Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 152 Kebahagiaan kakek Sanjaya


__ADS_3

''Aku akan merebut kamu dari gadis itu Arlan! dan tak ada seorang pun yang bisa menghindar dari jeratan ku selama ini kecuali kamu sendiri Arlan!!'' kata gadis tersebut dengan pongah. Lalu dia terkekeh dengan sendiri nya, melihat ide jahat yang sudah iya rencanakan nya.


''Tunggu aku gadis bodoh, kau begitu lemah untuk bersanding dengan Arlan ku, kau sungguh tak pantas buat laki-laki gagah seperti Arlan ku itu?'' lagi lagi dia terkekeh mendengar ide jahat nya sendiri, dia emang sudah gila saat ini, karena laki-laki yang ia cintai memilih menikah dengan Sania.


Menurut dia Sania lah yang membuat Arlan berpaling dengan nya, dan dia juga sudah berjanji akan membuat Sania menderita karena sudah merebut laki laki nya.


Sebut saja wanita itu Yanti, wanita yang tergila gila dengan ketampanan Arlan, dan juga kekaya'an Arlan. Yanti sendiri adalah saudara sepupu jauh dari mendiang Ibu nya, sejak dulu Yanti sudah mengejar cinta Arlan, namun Arlan mempedulikan Yanti karena Arlan sudah menganggap dia sebagai adik nya, namun semua perhatian dan kasih sayang yang di berikan Arlan untuk Yanti di salah artikan oleh nya. Yanti mengira Arlan jatuh cinta kepada nya karena sudah memberikan perhatian kecil kepada jua selama ini, sejak saat itu Yanti berusaha untuk Cinta Arlan.


...****************...


Menjelang pagi semua orang yang menginap di rumah besar kakek Sanjaya sudah melakukan aktivitas nya masing-masing, sebagian keluarga nya membantu di dapur? ya walaupun di sana sudah tak kekurangan orang yang mengerjakan pekerja'an di dapur di pagi hari, sedangkan Sania dan Arlan lebih memilih jalan santai di halaman luas kakek Sanjaya, mereka sesekali saling melemparkan senyuman nya kepada pasangan masing-masing.


''Setelah ini kita pindah ke apartement ku ya sayang? kamu mau kan,'' Ucap Arlan menatap sang istri dengan tatapan kagum, walaupun sang istri tak memoles wajah nya dengan make up dia masih nampak begitu cantik, bukan hanya wajah nya yang cantik? melainkan hati nya juga cantik, pikir Arlan.


''Kemana pun Mas pergi, Sania akan ikut kok? asal nggak di ajak nyolong aja,'' celetuk Sania dengan kekehan nya, karena melihat suami di depan nya sudah menaikkan satu alis nya ke atas.


''Nyolong buat apa sayang,'' tanya Arlan masih dengan nada penasaran nya.


''Nyolong hati orang lain?'' jawab Sania, yang langsung mendapatkan pelototan yang tajam dari Arlan suami nya, Arlan yang gemas pun mengapit hidung Sania membuat Sania mengaduh kesakitan.


''Aww... sakit tau Mas,'' rengek Sania seraya mengusap hidung nya yang terasa nyeri. Namun di detik-detik kemudian Arlan menjadi panik dengan hidung istri nya yang merah seperti kena hantaman.


''Sayang, kamu nggak apa apa kan, hidung kamu?'' tanya Arlan dengan nada sedikit panik melihat keada'an sang istri seperti itu.


Sania membawa Arlan duduk di kursi di halaman depan rumah kakek nya, ''Nggak apa apa kok Mas? kamu nggak usah panik seperti itu, lagian ini sudah biasa kok,'' jawab Sania menenangkan suami nya.


''Apa ini gara gara aku barusan mengapit hidung kamu?'' tanya Arlan, Sania mengangguk pelan, matanya menatap ke arah suami nya, Arlan sangat merasa bersalah kepada istri kecilnya, dua tak mengetahui kalau kulit nya sangat sensitif terhadap cubitan ataupun benturan kecil.

__ADS_1


''Sudah jangan terlalu di pikirin lagi Mas, aku nggak apa apa kok?'' sela Sania menaruh kepalanya di dada bidang suami nya.


Arlan mengusap kepala Sania seraya berkata, ''Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu sayang? aku nggak akan pernah ninggalin kamu walau sedetikpun,'' Ucap nya dengan lirih.


''Iya Mas, aku percaya sama Mas Arlan?'' balas nya mendongakkan wajah nya, menatap wajah suami nya yang begitu tampan. ''Kalau gitu kita masuk sekarang, aku sudah lapar?'' tambah Sania dengan sedikit manja kepada suami nya.


Arlan mengangguk dan membantu Sania untuk berdiri dari kursi yang ia duduki, Arlan menggandeng tangan Sania dengan lembut.


''Ayo sarapan semua nya?'' seru Mama Citra dan juga tante Cinta yang emang sedang menatap meja makan nya.


''Ayo kak?'' ajak Sania menarik tangan Riana dan juga Rian, karena Sania sudah melepaskan tangan Arlan suami nya.


''Sayang? suami nya ajak juga dong, kenapa kamu malah menarik tangan kakak kakak kamu ketimbang tangan suami nya sich?'' Ujar Mama Citra setengah meledek pengantin baru itu.


Sania menampakkan deretan gigi putih nya ketika mendengar Mama Citra menegur nya, karena sudah meninggalkan suami nya di ruang keluarga. ''Iya maaf Ma?'' balas Sania tersenyum canggung, karena Sania merasa malu karena kekonyolan nya yang meninggalkan suami jua begitu saja.


''Kenapa Mas Arlan masih berdiri di sini, sedangkan yang lain sudah berkumpul di meja maka,'' gumam Sania ketika sudah berada di depan suami nya.


''Mas sengaja tetap berdiri di sini, agar kamu menghampiri Mas, dan mengajak Mas untuk ke meja makan?'' tukas Arlan seraya menyunggingkan senyum smirk nya.


''Cih, ayo sarapan dulu, habis kita pamit pulang ke rumah Bunda dulu?'' sahut Sania dengan senyum manis yang tercetak di bibir tipis nya. Sania menggandeng tangan suami nya untuk ikut bergabung dengan keluarga besar nya.


Keluarga besar Sanjaya nampak bahagia sekali atas pernikahan Sania dengan Arlan, terbukti semua keluarga dari kakek nya datang dari jauh hanya untuk melihat kebahagiaan Sania dan juga Arlan, hanya saja saat itu kakek Sanjaya nampak mengeluarkan air matanya, mengingat mendiang putera nya yang sudah sangat lama meninggalkan cucu dan istri nya.


''Kakek mau sarapan apa?'' tanya Sania ketika melihat kakek nya terdiam di atas kursi roda nya.


''Kakek belum lapar nak? kamu saja yang duluan sarapan, setelah itu jangan lupa minum obat nya. Kakek mau melihat kamu terus tersenyum seperti ini sayang, dan kakek juga harap ingin segera menimang cicit dari kamu dan juga Karan,'' tukas nya dengan lembut.

__ADS_1


''Makanya kakek harus sehat dan bugar juga, agar besok bisa menggendong cicitnya begitu keluar,'' balas Sania dengan enteng nya, sedangkan semua orang yang ada di meja makan pun menatap Sania.


''Emang ucapan ku salah?'' tanya Sania yang tak mengerti dengan tatapan semua orang.


''Emangnya bikin boneka bilang besok!'' seru sang kakak yang duduk tak jauh dari Sania.


''Kan yang Sania bilang benar kak? besok, tapi besok nya nggak tau kapan?!'' jawab Sania dengan kekehan nya, sedangkan yang lain sudah tertawa ngakak. ''Harus nya kak Karan dan juga kak Pinky yang sudah punya anak dong, kalau Sania kan cuma kemarin nikah nya, masak iya langsung tek dung??'' lanjut Sania lagi, membuat suasana semakin rame dan ada yang menyudahi makan nya karena tersedak dengan ucapan dari saudara nya tersebut.


''Iya iya, Bunda ratu emang selalu benar,'' sambung saudara yang lain, yang sengaja datang dari luar negeri hanya untuk melihat saudara nya menikah.


''Iya kau benar, Bunda ratu emang selalu benar tak ada yang salah dari ucapan Bunda ratu,'' yang lain ikutan menimpali. Sedangkan Sania jangan di tanyakan lagi, dia saat ini tengah cemberut dan mengaduk adik makanan yang ada di depan nya, melihat itu Arlan langsung mengambil sendok di tangan istri kecil nya, ia menyuapkan nasi ke dalam mulut istri nya.


''Lihat tuh, pengantin baru mesra banget,'' sela Rian yang tengah menenggak susu yang di sediakan oleh Mama Citra.


''Iya romantis banget, jadi ngirim liat nya,'' Riana juga ikut menimpali percakapan semua nya. Arlan hanya mengembangkan senyuman nya melihat wajah sang istri yang sudah seperti kepiting rebus.


''Sudah jangan di dengar kan perkata'an mereka semua, yang penting kamu habisin makan kamu dan segera minum obat, oke sayang?'' bisik Arlan, Sania menatap wajah Arlan yang tengah tersenyum kepada nya. Sania hanya mampu menjawab dengan anggukan kepala saja.


''Sudah jangan pada ngeledekin Sania terus, kalian cepat habisin makanan mu entar yang ada malah ketinggalan pesawat lagi,'' gumam Mama Citra mengingat kan ponakan nya, anak dari salah satu adik Papa nya.


''Yang di katakan Mama Citra itu benar, pesawat nya take off jam sembilan, dan sekarang sudah jam delapan lebih!'' seru nya melihat jam yang melingkar di lengan kanan nya.


Akhirnya semua orang pada buru buru menyelesaikan makanan nya, dan setelah itu beberapa dari keluarga nya sudah mulai bersikap pergi ke bandara untuk kembali ke negara masing masing, ada juga yang kembali ke desa, dan orang tersebut juga naik pesawat, karena itu semua sudah perintah dari tuan besar.


Ada 6 mobil yang mengantat mereka semua ke bandara, sedangkan Sania dan juga Arlan tak boleh pergi untuk mengantarkan sekua saudara ke bandara, jadi mereka hanya bisa menunggu kepulangan Mama Citra, tante Cinta dan juga Bunda nya. Kak Karan dan kak Pinky sudah kembali terlebih dulu, karena kak Pinky ada klayen yang akan mengambil gaun nya di butik milik nya.


Kakek Sanjaya menatap cucu nya dari jauh, Sania dan Arlan terlihat bercanda di ruang keluarga nya, senyuman kakek Sanjaya menghiasi bibir tuanya, ''Sayang, seandainya kamu masih hidup, kamu akan senang melihat cucu kita yang sudah pada menikah dan begitu bahagia dengan pasangan nya masing-masing, semoga kamu melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah kedua sayang?'' Gumam kakek Sanjaya dengan pelan, sehingga hanya dia saja yang mendengar gumaman dia.

__ADS_1


__ADS_2