
Handphone Pinky terus saja berdering, namun ia sama sekali tak mau mengangkat nya, jangan kan mengangkat nya? melihat saja sudah malas, Pinky malah meletakkan handphone nya ke laci meja nya, karena menurut dia sangat lah berisik.
''Kurang kerjaan banget tu orang,'' gerutu Pinky meraih pensil warna yang berada tak jauh dari tangan nya, Pinky mulai memberikan warna warna yang cerah di setiap gambar hasil rancanhan nya.
Tepat jam sepuluh Pinky baru menyelesaikan pekerjaan baru nya itu, Pinky merentangkan kedua tangan nya agar otot otot nya tidak kaku lagi.
''Rupanya sudah segini, pantesan aku mulai mengantuk,'' gumam nya beranjak dari duduk nya dan berjalan ke kamar pribadi nya yang berada di dalam ruangan kerja nya, malam ini Pinky memilih untuk tidur di butik nya. Karena seperti biasa nya, sang mama tak pernah menanyakan keberadaan sang puteri walau hanya sekedar basa basi saja, untuk menanyakan keberadaan nya ataupun tidur di mana.
'Gini banget hidupku sekarang ya Allah? ikhlaskan hamba untuk menjalani semua cobaan cobaan yang engkau berikan,' Ucap Pinky dalam hati. Pinky merebahkan tubuh lelah nya di kasur mini nya, walau kasur yang berada di dalam ruangan Pinky tak sebesar kasur di rumah nya, namun kasur inilah yang selama ini menemani setiap ia sedang sedih atau gundah gulana.
Pinky menyalakan handphone nya kembali, dan dia di buat tercengang ketika melihat panggilan dan bebey chat yang masuk ke handphone nya.
''Benar benar gila nich orang, ngapain juga nelfon aku sampai sebanyak ini coba,'' gumam Pinky melihat 60 panggilan yang masuk ke handphone nya.
''Sudah lah gue cas dulu, lagian gue juga sudah ngantuk banget malam ini,'' Ucap Pinky mematikan lagi handphone nya dan mencari charger untuk mengecas handphone nya tersebut.
Pinky membaringkan tubuh lelah nya, dalam sekejab saja aku sudah terbang ke alam Nirwana, karena saking capek nya.
Sedangkan di tempat lain seseorang terus menatap handphone nya dengan resah. ''Kemana sich tuh orang, video call nggak di angkat, di chat juga nggak di balas, awas saja besok!'' seru Karan membanting handphone nya di atas kasur nya. Karan membuka kaos nya dan dia pun membaringkan tubuh kekar nya di kasur king size nya.
__ADS_1
Karan memejamkan matanya, namun sebelum dia benar-benar memejamkan matanya, Karan berkata. ''Semoga saja aku bisa bertemu dengan Pinky di mimpi ku,'' gumam nya pelan dan menutup tubuh nya dengan selimut tebal nya, karena dia saat ini sedang bertelanjang dada, tanpa menggunakan sehelai baju di tubuh nya.
...****************...
Pagi pagi sekali aku merasakan lapar yang membuat tidur ku terganggu karena rasa lapar tersebut, aku mengucek kedua mataku dengan jari jari besar ku, ku singkap selimut yang kini masih berada di atas tubuh ku, dan dengan segera aku memakai kaos yang semalam aku lepas dan aku lempar sembarangan, aku berjalan menuruni anak tangga menuju ke dapur, dan di sana ternyata sudah ada Ibu yang sedang berkutat dengan alat alat masak. Aku menghentikan langkah ku dan aku berpikir sejenak, ''Ternyata Ibu masih seperti dulu, dia tidak pernah mengandalkan asisten rumah untuk membuat sarapan pagi untuk ku dan juga Sania,''
Akupun melanjutkan langkah ku dan menghampiri Ibu yang sedang berada di dapur dengan di temani sang asisten. ''Ibu aku lapar?'' Ucap ku ketika berada di samping Ibu nya.
''Karan? kamu sudah bangun jam segini,'' tanya sang Ibu menghampiri ku yang berada tak jauh dari nya.
''Iya Bu? aku lapar, masakan Ibu sudah mateng atau masih belum bisa di makan, perut ku sakit sekali karena saking lapar nya,'' gumam ku memegang perut sixpack ku.
dulu agar perut kamu tidak terlalu sakit,'' jawab sang ibu mengambil gelas dan menyendok susu yang biasa aku minum dulu, di tuang nya air hangat dengan di tambah air dingin agar susu tersebut tidak terlalu panas ketika aku minum.
''Ini di minum dulu,'' ujar Ibu menaruh gelas yang berisi susu di depan ku.
''Emang kamu semalam nggak makan?'' tanya sang Ibu lagi tanpa menatap ke arah ku.
''Karan makan kok Bu? cuma mungkin ini sudah kebiasaan Karan dulu ketika berada di luar negeri yang suka makan di waktu jam segini, tapi mau bagaimana lagi Bu,'' jawab ku dengan lirih.
__ADS_1
''Kalau kamu lapar jam segini, kamu makan apa di sana?'' tanya Bu Wati yang kini sudah meletakkan piring berisi nasi goreng di hadapan ku.
''Ya paling mie instan, atau makanan ringan lain nya sebagai peng ganjal sementara,'' gumam ku yang kini sudah menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut ku, namun aku malah membuat Ibu menjadi sedih, 'Harus nya aku nggak usah bercerita sama Ibu, huchh...lagian nich mulut lemes banget ketika bersama Ibu,' ucap ku dalam hati.
''Ibu nggak usah khawatir dan jangan sedih juga ya, Karan kuat kok? buktinya Karan sehat dan punya tubuh sebagus ini sekarang,'' aku memegang tangan yang kini sudah mulai terlihat keriput, tangan yang selalu membuatku aman dan tentunya nyaman juga, aku sangat bersyukur mempunyai seorang Ibu yang berhati malaikat, walaupun wanita ini di selalu di rwndahkan oleh tetangga tetangga ku dulu, namun Ibu selalu menampakkan ketegaran nya walau semua itu palsu di hadapan putera dan juga puteri nya.
''Makan lah? Ibu akan melanjutkan pekerjaan Ibu dulu,'' Ucap Bu Wati yang kini sudah berdiri dan sedang berjalan menuju dapur, aku hanya bisa menghela nafas dengan kasar atas semua ucapan ku yang barusan, aku merutuki kesalahan ku yang menceritakan kehidupan ku di sana.
Aku sudah menyelesaikan makanan ku tanpa tersisa walau hanya satu butir pun, aku beranjak dari duduk ku dan berjalan ke dapur dengan piring kotor yang aku pegang, ''Mau lagi?'' tanya Ibu yang menghampiri ku dengan membawa nasi goreng di wadah yang besar.
''Tidak Bu, Karan sudah sangat kenyang? terima kasih masakan Ibu sangat enak,'' jawab ku mencium kening orang yang sudah mengandung dan merawatku hingga kini. Kalau di hitung berapa banyak uang yang harus keluarkan untuk membayar semua kebaikan Ibu selama ini, 'Maaf kan Karan Bu, Karan belum bisa bahagiain Ibu, Karan juga masih banyak salah sama Ibu, tapi aku harap? aku bisa membahagiakan kamu secepatnya Ibu.' gumam ku lirih dan mencoba untuk tetap tersenyum walau batinku sedang sedih, demi melihat senyuman wanita terhebat ku.
.
.
.
.
__ADS_1