Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 198 Detik detik menegangkan


__ADS_3

''Kamu cepatlah masuk ke dalam, dokter sedang menunggu kamu di dalam, mereka ingin membicarakan ini semua dengan kalian berdua, Sania sendiri sudah bisa di ajak ngomong di dalam, hanya tinggal menunggu kamu saja sedari tadi,'' Gumam Bu Wati kepada menantu nya itu.


Arlan mengangguk seraya berkata, ''Baiklah Bunda, do'akan saja supaya tidak terjadi apa apa dengan istri kecil Arlan,'' pesan Arlan kepada Bu Wati yang tak lain adalah Ibu mertua nya.


''Pasti, Bunda selalu berdo'a untuk kalian semua nya, cepatlah masuk? jangan biarkan dokter menunggu kamu lebih lama lagi,'' Ujar Bu Wati kepada Arlan lalu menepuk punggung sang menantu agar segera masuk ke dalam untuk menemui dokter dan juga istri nya.


Sedangkan di dalam ruangan Sania tengah menatap beberapa dokter yang ada di dalam ruangan nya, dia bertanya tanya di dalam hati nya, apakah sudah terjadi sesuatu kepada ku tadi, pikir Sania, dalam hatinya berkecamuk segera ingin tau yang sebenarnya, tapi dokter selalu bilang masih menunggu suami anda nona, sudah berapa kali Sania bertanya dan jawaban nya selalu sama seperti itu terus dari tadi.


''Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengan saya, tolong katakan kepada saya? agar saya tau jawaban seperti apa yang akan di sampaikan oleh suami ku nanti nya.


Dokter yang sudah merasa kasihan kepada Sania pun dengan ragu mulai mengatakan semua nya, karena percuma dia menutupi nya dari Sania toh dia juga akan mengetahui nya nanti.


''Sebenarnya Nona Sania harus segera di operasi, agar tidak terjadi sesuatu dengan ketiga bayi anda sekarang, sedangkan kondisi anda sekarang sudah tidak mungkin lagi menunggu karena mengingat kondisi anda yang langsung membutuk seperti tadi pagi, kami dan tim dokter lain nya sepakat ingin mengeluarkan bayi bayi anda sekarang, kondisi bayi nya juga sudah sangat sehat dan juga bobot nya juga sudah memasuki bobot yang sempurna, hanya saja mengingat kondisi anda lagi kami sebagai tim dokter ragu ragu untuk melakukan ini semua nona,'' jawab nya panjang lebar.


''Dokter, tolong ketiga bayiku? keluarkan mereka dengan selamat, bagaimana pun juga aku menginginkan mereka hadir di dunia ini dengan keada'an yang selamat dan juga sehat, masalah kondisi saya abaikan saja, tolong dokter aku mohon,'' kata Sania memohon kepada ketiga dokter yang sedang ada di dalam ruangan nya saat ini.


''Tapi ini semua harus menunggu persetujuan dari suami dan juga keluarga anda nona, bagaimana kalau salah satu keluarga anda ada yang tidak menyetujui tindakan ini, kami semua akan terkena sanksi kalau seandai nya terjadi sesuatu dengan anda tapi masih melanjutkan tindakan seperti ini,'' jawab salah satu dokter yang berdiri di samping Sania.


'Yang aku harapkan sekarang ini adalah ingin melihat mereka bertiga lahir dengan selamat saja dokter, lakukan yang terbaik untuk bayi bayiku dokter,'' pinta Sania yang kini mulai menangis, air mata nya sudah mulai mengalir di kedua pipi nya.


''Bagaimana dokter,'' tanya salah satu dari dokter yang ada di sana.


''Kita harus menunggu tuan Arlan datang dulu, nanti apa tanggapan dari beliau,'' jawab nya menatap wajah Sania yang begitu pucat.


Tiba-tiba pintu ruangan di ketuk dari luar, dan nampak lah Arlan yang membuka pintu ruangan rawat Sania.


''Akhirnya tuan Arlan datang juga,'' kata salah satu dokter ketika melihat Arlan yang sedang berjalan menghampiri nya, Arlan juga terkejut melihat istri kecil nya sedang keada'an menangis di atas brankar nya.


''Ada apa ini dokter?'' yanya Arlan berjalan menuju istri kecil nya. ''Kenapa istri saya menangis,'' tanya nya lagi seraya membawa kepala Sania ke dada bidang nya.

__ADS_1


''Begini Tuan? mungkin ini sangat untuk di dengar untuk anda dan juga keluarga besar Sanjaya, tapi kami sebagai manusia biasa hanya menyampaikan bahwa kita harus mengambil tindakan cepat untuk mengoperasi nona Sania secepatnya, mengingat kondisi Nona Sania semakin menurun setelah kemarin mengalami pendarahan,'' jawab nya dengan berat hati.


''Tapi dokter? kandungan istri saya masih berusia tujuh bulan lebih, apa tidak bisa menunggu hingga sembilan bulan atau bagaimana githu,'' Ucap Arlan tidak percaya dengan apa yang ia dengar baru saja dari dokter yang berdiri di depan nya.


''Mas, Sania sudah siap kok kalau harus di operasi sekarang, Sania hanya ingin bayi bayi Sania selamat,'' Gumam Sania dengan nada lirih nya, sedangkan air mata nya masih mengalir di pipi pucat nya.


''Tapi sayang,''


''Mas, Sania harap mas menyetujui saran dari dokter, Sania tidak mau terjadi apa apa dengan bayi bayi Sania, kalau sampai terjadi sesuatu dengan salah satu bayi Sania, Sania tidak akan bisa memaafkan mas Arlan atau siapa pun yang tidak menyetujui saran dari dokter,'' potong Sania dengan sedikit ancaman kepada suami nya itu. Arlan terbelalak menatap wajah istri kecil nya, dia sangat heran kenapa sang istri bisa berkata demikian di saat seperti ini.


''Mas hanya takut terjadi sesuatu dengan kamu sayang?'' jawab Arlan dengan lirih.


''Silahkan Nona Sania dan juga tuan Arlan bicarakan ini dulu, dan saya harap ini yang terbaik untuk Nona Sania maupun ketiga bayi nya,'' kata sang dokter dan pamit dari ruangan Sania.


Setelah kepergian ketiga dokter tersebut Sania menatap wajah suaminya yang kini sudah meneteskan air mata nya, Arlan mengelus perut besar istri kecil nya. Dan dia juga tidak percaya kalau sang istri akan mengalami hal seperti ini.


''Mas kamu jangan egois jadi orang, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Sania, masih ada ketiga anak kita yang akan menemani kamu di sini, Sania sudah tidak bisa berpikir sekarang Mas, Sania harap kamu tidak mengambil keputusan,'' sambung Sania mendorong tubuh suami nya dengan tangan lemah nya.


''Sania ingin istirahat sebentar, dan aku minta Mas keluar dari ruangan Sania sekarang juga,'' kata Sania mengusir suami nya yang masih tetdiam di samping nya, Sania sudah mengetahui isi kepala Arlan suami nya, yang tidak akan pernah menyetujui saran yang di berikan oleh dokter tersebut.


''Keliarlah Mas,'' seru Sania dengan suara lemah nya, Arlan masih tidak bergeming di tempat nya, dia masih terus saja menatap sang istri yang bahkan sudah dua kali mengusir nya dari dalam ruangan rawat nya.


''Sayang, dengar mas ngomong dulu,'' Ucap Arlan setengah memohon kepada Sania istri kecil nya.


''Keluarlah Mas, Sania mohon? Sania butuh istirahat sekarang?'' balas Sania masih terus memejamkan matanya, namun air mata tetus saja mengalir di pelupuk matanya. Dengan berat hati Arlan melangkah kan kakinya yang terasa sangat berat untuk melangkah keluar dari dalam ruangan istri tercinta nya, tapi apa boleh buat? istri kecil nya sudah mengusir nya beberapa kali sehingga Arlan tidak bisa berbuat apa apa lagi untuk sekarang ini.


Dengan langkah gontai dia membuka pintu ruangan Sania, dia kembali menoleh ke arah Sania dan masih tetap mendapati Sania memejamkan mata nya, Selan membuka pintu dan melangkah keluar ruangan. Di sana sudah di sambut beberapa orang yang sudah menunggu di di luar ruangan.


''Apa yang tetjadi di dalam nak Arlan,'' tanya sang Bunda yang menghampiri anak menantu nya itu.

__ADS_1


Arlan masih tidak bergeming, dia masih terus saja menunduk menatap lantai yang bahkan bisa untuk menatap dirinya yang sedang kacau balau. Mengingat istri nya harus operasi sekarang.


''Arlan kamu dengar Bunda nggak sich, Bunda sedang bertanya sama kamu? apa yang di katakan dokter dokter tadi di dalam?'' seru Andrian menatap wajah sedih Arlan, Andrian memegang leher Arlan yang menurut dia mengabaikan pertanya'an nya.


''Arlan, sebenarnya apa yang terjadi dengan Sania,'' ujar Andriana bertanya sekali lagi kepada Arlan yang masih terus saja tidak ingin menjawab semua pertanya'an dari keluarga istri nya.


''Arlan, apa yang dengan adik saat ini,'' tanya Karan dengan suara bariton nya, Karan baru sampai ke rumah sakit setelah di telfon oleh Bunda nya agar segera datang ke rumah sakit di mana sang nasik di rawat saat ini.


Karan yang duduk di samping Arlan menepuk pelan punggung sahabat nya itu, namun sekarang dia adalah adik ipar nya yang pasti suami dari Sania adik nya.


Arlan menghambur kentubuh Karan dengan tangisan nya, dia sudah tidak malu lagi untuk mengeluarkan air mata nya kembali di dalam pelukan Karan kakak operasi nya, Arlan yang sedang di landa kebingungan akhirnya mencoba menceritakan semua nya kepada Karan yang tak lain adalah saudara istri kecil nya.


''Ada apa sebenarnya, cepat katakan kpedaku sekarang?'' bujuk Karan seraya mengelus punggung Arlan adik ipar nya.


''Karan, Sania Karan?'' Ucap nya dengan terbata bata.


''Iya, kenapa dengan Sania. Dia baik baik saja kan? dia tidak apa apa kan?'' tanya Karan dengan beberapa pertanya'an kepada adik ipar nya.


''Sania harus segera di operasi, mengingat kondisi nya semakin melemah setelah mengalami pendarahan kemarin. Semua salahku Karan? seandai nya aku tidak meninggalkan Sania yang sedang tertidur sendirian, ini semua tidak akan terjadi sekarang, aku yang bodoh sudah tidak becus menjaga istri kecil ku,'' Arlan merutuki kesalahan nya yang sempat meninggalkan Sania sendirian di tempat tidur, sedangkan dia sendiri tengah menyelesaikan semua pekerja'an kantor nya yang sudah deadline.


''Kamu nggak boleh berkata seperti itu Arlan, ini semua bukan salah kamu seutuh nya bukan salah kamu, kamu sudah sangat hati hati dalam menjaga Sania selama ini, dan ini mungkin sudah takdir dari sang Maha Kuasa yang akan menunjukkan wajah wajah kecil itu lebih awal,'' membujuk adik ipar nya agar tetap tenang.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2