Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 210 Ledekan Karan dan juga Sania


__ADS_3

Jam 18:30 Tuan Bagas dan Nyonya Helena datang ke rumah Karan, di mana di sana sudah di tunggu tunggu kedatangan nya, semua orang sedang berkumpul di ruangan keluarga sembari bercandantawa dengan kedua bayi kembar Sania, sedangkan yang satu nya lagi masih berada di dalam box di dalam kamar nya, dia masih belum bisa lama lama berada di luar ruangan.


Tok tok tok


Pintu utama di ketuk dari luar, Bibi segera berlari menuju pintu utama untuk membukakan pintu untuk tamu yang sudah di tunggu sejak tadi.


''Assalamu'alaikum,'' Ucap Nyonya Helena dengan sopan ketika pintu sudah di buka.


''Waalaikum salam,'' jawab sangat Bibi dengan senyuman.


''Tuan Karan ada,'' tanya tuan Bagas dengan suara berat nya, dokter Michael mengerutkan kening nya mendengar suara orang yang sedang berbicara di luar.


''Tuan Karan sudah menunggu anda sejak tadi,'' jawab nya dan mempersilahkan tuan Bagas dan Nyonya Helena masuk ke dalam.


Tuan Bagas dan Nyonya Helena terkejut ketika melihat putera semata wayang nya juga berada di ruangan tersebut sedang bercanda tawa dengan keluarga Karan yang lain nya.


''Michael? kamu ada di sini juga,'' tanya Nyonya Helena, yang tak lain adalah Mama Michael.


''Mama, Papa?'' jawab dokter Michael seraya beranjak dari duduk nya, dia melangkah menuju Papa dan Mama nya berdiri di tempat yang tahu dari nya.


''Mama ke sini mau bertemu dengan Tuan Karan, sekaligus mau lihat ponakan Tuan Karan yang baru lahir,'' Ucap sang Nyonya Helena lagi.


''Jadi tamu yang di tunggu sejak tadi sore itu Mama dan juga Papa,'' seru dokter Michael tidak percaya, kalau yang menjadi rekan bisnis kakak sepupu wanita nya adalah Papa nya sendiri.


''Tuan Bagas ayo duduk, Nyonya?'' sela Pinky dan juga Karan yang hampir bersama'an.


Nyonya Helena memberikan bingkisan kepada Pinky, dan dia segera menghampiri Bunda Wati yang sedang duduk di dekat Karan dan juga Sania.


''Mama Tuan Karan?'' sapa Nyonya Helena dengan mengulurkan tangan nya.


''Iya Nyonya, panggil saja Wati,'' jawab sang Bunda Wati dengan menyambut uluran tangan dari Nyonya Helena.


''Och iya, kalau gitu panggil saya juga Helena, Mama nya Michael,'' balas nya dengan mengulas senyum di bibir nya.


Nyonya Helena menyalami semua orang yang ada di sana, termasuk dengan Riana.

__ADS_1


''Kalian berdua kembar?'' tanya Nyonya Helena dengan heran melihat wajah Riana dan juga Rian yang mirip.


''Iya tante, saya Rian dan ini adikku Riana,'' jawab Rian seraya mengulurkan tangan nya kepada kedua nya.


''Calon dokter Michael itu tante,'' celetuk Sania tiba-tiba yang ikut menimpali ucapan ketiga nya.


''Adik?'' seru Riana dengan mengedipkan mata nya sebagai kode kalau dia tidak boleh berkata yang tidak tidak untuk nya.


''Och jadi ini calon kamu Michael, kenapa nggak bilang ke Mama kalau kamu sudah punya calon,'' sang Mama mencecar dengan pertanya'an yang sejak kemarin dia simpan saja.


''Lebih baik kita makan malam saja dulu, kasihan anak anak sudah menunggu anda dari tadi,'' sela Bunda Wati mengajak mereka ke meja makan. Karena Bunda Wati tau kalau puteri kecil nya sudah sangat lapar, apalagi dengan ponakan ponakan nya yang sejak tadi hanya ngobrol ngobrol ringan dengan nya.


''Mari tuan Bagas, setelah ini kita lanjutkan obrolan kita yang masih banyak yang harus di bicarakan,'' gumam Karan dengan sangat sopan kepada rekan bisnis nya.


Sedangkan tuan Bagas masih di selimuti dengan berbagai pertanya'an kenapa putera nya bisa mengenal dengan keluarga Sanjaya, dan lagi dia juga sangat dekat dengan keluarga Karan di rumah ini, pikir tuan Bagas.


''Semoga suka dengan masakan nya Tuan, ini semua masakan Bunda,'' gumam Pinky dengan mendudukkan diri nya di samping Karan suami nya.


''Kayak nya enak banget, pasti bakalan nambah nich,'' sahut Tuan Bagas yang tidak ingin terlihat dingin di depan keluarga Karan, apalagi di sini ada wanita incaran putera nya yang akan takut dengan nya, kalau sifat nya seperti sedang mengobrol dengan rekan rekan bisnis lain nya.


''Nggak apa apalah Ma, sekali kali kita bercanda di sini, takut nya ada yang takut sama Papa,'' sahut nya sambil memakan makanan nya yang sudah di ambilin oleh Nyonya Helena istri nya.


Mereka semua nya makan tanpa mengeluarkan suara, hanya dentingan suara sendok dan juga garpu yang saling bertaut di piring nya masing.


Setelah selesai makan, mereka semua nya kembali duduk kembali di ruangan keluarga, Sania kini sedang menggendong bayi laki-laki nya, sedangkan Riana menggendong bayi perempuan Sania.


Riana selalu mencium pipi gembul sang ponakan yang membuat kejailan saudara sepupu nya kumat.


''Makanya cepat nikah? biar tidak begitu geram dengan bayi yang sedang di gendong nya,'' celetuk Karan dengan senyuman jahat nya.


''Apa sich kak Karan ini, harus berapa kali Riana bilang kalau kita cuma temenan saja,'' jawab Riana yang di pojokkan oleh saudara sepupu nya.


''Teman tapi mesra kak?'' sambung Sania yang juga ikut meledek kakak sepupu nya.


Rian mengerut kan kening nya, dia tidak tau kalau sang adik suka dengan dokter Michael, dia hanya tau hari ini. ''Adik beneran pacaran dengan dokter Michael?'' tanya nya heran.

__ADS_1


''Kak Rian jangan percaya dengan ucapan kak Karan dan juga Sania, aku sama dokter Michael hanya temenan kok, lagian aku juga dekat dengan dokter Michael kemarin ketika dia sedang merawat adik Sania juga,'' jawab Riana kesal seraya menatap wajah sang kakak yang sedang menatap nya juga.


''Lagian kalau beneran juga nggak apa apa kali kak Riana, Sania juga senang kalau kak Riana dengan dokter Michael, kalian berdua serasi kok,'' ujar Sania tak mau kalah dengan kakak sepupu nya, dia begitu semangat meledek kakak sepupu nya karena sekarang sedang ada orang tua dari dokter Michael di sana.


''Maaf Tuan Karan, kalau boleh tau anda bisa kenal dengan putera saya,'' tanya Tuan Bagas yang sedang di landa penasaran.


''Dokter Michael dulu yang merawat adik saya Sania yang terkena kanker darah, jadi kami sangat dekat dengan dokter Michael, dan itu juga berkat dari adik sepupu ku yang bernama Riana, dia adalah adik tingkat dokter Michael ketika di kampus nya dulu, dan kalau boleh saya bilang kepada Anda Tuan Bagas dan juga Nyonya Helena, kalau dokter Michael suka dengan adik sepupu saya,'' jawab Karan menjelaskan semua tentang dokter Michael dengan adik sepupu nya.


''Jadi yang sedang di ledekin saat ini saudara sepupu Tuan Karan,'' sahut nya seraya menganggukkan kepala nya pelan.


''Iya begitulah?'' jawab Karan singkat.


''Sebenarnya aku sudah mengatakan kepada Riana, kalau aku akan melamar nya kemarin? tapi dia menganggap aku hanya bercanda saja, dan sekarang aku akan mengutarakan lagi isi hati ku kepada Riana di depan Bunda, Mama, Papa dan juga yang lain nya, kalau aku benar-benar serius ingin melamar Riana,'' sambung dokter Michael panjang lebar, yang membuat Riana membulatkan matanya, seakan-akan bola matanya akan keluar begitu saja.


''Benaran dek?'' tanya Rian dengan cepat.


''Iya kak, tapi aku masih nggak percaya dengan ucapan dokter Michael kemarin karena dia langsung ngajak nikah gitu saja, Riana kan belum siap? apalagi proyek yang kita sedang kerjakan masih belum selesai, makanya Riana belum kepikiran ke sana kak?'' jawab nya merasa tak enak hati kepada kedua orang tua dokter Michael yang mendengar nya secara langsung.


''Tapi aku kan sudah bilang setelah itu, kalau aku hanya ingin melamar kamu saja, nanti kalau proyek kamu sudah selesai kita bisa nikah, kan kemarin aku sudah bilang seperti itu kan?'' jawab nya dengan menatap wajah Riana yang sudah memerah karena mendengar kata kata manis dari dokter Michael, laki-laki yang dia juga sukai, namun karena gengsi nya terlalu tinggi jadi dia hanya bilang kalau proyek yang dia kerjakan belum juga selesai di kerjakan.


''Bunda hanya mengingat kan saja, itu semua tergantung kepada mu saja nak, karena semua nya kamu yang jalani dan kamu juga yang merasakan kebahagia'an, tapi kamu harus jawab dengan jelas dan juga jangan memberi harapan kepada seseorang yang dia akan selalu menunggu jawaban dari kamu, kamu harus tegas membuat keputusan ya atau tidak, itu saja pesan Bunda sama kamu sayang? mungkin kamu bisa ngomongin masalah ini dengan Papa dan juga Mama kamu dulu,'' sambung Bunda Wati dengan lembut seraya menepuk pelan punggung tangan Riana yang sedang menggendong ponakan perempuan nya.


''Yang di katakan Bunda ada benar nya dek, kamu harus ngasih tau Papa dulu.''gumam nya pelan dan membenarkan semua yang di ucapkan oleh Bunda Wati.


''Apa sich kak? masak iya Riana yang nikah duluan, sedangkan kamu sebagai kakak aku saja belum juga nikah,'' sela Riana tak mau di pojokkan lagi.


''Kita kan hanya beda lima menit saja dek, jadi tak masalah dong kalau kamu nikah duluan,'' jawab Rian tak terima dengan ucapan sang adik yang mengatakan lebih tua dari nya.


''Bunda, kan memang benar kan kalau kak Rian lebih dari Riana, sedangkan dia saja pacar juga belum punya,'' kata Riana meminta pertolongan kepada sang Bunda yang ada di samping nya.


''Sudah sudah, apa sich yang kalian debatin? sama sama tua juga,'' jawab Bunda Wati dengan santai nya tanpa melihat ke arah sang ponakan yang sudah cemberut ke arah nya.


''Bunda mah gitu, nggak pernah mau belain Riana kalau kak Rian suka ledekin Riana,'' sela Riana dengan menatap wajah mungil bayi yang ia pangku saat ini.


Sania tersenyum melihat sikap kakak sepupu nya yang seperti anak kecil yang sedang ngambek ketika meminta permen tidak di kasih oleh orang tua nya.

__ADS_1


__ADS_2