
Tepat jam 10 pagi Cinta bersama dengan suaminya, tak lupa juga sang puteri kecilnya Mikaela datang ke rumah keluarga Arzan Narendra.
Mikaela nampak begitu senang saat sang ayah mengatakan akan kerumah tantenya, yakni Citra kakak Cinta.
Mikaela turun dari mobil berlarian menuju pintu utama rumah keluarga Narendra, ''Assalamu'alaikum tante,'' Ucap Mikaela seraya mengetuk pintu besar yang ada di depannya.
''Waalaikum salam,'' jawab seorang wanita paruh baya yang membuka pintu tersebut.
''Ech, nona Mikaela?'' sapa wanita paruh baya itu pada gadis cilik yang berdiri di depan pintu.
''Iya, tante sama kakak ada nggak?'' tanya Mikaela polos seraya melangkah kan kakinya masuk ke rumah besar sang tante.
''Nyonya sama nona ada di dalam Non?'' kata Bi Sum saat melihat ponakan nyonya nya celingukan.
Mikaela segera berlari menuju ke ruangan di mana yang sering di tempati oleh tante beserta kakak sepupu nya itu.
Bi Sum nampak membungkukkan sedikit badan nya ketika Cinta dan Fabian memasuki rumah belakangan.
''Pagi nyonya, tuan?'' sapa Bi Sum. 'Padahal kan sekarang hampir siang, bukan pagi lagi,' gumam Cinta pelan hanya dia saja yang mendengar gumaman tersebut.
Di dalam sana Mikaela sudah mengoceh bersama dengan Riana dan Andrian. Sedangkan ke empat orang dewasa tersebut menjauh dari anak anak kecil yang sedang berisik, karena suara cempreng dari Mikaela.
Mereka mengobrol di ruang tengah membahas mendiang kakak nya dan nasib kedua anak nya dan juga istri dari mendiang sang kakak.
__ADS_1
''Fabian! bagaimana?'' tanya Mas Arzan membuka obrolan nya.
''Cinta sudah tau Mas? Papa sudah aku kasih tau, dia sangat terpukul dengan berita kematian kak Candra, dan beliau bilang akan menebus semua kesalahan nya pada kak Candra.'' jelas Fabian menjawab apa yang di tanya kan mas Arzan.
''Bian? apa kamu membawa bukti bukti kalau itu benar-benar kak Candra?'' tanya kak Citra, yang masih berharap kalau kakak nya masih hidup dan sedang merantau di negeri orang.
Fabian mengeluarkan dokumen yang ia bawa tadi dari rumahnya, dia lantas memberikan itu kepada kak Citra, sedangkan Cinta sudah melihat itu semua semalam, karena tanpa sepengetahuan Fabian dokumen itu jatuh dari tas kerja suaminya, awalnya Cinta sangat syok melihat dokumen tersebut, namun setelah Fabian menjelaskan itu semua padanya, dia bisa menerima dengan ikhlas.
Kak Citra membolak balikkan dokumen tersebut, dan ternyata harapan nya pupus begitu saja, ketika melihat dengan sangat jelas akta kematian kakak nya yang selama ini ia cari, luruh sudah air matanya membanjiri kedua pipi mulusnya, Mas Arzan hanya mengelus punggung kak Citra pelan, agar tangisan-nya berhenti.
''Mas? ternyata ini semua bukan mimpi, ini sekua nyata Mas?'' lirih nya masih dengan tangis nya.
''Sudah lah? kamu yang sabar ya, mungkin ini sudah takdir Allah, dan kita masih harus bersyukur karena kita masih bisa menemukan anak anak dari kak Candra, mungkin akan sulit untuk menjelaskan pada mereka semua, tapi kita jangan sampai putus asa ya, kita akan membujuk Karan, Sania dan juga Ibu nya, agar bisa memaafkan kita semuanya?'' Ucap Mas Arzan panjang lebar, seraya memegang kepalaku yang di taruh di dada bidangnya.
''Apa mereka mau memaafkan kita mbak? mengingat sikap Papa yang sudah bikin Ibu nya Karan mungkin sakit hati,'' sambung Cinta dengan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
''Kalau begitu, kita berangkat sekarang, takutnya kalau siang nanti Karan akan pergi ke restoran,'' seru kak Citra mengusap air matanya yang masih menetes.
''Ya sudah ayo mbak? Cinta juga ingin cepat cepat melihat istri dari mendiang kak Candra?'' Ujar Cinta senang, dia langsung beranjak begitu saja dari tempat duduk nya, dan segera menghampiri puteri beserta ponakan nya yang sedang asik bersenda gurau dintaman belakang.
''Sayang? ayo kita ke rumah kakak?'' seru Cinta memanggil puteri nya.
''Kakak siapa Ma?'' tanya Mikaela yang rasa ingin taunya sudah keluar.
__ADS_1
''Ayo kita ikuti saja Mama kamu dulu, jangan banyak bertanya,'' sambung Andrian dan memegang tangan Mikaela dan membawa pada Mama nya yang sudah menunggu di pintu tengah.
Mereka semua masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan sesari tadi oleh sang sopir, namun Mas Arzan lebih memilih membawa mobilnya itu sendiri.
Mas Arzan menyuruh sang sopir untuk beristirahat agar tubuhnya fit kembali. Ya sang sopy saat ini sedang tidak enak badan? tapi beliau masih menyiapkan mobil untuk tuan nya.
''Lebih baik Bapak istirahat saja sekarang? kalau Bapak sakit kasian keluarga nya di kampung, harus mengurusi Bapak, atau bahkan mereka menghawatirkan keada'an Bapak di sini,'' ujary mas Arzan tegas.
Mas Arzan bukannya marah pada sang sopir, namun itu lebih ke rasa perhatian nya pada semua orang yang bekerja di rumah besar nya.
''Iya tuan?'' jawab sang supir, mobil Mas Arzan mulai keluar dari halaman yang begitu luas, dan di depan sana sudah ada dua orang penjaga yang dengan setia membuka pintu gerbang dan menutup nya kembali setelah sepeninggal tuan nya.
''Kayak nya tuan buru buru dech,'' pikir penjaga yang se usia dengan Mas Arzan.
''Nggak tau bro? lebih baik kita lanjut ngopi saja, jangan pikirin tuan yang sedang bahagia untuk saat ini?'' jawabnya enteng.
Akhirnya kedua penjaga tersebut kembali ke pos nya dan menyesap kembali kopi yang sempat ia tinggal pergi. Dengan gaya merem melek satu penjaga itu bertingkah, layaknya sedang meminum minuman yang ber alkohol.
''Gayamu Man? kayak preman gadungan tau nggak!'' celetuk nya, memukulkan topi yang ia pakai.
''Apa sich lho bro,'' tangkis Paiman dengan tangan kiri nya.
''Gaya lho kayak orang nyungsep di hotel tau nggak?''
__ADS_1
''Bodo ach, aku pengen bergaya layaknya orang mabuk saja dech,'' Paiman bangkit dari duduknya, dan berjalan dengan gontai layaknya orang mabuk beneran.
Wanita tua yang berada di belakang Paiman terkejut melihat Paiman yang sudah jalan sembrawut, dia berjalan tak lurus pada jalan nya, karena melihat Paiman sudah mabuk wanita tua tersebut menghampiri Paiman dan memukul bahu kiri nya, dia juga memarahi Paiman habis habisan. Mungkin dia mengira Paiman mabuk beneran? asli akting Paiman patut di acungi dua jempol dech.