Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 147 Hari bahagia


__ADS_3

Dengan di lihat tuan Arzan dan juga istir nya, Karan, Bu Wati dan juga Pinky kakak ipar nya, kini Sania sudah menjadi milik Arlan, dan bahkan rencana pernikahan nya akan di adakan besok sore di kediaman kakek Sanjaya, Sania terlihat bahagia melihat cincin yang melingkar di jari manis nya.


''Apa tidak terlalu mendadak? sedangkan kami belum mempersiapkan yang lain nya,'' Ucap kakak ipar Arlan yang mendengar pernikahan adik nya akan di adakan besok.


''Sudah, biar kami semua yang mempersiapkan semuanya, anda sekeluarga hanya datang ke pernikahan Arlan besok, Arlan sudah saya anggap sebagai putera ku sendiri?'' sambung tuan Arzan tiba-tiba.


''Saya tidak tau lagi harus berterima kasih dengan apa lagi tuan?'' jawab ayah Arlan terharu.


''Sudah lah Pak, bukan nya Bapak juga sudah di anggap keluarga oleh Papa saya, Bapak juga sudah bekerja keras dengan Papa saya dulu, jadi ini semua belum seberapa dengan pengabdian bapak selama ini kepada keluarga kami.'' Kata mama Citra kepada Ayah Arlan.


Akhirnya di dalam ruangan itu berbahagia mendengar penuturan dari keluarga Sania, yang tadinya linangan air mata yang ada di dalam nya, kini sudah menjadi senyuman dan kebahagia'an yang begitu mengharukan biru.


Flashback on


Selama menemui Ayah Arlan tuan Arzan sudah melakukan video call dengan mertuanya di rumah besar nya, kakek Sanjaya yang melihat secara langsung hanya bisa mendengarkan dan tersenyum bahagia, ketika melihat ada seseorang yang begitu mencintai cucu nya, dia tidak peduli dengan penyakit cucu nya yang sudah begitu parah pikir nya. Dengan penuh rasa bahagia kakek Sanjaya melihat Arlan memasang cincin di jari manis cucu nya.


Setelah acara itu berlangsung mereka semua terlihat bahagia, sedangkan tuan Arzan memilih untuk pergi sebentar hanya untuk bisa berbicara dengan mertua nya.


''Menurut Papa ini bagaimana, apa yang kami lakukan sudah tepat?'' tanya tuan Arzan ketika sudah berada di luar ruangan yang ia sewa untuk acara lamaran Sania dengan Arlan.


''Bagus, kalau bisa pernikahan nya di laksanakan besok sore saja, lebih cepat lebih baik? agar Sania ada yang menjaga nya dan menurut Papa Sania juga mencintai Arlan, jadi nggak usah terlalu lama untuk menunggu hari sakral mereka, Papa akan menyiapkan semua nya di sini, kamu tinggal bilang dengan hati hati kepada Ayah Arlan dan juga saudara saudara nya, agar mereka tidak merasa tersudut atau merasa tidak di hargai di sini,'' terang nya.


''Baiklah Pa, Arzan akan menyampaikan pesan Papa kepada mereka semua,'' jawab tuan Arzan dan mematikan ponsel nya setelah sang mertua lebih dulu memutuskan panggilan nya.


Cinta sangat bahagia dan dia juga buru buru menghubungi Fabian yang masih ada di kantor, Cinta meminta suaminya agar menyiapkan sekua yang digunakan butuhkan besok sore, di acara sakral Arlan dan juga Sania ponakan nya.


Fabian yang mendengar nya ikut senang dan juga bahagia, melihat masih ada laki-laki yang begitu menyayangi ponakan nya yang tengah melawan sakit nya.


Flashback off

__ADS_1


...****************...


Sore itu setelah Sania di periksa oleh dokter Michael, Sania sudah boleh pulang? karena dia sudah merengek ingin segera pulang ke rumah nya.


''Baiklah, karena Sania sudah memaksa ingin pulang, saya tidak bisa mencegah nya lagi, tapi pesanku kamu tidak boleh lagi mengabaikan obat kamu, apalagi sampai membuang nya seperti kemarin,'' jelas dokter Michael yang mendengar itu langsung dari Arlan.


''Tau tuh Sania, kami tuch semua menghawatirkan kamu, ech kamu malah berbuat seperti itu?'' seru Riana. ''Sekarang sudah tidak akan seperti itu Michael? kan dia besok juga sudah mau merid, kalau dia sampai ngelakuin itu lagi, aku yakin Arlan tak akan memaafkan nya lagi,'' tambah Riana yang membuat Sania merengut dan menatap laki-laki yang baru saja melamar nya.


''Saya janji akan menjaga nya dokter? tenang saja, aku akan tungguin dia sampai dia benar-benar menelan obat nya,'' sambung Arlan membuat semua orang tertawa melihat Sania yang sudah mencebikkan bibir nya.


''Sudah, sudah, jangan ngebully adik kamu tetua terusan sepet ini dong? coba lihat wajah dia sekarang menjadi merah seperti itu,'' sambung Bu Wati memgelus puncak kepala puteri yang masih tertutup dengan hijab nya.


''Semoga Mas Arlan tidak menyesal telah memilih Sania sebagai istri nya,'' gumam Sania yang hanya di dengar Arlan, karena Arlan saat itu tepat ada di samping nya seraya memegang tangan nya.


Arlan nampak tersenyum, lalu dia berkata, ''Mulai sekarang kamu nggak boleh lagi berkata seperti ini, aku beneran tulus mencintaimu Sania?'' bisik Arlan mencium punggung tangan Sania.


''Buat main?'' jawab Rian datar dan dengan tatapan malas nya.


Sania mengerutkan kening nya mendengar jawaban kakak sepupu nya yang terbilang ketus dan juga datar.


''Ini buat kak Sania, bukan nya kakak mau pulang ke rumah ya?'' seru Roni menjelaskan ucapan dari kakak nya barusan.


''Tapi aku bisa jalan sendiri kok?'' tukas Sania membuat semua orang menatap Sania dan beralih menatap Arlan yang ada di samping nya.


''Kalau kamu nggak mau duduk di sana, biar aku gendong saja dech,'' kata Arlan mengangkat sudut bibir nya.


''Ich, apa'an? Sania berat tau,'' jawab Sania mengernyit kan kening nya.


''Kata siapa kamu berat, lawong tadi saja aku yang menggendong kamu sampai ke ruangan,'' terang Arlan membuat pipi Sania merona merah.

__ADS_1


Sania menepuk lengan Arlan pelan, dan Sania juga mau menduduki kursi roda yang di bawa Rian tadi.


''Dari tadi kan lebih enak! jadi nggak usah harus berdebat dulu,'' cetis Riana yang sudah back mood.


Mereka semua akhirnya meninggalkan rumah sakit tempat di mana Sania tadi di rawat, mereka semua kembali ke Jakarta di malam itu juga, orang tua dan juga saudara Arlan sudah kembali terlebih duluan setelah acara selesai tadi.


Sementara di dalam mobil Pinky sudah memesan kebaya untuk semua orang, walaupun secara dadakan tapi Pinky masih bisa memesan semua kebaya yang akan ia kenakan besok di acara pernikahan adik ipar nya.


Di mobil lain, selama di perjalanan Arlan selalu mencuri kesempatan untuk memandang ke arah calon istri nya.


''Mas Arlan?'' panggil Sania pelan.


''Mas Arlan benar-benar sayang dengan Sania?'' lanjut Sania yang kini sudah menatap ke arah calon suami nya.


Arlan mengambil jari Sania, Arlan memegang erat jemari itu dan di cium nya dengan lembut. ''Kenapa kamu nggak percaya kalau aku sungguh sayang sama kamu, aku ingin membahagiakan kamu Sania,'' jawab nya, sejenak menatap wajah pucat Sania, lalu Arlan kembali fokus ke jalanan ya walaupun jalanan saat itu sudah tak ada kendaraan lain karena hari semakin larut.


''Bukan nya gitu mas Arlan, Sania hanya bisa merepotkan mas Arlan saja, Sania masih nggak percaya saja kalau mas Arlan menyayangi Sania selama ini,'' sahut nya menundukkan kepalanya.


''Sudah jangan terlalu di fikirkan lagi, dan satu lagi? aku tak pernah merasa di repotkan dengan semua ini, aku ingin menjaga dan merawat kamu sampai sembuh, jadi kamu harus janji dari sekarang, kalau kamu akan menurut sama yang aku ucapkan, dan juga kamu harus selalu minum obat di jam jam yang sudah dokter katakan, faham?'' tukas Arlan mencubit pipi tirus Sania, pipi yang dulu nya chubby kini sudah tak berisi seperti dulu karena berat badan nya yang selalu turun setiap harinya.


''Terima kasih ya mas?'' kata Sania mengambil tangan Arly dan mencium nya.


Arlan menganggik dan mengelus kepala Sania dengan lembut, Arlan mengembangkan senyuman dan kembali fokus ke jalanan, sampai akhirnya mobil yang di kendarai Arlan masuk di pelataran rumah Sania yang terbilang cukup besar.


Arlan mematikan mesin mobilnya dan menatap ke arah Sania yang masih tersenyum. ''Apa setelah menikah kamu mau tinggal bareng bersama aku di apartement?'' tanya Arlan tiba tiba.


''Sania akan selalu ikut kemana suami Sania pergi Mas? karena aku ingin berbakti kepada suami ku sampai nafas terakhir ku,''


''Kamu harus sembuh, biar aku selalu ada teman nya. Di kala aku sedih dan juga senang, kamu harus berjanji untuk sembuh demi aku dan semua keluarga kamu, mereka semua tak putus asal untuk melakukan yang terbaik untuk kamu Sania,'' Ucap Arlan dengan nada sedih nya, bahkan dia juga sudah meneteskan air mata nya saat ini. Sania yang tak tega melihat calon suami nya menangis hanya bisa menghapus air mata yang sudah mengalir di kedua pipi Arlan.

__ADS_1


__ADS_2