya. ''Jangan panggil aku bos? sekarang di dalam sedang ada acara ulang tahun teman ku, jadi jangan sampai kalian memanggil aku bos, aku datang ke sini atas undangan teman aku,'' jelas Sania yang langsung di angguki kedua pegawai nya.
''Satu lagi? tolong katakan sama yang lain juga ya,'' Ucap nya sebelum benar-benar masuk ke dalam restoran.
''Baik bos? ech maaf no...nona,'' jawab gugup. Sania mengangguk dan segera pergi hadapan para pegawai nya.
''Bos ini anech banget ya, yang lain pada pamer harta nya? ech... si bos malah menyembunyikan dari mereka,'' Ucap salah satu pegawai nya, setelah kepergian Sania.
''Sudah lah, aku lebih suka bos yang seperti ini, dia tak menyombongkan diri nya karena kekayaan orang tua nya? lho kayak baru bekerja dinsininsaja dech, bos kita tu emang selalu rendah hati orang nya, dia selalu mengatakan pada kita semua nya, sebenarnya kita sama namun takdir yang membedakan kita semua, setiap orang berhak punya mimpi yang sama, tapi lagi lagi takdir yang berbicara,'' ungkap nya pada sang teman.
''Iya, aku juga ingat betul semua pesan bos kita, selain dia cantik? di juga baik pada semua karyawan nya, aku sangat bangga punya bos seperti Sania?'' balas nya. Mereka semua melanjutkan tugas nya menyambut para tamu yang datang ke restoran mewah tersebut, restoran itu sendiri sudah di booking oleh teman kuliah Sania yang sedang mengadakan acara ulang tahun nya di dalam.
.
.
.
__ADS_1