
Tanpa berpikir panjang lagi Mama Citra mengambil handphone nya di saku baju daster nya, dia mengulir mencari nomor kakak ipar nya, dan dengan cepat panggilan pun tersambung.
Tut tut tut
Bu Wati yang mendengar handphone nya berdering dengan segera menggeaer layar handphone nya.
-''Assalamu'alaikum Citra?'' Ucap nya mengatakan salam seperti biasa.
-''Waalaikum salam, mbak Wati sedang apa?'' tanya Mama Citra dengan lirih.
-''Ada apa Citra, apa yang terjadi? dan kenapa kamu menangis seperti itu,'' tanya Bu Wati yang mulai tudak enak perasa'an nya.
-''Lebih baik Mbak Wati ke rumah sakit sekarang, Citra nggak bisa menceritakan lewat telfon mbak,'' jawab Mama Citra yang mulai sesenggukan. ''Sekalian ajak Karan dan menantu mbak juga,'' tambah nya lagi membuat Bu Wati beranjak dari duduk nya dan melangkah pergi menuju ke lantai atas, dengan tergesa-gesa Bu Wati menapaki satu persatu anak tangga.
-''Baik, aku akan segera ke rumah sakit,'' kata Bu Wati memutus panggilan nya dan mengetuk pintu kamar putera nya.
Bu Wati menggedor pintu Karan dengan tak sabar. ''Karan?'' panggil Bu Wati dengan lirih. Karan yang baru selesai mandi langsung membuka pintu kamar nya, sedangkan Pinky mengekit di belakang nya.
''Ada apa Bu?'' tanya Pinky ketika pintu kamar di buka oleh suaminya.
''Kita pergi ke rumah sakit sekarang juga, barusan tante kamu menelfon Ibu agar segera pergi ke rumah sakit, aku takut terjadi sesuatu sama adik kamu, bahkan dia sampai jam segini belum pulang juga,'' cecar Bu Wati mengingat putery kecilnya belum juga nongol di rumah besar nya.
''Ibu tenang dulu ya, mas Karan pakai baju dulu,'' sela Pinky membawa Ibu mertua nya ke lantai dasar dengan di rangkul agar tidak terjatuh menuruni anak tangga.
''Tante Citra bilang seperti apa tadi sama Ibu?'' tanya Pinky mencari tau agar jelas ke rumah sakit nya karena apa.
''Tante nya cuma bilang cepat ke rumah sakit,'' balas Bu Wati yang mulai tak enak peras'aan nya.
__ADS_1
''Sebentar ya Bu? Pinky coba tanya sama Riana dulu, siapa tau dia mengetahui sesuatu,'' kata Pinky lembut, Pinky merogoh saku celananya untuk mengambil handphone, dia mulai menghubungi nomor Riana, sepupu Sania.
-''Iya kak?'' sahut Riana ketika menerima telfon dari istri kakak sepupu nya.
-''Riana, kamu sekarang ada di mana?'' tanya Pinky pelan.
-''Riana di rumah sakit kak, lebih baik Kak Karan dan Bunda ke rumah sakit sekarang, ini sangat darurat sekali,'' cetus Riana lalu mematikan ponsel nya begitu saja.
-''Hallo Riana, Riana?'' Ujar Pinky yang kini sudah khawatir.
''Mas! Mas Karan!'' teriak Pinky dari lantai atas memanggil suaminya yang sedang memakai baju di kamar nya.
''Mas Karan, ayo cepat!!'' teriak Pinky lagi membuy Bu Wati memejamkan matanya sejenak.
''Ibu minta antar mang Udin saja kalau githu?'' kata Bu Wati membuat Pinky bingung. Namun sebelum Ibu mertua nya melangkah pergi Karan sudah menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
''Ayo Mas, kita ke rumah sakit sekarang,'' Pinky memapah Ibu mertua nya berjalan menuju ke garasi mobil nya.
Di dalam rumah sakit tuan Arzan tengah menatap ke arah istri nya, karena dia sudah memberi tahu Bu Wati, kakak ipar nya. ''Seharusnya nya Mama nggak se nekat itu untuk mengatakan kepada keluarga Sania, bagaimana nanti kalau Sania sadar dia menjadi sedih? karena semua orang sudah pada tau kalau dia ber penyakitan,'' tuan Arzan menegur istri nya dengan hati hati.
''Maaf Mas, aku salah? aku nggak bermaksud membuat Sania sedih, tapi aku sudah nggak tahan lagi memendam ini semua dari mereka Mas, mereka berhak tau keadaan puteri kecil nya, dan kini Sania tengah kritis Mas, aku bingung dan aku nggak tau harus berbuat apa tadi,'' jawab Mama Citra dengan deraian air mata nya yang terus terusan mengalir di pipi putih nya.
Bu Wati tengah berlary memasuki rumah sakit, perasy sudah nggak karuan, dia saat ini sedang khawatir walau dia belum tau siapa yang ada di rumah sakit ini.
''Citra, siapa yang sakit?'' tanya Bu Wati dengan lirih.
Mama Citra memeluk erat tubuh kakak ipar nya, sedangkan Karan menghampiri Arlan yang sedang mondar mandiri nggak jelas di depan ruangan ICU.
__ADS_1
''Kamu di sini juga?'' sapa Karan yang membuat Arlan terkejut. ''Arlan? sebenarnya siapa yang sakit sich, kenapa semua nya berkumpul di sini,'' tanya Karan masih bersikap seperti tidak terjadi sesuatu pada keluarga nya.
''Lebih baik kamu lihat sendiri di dalam Karan?'' suruh Arlan yang tak sanggup untuk menceritakan semuanya pada Karan, kakak Sania.
Dengan malas, Karan membuka pintu ICU setelah mendapatkan ijin dari dokter untuk menjenguk pasien.
Mata Karan membola ketika melihat sang adik lah yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, dengan di penuhi beberapa alat yang menempel di tubuh ringkih nya.
''Sania, nggak mungkin dia kan?'' lirih Karan yang kini sudah bersimpuh di lantai, dia masih nggak menyangka kalau yang mereka jaga di luar ternyata adik nya.
''Adik? sebenarnya kamu kenapa sich, kenapa kamu seperti ini,'' tanya Karan lirih, Karan sudah berdiri di samping Sania sang adik satu satu nya dengan memegang tangan yang tertancap oleh selang infus.
Di luar ICU, tepat nya di lorong rumah sakit Bu Wati tengah duduk menunggu Karan keluar dari dalam, Bu Wati sudah sangat penasaran dengan orang yang ada di dalam ruangan. Lima menit kemudian Karan keluar dari ruangan ICU dengan wajah yang acak acakan, air mata yang sudah membanjiri pipinya tak ia hiraukan, hatinya sedang kalut memikirkan apa yang terjadi dengan adik nya.
''Om... Sebenarnya Sania kenapa? kenapa dia harus di tempeli dengan berbagai alat di sekujur tubuh nya,'' gumam Karan, sedangkan Bu Wati masuk ke dalam ruangan dengan di temani Pinky yang kini tengah memapah Ibu mertua nya.
Pinky melakukan hal yang sama seperti suaminya, matanya membola melihat siapa yang sakit.
''Adek?'' Ucap Pinky membuat Bu Wati mendongak dan menatap ke atas ranjang, di mana puteri kecil nya sedang terbaring, dengan wajah pucat nya. Bu Wati memegang pipi puteri nya, seraya berbisik tepat di telinga sang puteri.
''Sayanh? bangun sayang, ini Ibu,'' ucap nya lirih namun tak berapa lama setelah beebisik pada Sania, Bu Wati hilang kesadaran. Pinky panik melihat mertua nya pingsan.
Pinky membuka pintu ruangan dan memanggil Karan. ''Mas Ibu pingsan,'' kata Pinky di ambang pintu.
Karan langsung masuk ke dalam ruangan, untuk mengangkat Ibu nya ke IGD rumah sakit ini juga.
.
__ADS_1
.
.