
''Sudahlah jangan ngomongin itu lagi, tidur saja sudah malam? besok kita harus pergi jalan jalan, masak iya cuma kak Karan saja yang pergi jalan jalan? kita juga bisa kali,'' tutur Riana yang di angguki oleh sania yang kini tengah merem melek karena sudah mengantuk.
Tanpa sadar Sania sudah terlelap di atas pembaringan, sedangkan Riana masih saja mengoceh tanpa melihat ke arah Sania yang sudah terlelap dalam tidurnya.
''Ya elah sudah ngorok saja nie cewek,'' gerutu Riana mengambil selimut dan langsung menyelimuti pada sangat adik sepupu yang sudah tepar, mungkin dia sedang bertemu dengan pujaan hatinya di alam mimpi, karena Sania terlihat sangat tenang dan sedikit senyuman di bibir merah muda nya.
Tanpa di sadari Riana menemukan beberapa obat yang terlihat di dalam tas Sania yang terbuka.
''Obat apa itu? kok banyak banget,'' pikir Riana sembari meraih beberapa obat yang ada di dalam tas selempang sepupu nya.
''Banyak banget sich?'' bisiknya lagi pada diri sendiri, lantas Riana mengambil obat obat tersebut satu persatu dalam varian warna nya, mungkin nama nya juga beda beda kali ya. ''Aku harus membawa ini ke apotik sekarang, dari pada aku mati penasaran gara-gara obat ini kan?'' gumamnya perlahan dan melangkah pergi mengambil jaket serta kunci mobilnya yang ada di atas nakas dan jaket nya sendiri di taruh di sanadaran kursi depan meja rias nya. Riana buru buru melangkah pergi, menuruni satu persatu anak tangga untuk sampai ke lantai dasar, di mana di sana sudah berkumpul semua nya di ruang keluarga.
''Mau kemana Riana?'' tanya tuan Arzan yang melihat puteri nya buru buru akan keluar rumah.
''Och... anu Pa? Riana pergi dulu ya, mau beli sesuatu di luar,'' jawab nya gugup.
''Kamu nggak sedang berbohong kan sama Papa sayang?'' tanya tuan Arzan lagi, membuat Riana berkata yang sesungguhnya, kalau dia akan pergi ke apotik untuk membeli obat sakit kepala.
''Riana pergi ke apotik dulu Pa, mau beli obat sakit kepala dulu di sana,'' jawab nya lalu mengembangkan senyuman nya.
''Kalau gitu kakak ikut dek?'' Ujar Rian yang emang sedang berada di sana juga.
''Nggak usah kak? aku pergi nya nggak lama kok cuma sebentar saja,'' tolak Riana halus, dan diapun akhirnya pergi begitu saja sebelum Papa nya menjawab ucapan puteri nya tersebut.
''Dasar bocah? belum juga di jawab sudah nyelonong saja tuh,'' gerutu tuan Arzan yang langsung mendapatkan pandangan mematikan dari sang istri.
__ADS_1
''Bukan nya itu puteri kamu, kamu yang selalu memanjakan dia selama ini, ya itu lah karena kamu terlalu memanjakan nya,'' Citra menyela perkataan suami-nya yang emang selalu memanjakan anak kembar nya, ketimbang anak bungsunya yang masih remaja tersebut.
''Mama selalu bener Pa, makanya kalau melawan Mama lebih baik mundur lebih cepat lebih baik, ketimbang panci panci melayang seperti karpet terbang Aladin,'' sambung Rian yang langsung di tertawakan semua oleh keluarga nya di ruang tamu.
''Kak Rian bisa saja dech, kalau di suruh ngelawak,'' sambung Roni adik bungsu si kembar Riana dan juga Rian.
''Ini beneran dek? coba saja kamu melawan apa yang di perintah Mama, kamu pasti terkena SP karena sudah menjawab semua ucapan beliau,'' balas Rian seraya nyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya kepada semua orang di sana.
''SP apa'an sich kak? jangan asal dech,'' sela Roni lagi ketika tidak tau yang di maksud SP itu apa.
''SP (suara cempreng),'' Ujar Rian yang kini tengah kabur dari lemparan bantal Mama nya.
''Sekarang kamu mulai berani sama Mama ya,'' Ucap nya sambil terus melempari bantal kepada Rian.
''Ampun Ma? tapi itu kenyataan nya kok, kenapa Mama harus marah sich? itu kan nyata real nya bukan editan juga,'' cerocos Rian yang kini tengah berlari ke tangga dan melangkah menuju ke lantai atas untuk merebahkan tubuh lelah nya yang sudah bermain kejar kejaran dengan sang Mama.
''Bagaimana kak hasilnya?'' tanya Riana setelah ia di panggil oleh sang apoteker tersebut.
''Obat ini untuk penyakit kanker darah kak? bisa juga di sebut leukimia,'' jawab nya ramah.
''Apa kakak tidak salah dengan obat ini, atau kakak salah mengecek tentang obat ini gitu kak?'' tanya Riana kembali karena dia masih nggak bpercaya dengan penjelasan sang apoteker.
''Saya sudah mengecek obat ini berulang-ulang kak? tapi hasilnya sama,'' balasnya. Sedangkan Riana kini sudah menutup mulutnya antara percaya dan tidak percaya nya karena dia berpikir Sania nggak sakit sama sekali.
'Apa mungkin saya salah dengar ya? atau mungkin juga aku harus menanyakan lagi obat obat ini ke apotik kain nya juga,' pikir Riana terus menolak untuk percaya kalau ternyata adik sepupu nya sedang sakit keras.
__ADS_1
''Kalau begitu terima kasih banyak kak?'' ujar Riana di sela sela kebingungan nya.
''Iya sama sama kak?'' bawang sang apoteker ramah dan juga sopan.
Riana melangkah pergi menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Dia melajukan kembali mobilnya untuk mendatangi apity yang masih buka dan juga mau menjawab keguna'an obat obat yang tengah ia pegang sekarang.
''Permisi kak? mau tanya obat ini untuk apa penyakit apa ya,'' tanya Riana ketika sudah memarkirkan mobilnya di depan apotik.
''Iya Nona,''Sang apoteker menjawab ramah ketika ada seseorang datang ke apotik nya, walaupun hanya sekedar bertanya saja harus di layani dengan sopan dan juga santun.
Sang apoteker mengambil beberapa butir obat yang ia pegang dengan di bungkus plastik kecil. Lagi lagi dia harus menunggu lama agar dia tau jawaban nya, sama atau nggak nya dengan apoteker yang tadi, Riana mulai merasa harap harap cemas karena diantak ingin mendengar perkata'an yang sama dengn apoteker yang tadi sebelum dia pergi ke apotik yang sekarang.
''Nona Riana?'' panggil seseorang yang beda dari yang tadi.
''Iya saya?'' jawab Riana dengan nada lirih nya.
''Obat obat ini untuk orang penyakit kanker darah yang di kenal nya dengan leukimia.'' Ujar nya membuat Riana menjadi lemas seakan tak bertulang, dia bersimpuh di lantai karena dia kini sudah yakin kalau kedua apoteker yang ia temui tak akan berbohong, dia menangis sehari jadinya di sana, membuat sang apoteker menghampiri nya karena penasaran.
''Kenapa Nona ini menangis setelah mendengar penjelasan dari kamu tadi?'' tanya sang apoteker yang tidak mendengar jelas apa yang di ucapkan oleh rekan kerja-nya tersebut.
''Mungkin dia syok, mendengar bahwa obat yang ia bawa adalah untuk penyakit leukimia,'' jawab nya mengambilkan air untuk Riana minum, agar Riana lebih tenang lagi setelah meminum air yang biasa kasih.
''Kenapa kakak menangis setelah mendengar penjelasan dari rekan saya,'' tanya salah seorang yang juga bekerja di sana
''Nggak apa apa kok kak? cuma syok saja mendengar nya, karena yang memiliki obat ini hanya bilang obat sakit kepala saja,'' gumam Riana dengan nada sedih nya.
__ADS_1
Semua yang bekerja di sana terdiam terpaku karena mendengar gumaman Riana barusan.