Sahabat Jadi Cinta

Sahabat Jadi Cinta
Bab 168 Roti kesukaan Arlan


__ADS_3

Di toko roti Bu Wati memilih beberapa macam titi pesanan menantunya yang tengah hamil, dan juga menaruh laki-laki nya yang sudah extra sabar menghadapi puteri kecil nya yang sangat egois itu.


''Bunda, yang seperti ini Mas Arlan suka juga nggak?'' tanya Sania menunjukkan salah satu kue yang ia pegang saat ini.


''Semua roti yang ada di toko roti ini suami kamu suka semua kok sayang? jadi kamu pilih saja sesuka hati kamu, mumpung kita masih berada di sini kan?'' jawab Bu Wati menatap wajah sumringah puteri kecil nya.


Sania memilih lebih banyak yang Bunda nya ambil, kini bukan hanya suami ny saja yang menyukai roti toti di depan nya, karena Sania pun juga ikutan suka, dari rasa nya, dan tekstur nya sangat enak saat di dalam mulut, bermacam rasa Sania ambil.


''Banyak banget belinya,'' tanya sang Bunda menatap kantong plastik yang di pegang puteri nya saat ini.


''Buat stok Bunda, rasanya ngangenin banget Sania sangat suka?'' jawab nya sambil menggigit sisa kue di tangan nya.


Ibu dan anak itu pun keluar dari toko roti, tak lupa juga Sania membelikan Pak Udin beberapa.


''Ini buat Pak Udin yang sudah setia menunggu kita dari sore sampai sekarang?'' celoteh Sania menyodorkan kantong plastik yang berisi kue.


''Terima kasih Nona,'' Ucap Pak Udin mengambil dengan sangat bahagia.


''Sama sama Pak?'' jawab nya ada senyuman di bibir gadis yang kini tengah di fonis kanker tersebut.


'Semoga hamba selalu bisa berbagi seperti sekarang ini ya Allah, hamba akan selalu menyempatkan untuk selalu berbagi kepada orang orang yang membutuhkan uluran dari kedua tangan ku, maka dari itu? cukupkan lah hamba untuk selalu bisa berbagi kepada semua nya,' gumam nya dalam hati.


Sania menatap Bunda nya yang juga mengembangkan senyuman nya ke arah nya, Bu Wati juga bahagia melihat puteri kecil nya bahagia seperti malam ini.


''Kamu harus selalu jadi istri yang patuh dan ta'at akan agama, dan juga kepada suami mu sayang? hanya itu yang ibu minta sekarang?'' pesan nya, lalu mengusap lembut bahu puteri kecil nya.


Tak terasa mereka semua kini sudah berada di depan apartemen Arlan. Sania membuka pintu mobil untuk nya dan juga sang Bunda yang ia sayangi dan juga ia kasihi.


''Ayo pak masuk?'' ajak Sania kepada Pak Udin yang tak lain supir pribadi Bunda nya.

__ADS_1


''Saya disini saja Nona?'' tolak nya dengan sopan.


''Ya sudah kalau begitu kami ke atas dulu Pak,'' Ucap Sania lagi, sembari memegang lengan Bunda nya untuk masuk ke loby apartemen suami nya.


Sania menekan tombol lift untuk menuju ke lantai apartemen Arlan, selama di dalam lift, Sania masih saja tetap merangkul lengan Bunda nya sampai akhirnya lift berhenti dan Sania dan juga Bunda nya melangkah keluar menuju apartemen Arlan, di sana Arlan sudah menyediakan camilan untuk kedatangan mertua nya yang begitu ia sayangi.


''Assalamu'alaikum,'' Sania dan Bunda Wati mengucapkan salam ketika memasuki apartemen nya.


''Waalaikum salam,'' jawab Arlan mendongak kan kepalanya menatap ke asal suara.


Sania mengulurkan tangan nya seraya mencium punggung tangan suami nya, ''Ini untuk Mas,'' kata Sania seraya mengulurkan tangan nya yang tengah memegang kantong plastik berisi kue yang ia tadi beli di toko roti yang Bunda nya rekomendasi kan.


''Apa ini sayang?'' tanya Arlan bingung, secara kantong plastik yang di berikan Sania lumayan besar, jadi Arlan penasaran dengan isi nya.


''Ini oleh oleh dari Bunda,'' sela sang Bunda di tengah tengah Arlan sedang berpikir apa isi kantong plastik yang ia terima dari istri nya.


Arlan menghampiri sang Bunda dan mencium punggung tangan mertua nya yang tengah berdiri di belakang Sania puteri nya.


''Bunda akan selalu ingat apa yang kamu suka, makanya Bunda ajak puteri kecil Bunda untuk mampir di toko roti itu tadi,'' sahut sang Bunda panjang lebar.


''Bunda duduk dulu, Arlan bikinin minuman dulu buat Bunda,'' Ujar Arlan setelah mengingat kalau Bunda nya belum ia bikinin minuman.


''Sudah telat Mas?'' sahut Sania yang keluar dari dapur dan sudah membawa nampan yang berisi 3 gelas minuman.


''Kirain kamu ada di dalam kamar bersih bersih?'' kata Arlan menaik turunkan alis nya.


''Mana bisa aku bersih bersih, sedangkan Bunda ada di sini, aku nggak mau meninggalkan Bunda hanya berdua dengan mu saja,'' sela Sania terus melangkah ke arah Bunda nya yang tengah duduk di sofa.


''Bunda, maaf ya? Mas Arlan memang seperti itu sama Sania, sering jail dan suka ledekin Sania juga,'' Ucap Sania mengadu kepada Bunda nya.

__ADS_1


''Nggak Bunda, semua yang di katakan puteri kecil Bunda semua nya nggak benar, yang ada dia sangat nakal sama Arlan selama ini, dia suka ngeyel kalau Arlan bilang sesuatu sama dia, dan apalagi kalau di suruh minum obat tepat waktu, pasti dia nggak pernah mau dan selalu punya alasan inilah itulah??'' elak Arlan dan dia juga mengadu sikap istri kecil nya kepada Bunda nya juga.


''Jadi kalian semua yang nakal, sini biar Bunda menarik telinga kalian masing-masing,'' potong Bunda Wati dan mengulas senyum di bibir tuanya.


Bunda Wati tidak menarik telinga Sania dan juga Arlan seperti apa yang di katakan barusan kepada kedua nya, melainkan Bunda Wati memeluk mereka di samping kanan dan di samping kiri nya.


''Bunda sayang sama kalian, jadilah kalian keluarga yang saling melengkapi dan saling mengerti perasa'an satu sama lain nya,'' pesan Bunda Wati kepada kedua anak dan juga menantu nya itu.


''Insya Allah, do'akan kami berdua Bunda, semoga kita menjadi pasangan yang selalu melengkapi satu dan lain nya, agar kami terlihat sempurna di mata orang lain, mungkin orang lain tak ada lagi yang menyepelekan kita berdua lagi, iya kan sayang,'' sahut Arlan panjang lebar, dan sekaligus meminta persetujuan istri kecil nya.


Arlan menggenggam tangan istri kecil nya, ''Ya sudah, kalau gitu Bunda pamit dulu ya, kasian bukil di rumah menunggu pesanan nya,'' bisik Bunda Wati kepada Arlan dan Sania.


''Tapi Bunda belum menghabiskan minuman nya?'' rengek Sania yang tak ingin Bunda nya pergi secepat itu dari apartemen nya.


''Tapi kasian juga kakak ipar kamu yang tengah menunggu kedatangan Bunda sayang? apa kamu mau, ponakan kamu lahir dengan ngeces,'' kata Bunda Wati menatap ke arah puteri nya.


''Sudahlah sayang? biarkan Bunda pulang malam ini, besok kita akan ke rumah Bunda kan seperti kemarin kemarin nya lagi,'' sela Arlan yang langsung di angguki oleh istri kecil nya.


Akhirnya Sania dan Arlan memilih mengantarkan Bunda nya sampai ke loby apartemen nya, Sania menunggu sampai mobil yang dintumpangi Bunda nya menghilang di kegelapan malam dan juga di keramaian mobil mobil lain yang masih terlihat ramai di depan apartemen suami nya itu.


Arlan mengajak Sania untuk kembali ke atas dan mengajak nya untuk segera tidur setelah sampai di dalam apartemen nya. Karena hari semakin malam dan istri kecil nya harus beristirahat, sejak sore tadi pastinya Sania tidak bisa tiduran karena dia yang ikut Ibunda nya ke majlis.


''Ayo tidur sayang? kamu pasti capek kan,'' Ujar Arlan yang sedang merangkul pinggang istri nya.


''Sania masih mau makan roti yang tadi Sania beli itu Mas?'' jawab nya lembut, membuat suami nya merasa senang mendengar nya.


''Memang, kamu nggak capek setengah hari hanya duduk saja di sana lho,'' sela Arlan yang di respon dengan gelengan kepala nya.


''Sania tidak merasa capek sama sekali Mas, bahkan di sana Sania sangat senang mendapatkan saudara baru di dalam majlis tersebut,'' gumam nya penuh dengan semangat ketika menceritakan kepada suami nya.

__ADS_1


''Alhamdulillah kalau kamu bahagia sayang, Mas juga senang mendengar nya, jadi kamu punya kegiatan yang bahkan sangat bermanfaat untuk kamu saat ini, tapi sekarang kamu tidur lah,'' kata Arlan lembut.


Sania masih mengunyah roti yang mulai saat ini akan menjadi roti kesuka'an suami nya dan akan menjadi kesuka'an dia juga.


__ADS_2