Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 186 Cerita sang sopir angkutan umum


__ADS_3

Setelah sampai di rumah nenek Beti Sania tidak pantas langsung pergi dari rumah sang nenek, dia masih menatap sekeliling rumah yang bisa di sebut gubuk karena sudah bolong sana sini.


'Tempat ini yang aku tinggali beberapa hari ini, tapi sekarang aku harus pergi meninggalkan kehidupan yang membuatku senang dan juga bahagia walau hidup dengan pasa pasan dan makan juga dengan seadanya,' Ucap Sania dalam hati.


''Kembalilah neng? kasian suami kamu sudah menunggu lama di rumah sakit, rawatlah dia dengan tulus dan tanpa pamrih, karena hanya ketulusan yang akan membawa kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat kelak,'' pesan nya kepada Sania, agar dia selalu ikhlas merawat suami nya.


Pikiran Sania menerawang jauh sebelum kejadian ini? tepat satu tahun sebelum nya adalah suami nya yang selalu merawat nya di kala dia sedang sakit dan selalu menemani dia ketika dia ingin pergi kemana saja, suami lah yang selalu ada untuk mengantar nya kemana pun dia ingin pergi. Apalagi kini suami nya yang tengah terbaring di rumah sakit namun dirinya tidak ada di samping nya, dan malah memilih pergi dari kehidupan suami nya.


''Nenek bener tidak apa apa kalau Sania tinggal?'' tanya Sania merasa berat untuk meninggalkan nenek Beti sendirian di rumah tuanya.


''Nenek nggak apa apa kok, cepat kembali lah? sebentar lagi mobil menuju kota akan segera datang,'' jawab nenek Beti mengantarkan Sania ke pinggir jalan raya yang tak terlalu lebar di depan rumah nya.


Sania hanya mengikuti yang di katakan nenek Beti saja, dia yang melihat mobil angkutan umum mendekat segera menyetop mobil tersebut, tak lupa juga Sania memberikan sedikit uang yang ia pegang sekarang.


''Nenek terimalah ini buat keperluan sehari-hari nenek, mungkin ini hanya sedikit tapi semoga bermanfaat ya Nek?'' kata Sania memeluk nenek Beti untuk yang terakhir kali nya.


''Terima kasih ya neng? jangan lupa jaga kesehatan dan juga kandungan kamu,'' pesan nya yang di angguki Sania, Sania melepaskan pelukan nya dan langsung masuk ke dalam mobil angkutan yang sudah ia stop tadi.


Mobil tersebut melaju perlahan sampai di jalan yang agak besar dan juga lebar, ''Mau kemana neng?'' tanya sang sopir ramah, karena memang mobil angkutan yang ia tumapangi saat ini tidak menyediakan kernet.


''Ke rumah sakit Pak pinggiran kota,'' jawab Sania tak kalah ramah nya.


''Neng sakit?'' tanya sang sopir ketika Sania menjawab kalau dirinya ingin ke rumah sakit.


''Suami saya yang ndi rawat di sana Pak, kemarin mengalami kecelaka'an,'' Ujar Sania membuat kening sang sopir mengkerut.

__ADS_1


''Kecelaka'an-?'' Ucap nya tak meneruskan ucapan nya.


''Iya Pak, Ayah mertua yang mengatakan itu,'' sahut Sania yang bingung karena sang sopir di depan nya tidak meneruskan ucapan nya. ''Apa Bapak tau sesuatu?'' tanya Sania yang sudah di landa kecemasan dan juga. rasa penasaran yang cukup tinggi.


''Tapi neng nggak boleh bawa bawa Bapak ke kantor polisi kalau Bapak tau kejadian itu,'' Ucap nya dengan rasa takut nya.


''Memang nya kenapa Pak?'' tanya Sania lagi.


''Sebenarnya itu bukan kecelaka'an neng? tapi sengaja di tabrak oleh mobil besar itu, sehingga orang yang ada di mobil warna putih itu mengalami kecelaka'an,'' jawab nya pelan, Bapak itu mengingat betul kejadian itu, kejadian di mana Arlan sengaja di tabrak dari depan, dengan alih alih mengalami kecelaka'an.


''Terus bagaimana kondisi auami neng sekarang?'' tanya sang sopir karena dialah yang membawa Arlan ke rumah sakit agar segera di tangani.


''Alhamdulillah sudah mendingan Pak, walaupun belum bisa berjalan dengan benar karena ada cedera di kaki nya,'' jelas Sania kepada sang sopir.


''Terima kasih banyak ya Pak? karena Bapak suami ku selamat,'' Ucap nya mengulas senyum di bibir nya.


''Sama sama neng? itu sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong, Bapak ikhlas kok menolong suami neng,'' selanya membelas senyuman Sania.


Tak berapa lama Sania sudah sampai di rumah sakit pinggiran kota, Sania segera memberikan ongkos kepada sang supir, Sania sengaja memberi uang lebih untuk rasa terima kasih nya kepada Bapak sopir tersebut.


''Ini kebanyakan neng?'' Ucap nya menyodorkan kembali uang yang sudah di beri Sania.


''Ini tidak seberapa Pak, ini rezeki untuk Bapak? karena Bapak sudah menolong suami saya kemarin,'' balas nya, Sania masih menyodorkan uang yang ia pegang.


''Terimalah Pak?'' tambah Sania dengan senyum manis di bibir nya.

__ADS_1


''Terima kasih banyak neng? sebenarnya Bapak ikhlas nolong suami neng?'' ucap nya yang terpaksa mengambil uang pemberian Sania.


''Terima kasih Pak,'' Ucap Sania yang kini mulai turun dari mobil angkutan umum, seseorang yang bertubuh tinggi tegap sudah berada di samping nya saat ini, membuat sang sopir bergidik ngeri melihat nya.


''Nona, tuan Karan dan yang lain nya sudah menunggu Nona di dalam,'' Ucap nya yang masih bisa di dengar oleh Bapak sopir angkutan umum tersebut.


Sania mengangguk dan berpamitan kepada sang sopir untuk segera masuk ke dalam rumah sakit. Dan benar saja di dalam ruangan suami nya sudah ada beberapa orang yang tengah mengobrol dengan suami nya di sana.


''Sayang kamu pulang?'' Ujar Bu Wati yang langsung menghambur ke arah Sania, Sania hanya membalas pelukan dari Bunda nya, orang yang ia kangeni selama seminggu ini, orang yang sudah mengandung dan melahirkan serta membesarkan dengan susah payah, namun Sania sudsh membuat air mata perempuan di pelukan nya menetes kembali akubat ulah nya yang pergi tanpa kabar, bahkan mobil nya saja sudah ia jual buat keperluan dia selama tinggal di desa, ya walaupun itu semua Sania gunakan untuk membeli baju untuk dia ganti selama tinggal dengan nenek Beti, namun siapa sangka Sania bisa bertemu kembali dengan sang Bunda dalam keadaan yang tengah hamil 4 minggu.


''Maafkan Sania Bunda,'' bisik Sania dengan nada lirih. Karena dia sudah tega meninggalkan sang Bunda.


''Tidak apa apa kok sayang? Bunda ngerti kok waktu itu kamu sedang emosi dan memilih pergi dari rumah Arlan? tapi harus nya kamu pulang ke rumah Bunda jangan sampai pergi jauh seperti ini, Bunda sedih ketika mendengar kamu pergi. Kamu masih belum pulih benar sayang, meski kamu sudah sembuh total bunda tidak akan rela melihat kamu pergi dari Bunda,'' jawab Bu Wati panjang lebar.


Semua orang yang ada di dalam ruangan hanya bisa melihat Bunda dan sang puteri yang masih asik berpelukan sehingga tidak sadar kalau dirinya kini menjadi tontonan keluarga nya.


''Bunda sudah dong acara mewek nya, kayak drama ikan terbang saja ada acara mewek mewek yang belum kelar,'' seru Karan, Sania yang mendengar nya menjadi kesal dan langsung meninju lengan kakak nya.


''Kak Karan jahat banget sich,'' sahut saniy dengan cemberut. Karan yang melihat adik nya merajuk segera meluk nya dengan erat seraya mencium puncak kepala Sania.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2